Merpati Mungkin Punya “Kompas” di Hati, Bukan di Otak

Penelitian terbaru menemukan bahwa sel-sel kekebalan di hati merpati mungkin membantu burung ini merasakan medan magnet Bumi saat mencari jalan pulang.


Penelitian terbaru menemukan bahwa sel-sel kekebalan di hati merpati mungkin membantu burung ini merasakan medan magnet Bumi saat mencari jalan pulang.Ilustrasi dibuat oleh AI. 


Ringkasan

  • Ilmuwan menemukan sel kekebalan bermagnet di hati merpati yang tampaknya berperan dalam navigasi.
  • Merpati yang kehilangan sel tersebut gagal menemukan jalan pulang saat langit mendung, tetapi tetap berhasil saat cuaca cerah.
  • Temuan ini berpotensi mengubah pemahaman ilmuwan tentang cara hewan merasakan medan magnet Bumi.


KETIKA mendung, saat Matahari tersembunyi di balik awan dan tanda-tanda visual menjadi samar, seekor merpati pos masih mampu terbang puluhan kilometer untuk kembali ke kandangnya. 


Kemampuan luar biasa ini telah membuat para ilmuwan penasaran selama puluhan tahun: bagaimana burung itu mengetahui arah pulang ketika petunjuk di sekelilingnya nyaris hilang?


Selama bertahun-tahun, berbagai teori bermunculan. Ada yang menduga jawabannya tersembunyi di mata burung, ada pula yang mencari sensor magnetik di paruh atau otaknya. 


Kini, sebuah penelitian internasional menghadirkan kandidat yang jauh lebih tak terduga.


Bukan mata. Bukan otak. Melainkan hati.


Tim peneliti dari University of Bonn, University Hospital Bonn, dan Max Planck Institute of Animal Behavior menemukan, sel-sel kekebalan khusus di hati merpati mungkin berfungsi sebagai sensor medan magnet Bumi. 


Jika temuan ini terbukti melalui penelitian lanjutan, pemahaman kita tentang navigasi hewan bisa berubah secara mendasar.


Kemampuan hewan untuk menemukan arah merupakan salah satu fenomena paling menakjubkan di alam. 


Burung migran dapat menempuh ribuan kilometer melintasi benua. Penyu laut mampu kembali ke pantai tempat mereka menetas. Bahkan beberapa serangga diketahui memanfaatkan medan magnet Bumi untuk bernavigasi.


Meski bukti bahwa banyak hewan menggunakan "kompas magnetik" sudah lama terkumpul, ilmuwan masih kesulitan menjawab pertanyaan mendasar: di bagian tubuh mana sensor itu berada?


Berbeda dengan penglihatan yang memiliki mata atau pendengaran yang memiliki telinga, sistem pendeteksi medan magnet belum pernah ditemukan secara meyakinkan.


"Kami sama sekali tidak menduga sel kekebalan bisa bertindak sebagai sensor medan magnet," kata Christian Kurts, salah satu peneliti yang terlibat dalam studi tersebut.


Dalam penelitian ini, para ilmuwan menemukan populasi makrofag, yaitu sel kekebalan yang bertugas membersihkan sel-sel darah merah yang sudah tua.


Makrofag tersebut menyimpan banyak zat besi hasil pemecahan hemoglobin. Besi itu kemudian tersusun dalam partikel-partikel oksida berukuran nano yang membuat sel menjadi superparamagnetik.


Sederhananya, sel-sel tersebut dapat bereaksi terhadap medan magnet layaknya magnet sangat kecil.


Menariknya, sel serupa sebenarnya pernah ditemukan pada limpa manusia dan tikus. Namun sebelumnya tidak ada yang menyelidiki kemungkinan bahwa mereka memiliki peran dalam navigasi.


Menurut peneliti, jaringan hati merpati menunjukkan respons magnetik yang sangat kuat dibandingkan bagian tubuh lain yang diperiksa.


Untuk menguji dugaan tersebut, para ilmuwan melatih 34 merpati pos menempuh rute sepanjang 19 kilometer.


Burung-burung itu kemudian dibagi menjadi dua kelompok. Salah satu kelompok menerima perlakuan yang menghilangkan sebagian besar makrofag magnetik di hati mereka.


Setelah itu, seluruh merpati dilepaskan dalam kondisi langit mendung.


Hasilnya sangat mencolok. Semua merpati dalam kelompok kontrol berhasil kembali ke kandang dalam waktu kurang dari 70 menit.


Sebaliknya, tidak satu pun merpati yang kehilangan makrofag magnetik berhasil pulang pada hari itu. Mereka terbang ke berbagai arah yang tampak acak dan kehilangan orientasi.


Namun ketika burung-burung yang sama diuji kembali pada hari yang cerah, hasilnya berubah drastis. Mereka mampu pulang seperti biasa.


Temuan tersebut menunjukkan bahwa sistem navigasi berbasis hati kemungkinan hanya digunakan ketika petunjuk visual, terutama posisi Matahari, tidak tersedia.


Para peneliti menduga informasi mengenai medan magnet tidak dikirim oleh satu sel saja.


Sebaliknya, jutaan makrofag bekerja bersama-sama menghasilkan sinyal kolektif yang kemudian diteruskan ke otak melalui saraf vagus, jalur komunikasi penting yang menghubungkan berbagai organ tubuh dengan sistem saraf pusat.


Martin Wikelski dari Max Planck Institute of Animal Behavior mengatakan bahwa apa yang selama ini tampak seperti "insting" pada burung mungkin sebenarnya memiliki dasar fisik yang nyata.


Jika hipotesis ini benar, maka navigasi hewan tidak hanya melibatkan sistem saraf dan indera tradisional, tetapi juga melibatkan kerja sama yang rumit antara sistem kekebalan tubuh, metabolisme zat besi, dan otak.


Para peneliti menekankan bahwa temuan ini masih perlu diuji dan direplikasi oleh kelompok ilmuwan lain. 


Namun jika hasilnya bertahan dalam penelitian lanjutan, penemuan tersebut dapat menjadi salah satu terobosan terbesar dalam studi magnetoresepsi—kemampuan organisme untuk merasakan medan magnet.


Selama puluhan tahun, ilmuwan berusaha mencari sensor magnetik yang tersembunyi di tubuh hewan. 


Kini, jawabannya mungkin tidak berada di organ yang selama ini dicurigai, melainkan pada sel-sel kekebalan sederhana yang bekerja diam-diam di dalam hati.


Fenomena ini juga menunjukkan bahwa alam sering kali menyimpan solusi di tempat yang paling tidak terduga. 


Sesuatu yang awalnya hanya dianggap bagian dari sistem imun ternyata mungkin membantu burung membaca peta tak terlihat yang membentang mengelilingi planet kita.


Disadur dari Sci.News - Pigeons May Sense Earth’s Magnetic Field Using Superparamagnetic Immune Cells in Their Livers.



Post a Comment

Lebih baru Lebih lama