Dulu, Kalajengking Bisa Sebesar Anjing, Panjang Capitnya hingga 16 Centimeter

Sekitar 415 juta tahun lalu, ketika kehidupan darat masih sangat sederhana, seekor kalajengking raksasa sepanjang lebih dari satu meter berkeliaran di Bumi.


Sekitar 415 juta tahun lalu, ketika kehidupan darat masih sangat sederhana, seekor kalajengking raksasa sepanjang lebih dari satu meter berkeliaran di Bumi.Ilustrasi dibuat oleh AI berdasarkan karya Franz Anthony/Natural History Museum


Ringkasan

  • Fosil Praearcturus gigas dipastikan sebagai kalajengking setelah lebih dari 150 tahun menjadi bahan perdebatan ilmiah.
  • Hewan ini diperkirakan memiliki panjang lebih dari satu meter, menjadikannya kalajengking terbesar yang pernah diketahui.
  • Temuan ini membantu ilmuwan memahami masa awal hewan-hewan yang bertransisi dari laut ke daratan.


BAYANGKAN, kamu kembali ke 415 juta tahun yang lalu dan berjalan-jalan di dataran banjir bumi. Kamu tidak akan menemukan kucing, anjing, atau mamalia apa pun di sana.


Namun, kamu harus ekstra waspada karena ada ancaman nyata dari seekor kalajengking raksasa seukuran anjing yang siap mengintai di balik tanaman purba.


Melalui studi mendalam terhadap fosil-fosil lama, para peneliti di Inggris akhirnya berhasil mengonfirmasi identitas makhluk mengerikan tersebut sebagai Praearcturus gigas.


Spesies ini resmi dinobatkan sebagai kalajengking terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah bumi.


Fosil artropoda (hewan berbuku-buku) ini sebenarnya sudah ditemukan sejak tahun 1870 di Inggris. Namun selama lebih dari satu abad, para ilmuwan terus berdebat mengenai jenis hewan apakah ini sebenarnya.


Berkat bantuan teknologi pemindaian pencitraan tingkat lanjut modern, perdebatan panjang itu kini resmi berakhir.


Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Paleontology ini memberikan kita banyak bocoran tentang sejarah awal kehidupan di daratan bumi.


Pada masa itu, daratan baru saja mulai ditumbuhi oleh tanaman-tanaman kecil dan jamur, sementara hewan-hewan baru merangkak keluar dari samudra.


"Praearcturus hidup ketika kehidupan di darat baru saja dimulai. Nenek moyang reptil, mamalia, dan burung bahkan belum meninggalkan air."


Demikian Dr. Richie Howard, paleontolog dari Natural History Museum Inggris selaku ketua penelitian, ungkapkan seperti dikutip dari ScienceAlert.


Dr. Howard menambahkan bahwa tidak adanya saingan menjadi kunci utama mengapa ukuran tubuh hewan ini bisa menjadi sangat tidak masuk akal.


"Ini menunjukkan bahwa spesies ini bisa tumbuh sangat besar karena memang tidak ada predator besar lain di darat saat itu," lanjut Dr. Howard.


"Kondisi ini membuat mereka sukses mendominasi lingkungannya tanpa perlawanan."


Untuk mencapai kesimpulan ini, tim peneliti melakukan analisis menggunakan penelusuran camera lucida dan pemindaian computed tomography (CT Scan).


Mereka juga membandingkannya dengan fosil-fosil lain dari era Devonian Awal yang ditemukan di berbagai situs di Inggris.


Para peneliti pun merujuk pada studi fosil kalajengking purba Eramoscorpius asal Kanada tahun 2015 untuk memperkuat bukti anatomi bahwa P. gigas memang merupakan kalajengking sejati.


Ukuran capit dari hewan ini diperkirakan mencapai 16 sentimeter.


Sebagai gambaran, ukuran capitnya saja sudah jauh lebih panjang daripada keseluruhan panjang tubuh dari moncong hingga ujung ekor sebagian besar kalajengking yang hidup di bumi kita saat ini.


Selain itu, peneliti juga menemukan struktur bergerigi pada kaki-kakinya yang diduga kuat digunakan untuk menghasilkan suara—sebuah teknik komunikasi unik yang mirip dengan beberapa spesies kalajengking punah lainnya.


Meskipun menyandang predikat sebagai salah satu monster paling menakutkan di atas permukaan tanah, para peneliti menemukan bukti unik bahwa kalajengking raksasa ini juga kerap menghabiskan waktunya di dalam air.


"Karena ekosistem di darat saat itu belum terlalu kompleks untuk mendukung kebutuhan pangan Praearcturus, hewan-hewan ini kemungkinan besar menghabiskan sebagian hidup mereka untuk berburu di dalam air," papar Dr. Howard.


Hal ini diperkuat oleh penemuan struktur mirip sirip tipis (epimera) pada fosil yang ditemukan di Wales, mirip dengan struktur yang biasa kita lihat pada lobster dan kepiting modern.


Menariknya, jutaan tahun setelah masa P. gigas, daratan bumi baru mulai kedatangan monster artropoda lain yang tak kalah ekstrem, seperti kelabang sepanjang mobil atau capung sebesar burung elang.


Berbeda dengan P. gigas yang hidup di daratan sepi, artropoda generasi berikutnya hidup di hutan lebat dengan persediaan makanan yang melimpah.


Ketatnya persaingan berburu di masa depan diduga menjadi alasan mengapa P. gigas akhirnya punah setelah sempat bertahan selama 40 juta tahun.


Studi ini juga memicu teori evolusi yang menarik. Berdasarkan analisis DNA, kalajengking modern sangat dekat dengan laba-laba yang bernapas menggunakan paru-paru buku (book lungs).


Artinya, mereka dulunya berasal dari nenek moyang yang bernapas di udara daratan.


Jika teori ini benar, maka Praearcturus gigas adalah contoh unik dari hewan purba yang sempat "pulang kampung" atau kembali beradaptasi ke dalam air setelah nenek moyangnya memutuskan hidup di darat.


Disadur dari ScienceAlert - Scientists Identify The World's Biggest Known Scorpion, The Size of a Dog.




Post a Comment

أحدث أقدم