Riset terbaru berhasil mengidentifikasi pola gelombang otak unik di area talamus yang menjadi bukti fisik penentu status kesadaran manusia.
Ringkasan
- Peneliti menemukan gelombang otak cepat di talamus yang muncul saat seseorang sadar atau sedang bermimpi dalam tidur REM.
- Aktivitas ini hampir tidak ditemukan selama tidur non-REM yang tingkat kesadarannya lebih rendah.
- Temuan tersebut bisa membantu ilmuwan memahami asal-usul kesadaran dan mengembangkan terapi bagi pasien dengan gangguan kesadaran.
KITA bisa berpikir, merasakan emosi, dan menyadari keberadaan diri kita sendiri. Kita sadar.
Namun, jika ditanya di mana letak persisnya "kesadaran" itu di dalam tubuh, para ilmuwan pun sempat dibuat pusing selama berabad-abad.
Pengalaman subjektif terasa begitu abstrak untuk dilacak secara fisik. Nah, sebuah penemuan yang tidak disengaja dalam sebuah riset medis baru-baru ini berhasil menyibak tabir misteri tersebut.
Riset ini dipimpin oleh ahli neurosains kognitif, Tobias Staudigl, dan ahli neurologi, Elisabeth Kaufmann, dari Ludwig Maximilian University di Munich, Jerman.
Awalnya, mereka sedang merekam aktivitas otak pasien epilepsi yang dipasangi elektroda untuk terapi stimulasi otak dalam (deep-brain stimulation).
Mereka sama sekali tidak berencana memecahkan teka-teki kuno tentang kesadaran manusia.
Namun, karena elektroda tersebut ditanam tepat di dalam talamus, bagian otak yang berfungsi menyalurkan sinyal sensorik dan mengatur persepsi, mereka justru mendapatkan "bonus" data yang luar biasa.
Hasil studi monumental ini kemudian resmi diterbitkan dalam jurnal Nature Human Behavior.
Saat mengamati pasien yang sedang dipantau, Staudigl dan Kaufmann melihat adanya aktivitas misterius di talamus yang belum pernah diketahui sebelumnya.
Ketika pasien berada dalam kondisi terjaga (sadar penuh) atau ketika mereka masuk ke fase tidur REM (Rapid Eye Movement), talamus tiba-tiba memancarkan gelombang cepat dengan frekuensi tinggi sekitar 19–45 Hz.
Sebagai informasi, tidur REM adalah fase tidur di mana mata kita bergerak cepat dan kita mengalami mimpi yang sangat nyata atau vivid dream.
Para ilmuwan mengategorikan fase tidur REM ini sebagai kondisi "sadar" karena otak aktif memproses visual.
Sebaliknya, saat pasien masuk ke fase tidur non-REM (NREM) alias tidur nyenyak tanpa mimpi, gelombang cepat ini mendadak hilang. Talamus justru memancarkan gelombang lambat (11–17 Hz) yang disebut sleep spindles.
Sinyal lambat ini bertugas mengunci otak agar tidak merespons sekitar dan fokus menyimpan memori.
Absennya gelombang cepat 19–45 Hz pada fase inilah yang menjelaskan mengapa kesadaran kita seolah "padam" saat tidur tidur nyenyak tanpa mimpi.
"Penemuan pola gelombang unik di talamus pusat yang membedakan kondisi sadar ini membuka jalan baru untuk meneliti bagaimana talamus berkontribusi pada kesadaran manusia," ungkap peneliti dalam laporan mereka.
Berkat elektroda yang terpasang, tim peneliti berhasil menemukan bahwa pancaran gelombang cepat di talamus ini berpasangan sangat erat dengan gerakan bola mata yang terjadi selama tidur REM.
Menariknya lagi, sebagian besar frekuensi gelombang otak yang terdeteksi saat kita bermimpi di fase REM ternyata sangat mirip dan tumpang tindih dengan gelombang otak ketika kita sedang bangun di kehidupan nyata.
Meskipun saat tidur REM tubuh kita lumpuh sementara dan mata kita tertutup, talamus tetap bekerja keras memproses informasi dengan cara yang alternatif. Mengapa otak melakukan hal ini?
Para peneliti menjelaskan bahwa kemiripan gelombang ini memperkuat hipotesis lama: tidur REM adalah momen di mana otak sedang melakukan simulasi pengalaman.
Otak mencoba mereka ulang tindakan atau kejadian seperti yang terjadi di dunia nyata.
Fakta ini juga didukung oleh riset pada hewan pengerat sebelumnya, di mana gerakan mata tikus yang sedang tidur ternyata memengaruhi arah navigasi kepalanya, sama persis seperti saat mereka terjaga dan menengokkan kepala.
"Tidur REM menghasilkan mimpi nyata yang melibatkan pengalaman sadar," jelas peneliti.
Karena gelombang cepat talamus ini hanya spesifik muncul pada fase bermimpi dan saat terjaga, hal ini menjadi bukti kuat bahwa kedua kondisi tersebut memiliki tingkat akses kesadaran fisik yang serupa.
Disadur dari Popular Mechanics - Scientists May Have Pinpointed Physical Evidence of Our Consciousness.

إرسال تعليق