Studi terbaru terhadap 30.000 anak di Swedia membuktikan bahwa hidup bersama kucing tidak memperburuk kondisi asma dan alergi pada anak.
Ringkasan
- Peneliti menganalisis data lebih dari 30.000 anak penderita asma dan alergi di Swedia.
- Anak yang tinggal dengan kucing memiliki tingkat keparahan asma, serangan asma, dan fungsi paru yang serupa dengan anak tanpa kucing.
- Jumlah kucing, usia kucing, maupun jenis kelamin kucing juga tidak memengaruhi kondisi asma anak dalam jangka pendek.
BANYAK yang percaya bahwa bulu dan ketombe hewan (dander) adalah musuh utama yang bisa memicu serangan asma hebat. Namun, benarkah demikian?
Kabar baik datang dari para peneliti di Swedia untuk para pencinta kucing.
Hasil studi mereka mengungkapkan bahwa hidup berdampingan dengan kucing ternyata tidak memperburuk kondisi asma maupun alergi pada anak-anak, setidaknya dalam jangka pendek.
Studi epidemiologi para peneliti tersebut dipublikasikan di jurnal Frontiers in Allergy pada 10 Juni 2026
Selama ini, laporan mengenai hewan peliharaan yang memicu serangan asma lebih banyak bersifat anekdot atau bersumber dari cerita pasien saja.
Data klinis yang ada pun sering kali saling bertolak belakang karena hanya menguji kelompok sampel yang kecil, sehingga tidak bisa mewakili masyarakat luas.
Melihat celah tersebut, tim peneliti yang dipimpin oleh Dr. Resthie R. Putri, peneliti doktoral yang saat ini berkarya di Karolinska Institutet, Stockholm, melakukan riset berskala nasional.
Ya, anak-anak penderita asma dan alergi yang hidup bersama kucing memiliki tingkat keparahan asma, risiko kekambuhan, kontrol asma, serta fungsi paru-paru yang serupa dengan anak-anak yang hidup tanpa kucing.
Tim peneliti juga mengamati faktor-faktor spesifik dari hewan peliharaan tersebut.
Hasilnya? Mau kucingnya jantan atau betina, masih anak kucing atau sudah tua, bahkan dipelihara satu ekor atau lebih dari itu di dalam rumah, semuanya tidak memberikan perbedaan dampak negatif pada kesehatan pernapasan anak.
Bagaimana para peneliti bisa seyakin itu? Riset ini bukan kaleng-kaleng karena melibatkan data masif dari 30.277 anak berusia antara 4 hingga 17 tahun yang lahir dalam rentang tahun 2006 sampai 2020.
Semua anak yang menjadi subjek penelitian ini sudah memiliki diagnosis medis asma atau alergi saluran pernapasan.
Para peneliti memantau kondisi kesehatan anak-anak ini selama 24 bulan, dari tahun 2023 hingga 2024.
Mereka mengawasi rekam medis diagnosis, kunjungan ke instalasi gawat darurat (IGD), obat-obatan yang diresepkan, hingga tes fungsi paru-paru (spirometri).
Data ini diperoleh dengan mengintegrasikan sistem register nasional Swedia, seperti Swedish National Patient Register, Prescribed Drug Register, dan National Airway Register.
Kebetulan, sejak tahun 2023, Pemerintah Swedia mewajibkan seluruh pemilik kucing untuk mendaftarkan peliharaannya ke National Cat Register.
Fasilitas data inilah yang dimanfaatkan para peneliti untuk melacak rumah tangga mana saja yang memelihara minimal satu ekor kucing.
Hasil pelacakan menunjukkan ada sekitar 9,4% anak dalam studi tersebut yang tinggal bersama anabul di rumah mereka.
Ketika data dianalisis, angka-angka statistik menunjukkan hasil yang hampir mirip antara kelompok anak yang terpapar kucing dan yang tidak.
Sebagai contoh, kasus asma tingkat sedang hingga berat (dilihat dari jenis obat asma yang harus ditebus) ditemukan pada 9,6% anak yang memelihara kucing, dan 10,1% pada anak yang tidak memelihara kucing.
Sementara itu, risiko asma kambuh atau serangan mendadak (flare-up) terjadi pada 3,3% anak yang hidup dengan kucing dan 3,5% pada anak tanpa kucing.
Angka ini justru menunjukkan persentase anak tanpa kucing sedikit lebih tinggi, meskipun secara statistik perbedaannya tidak signifikan.
Bahkan dari sampel 1.428 anak yang menjalani tes spirometri untuk mengukur kekuatan embusan napas dan fungsi paru-paru, hasilnya sama sekali tidak menunjukkan perbedaan yang berarti di antara kedua kelompok.
Muncul pertanyaan, mengapa keberadaan kucing di rumah tidak membuat asma anak makin parah?
"Salah satu penjelasan yang masuk akal adalah karena paparan alergen kucing sebenarnya sudah sangat luas, bahkan di luar lingkungan rumah," jelas Dr. Resthie.
Ditambahkannya, anak-anak yang di rumahnya tidak memelihara kucing tetap saja bisa terpapar alergen saat mereka berada di area publik, misalnya di ruang kelas sekolah atau ketika naik transportasi umum.
Karena paparan di luar rumah sudah tidak bisa dihindari, keberadaan kucing di dalam rumah akhirnya tidak memberikan perbedaan dampak yang drastis.
Meski membawa angin segar, Dr. Resthie tetap memberikan catatan dan edukasi yang bijak bagi para orang tua.
Penelitian berskala besar ini masih memiliki keterbatasan, seperti ketiadaan data spesifik mengenai jenis alergen apa yang sebenarnya memicu alergi pada masing-masing anak.
Selain itu, karena sistem National Cat Register di Swedia masih tergolong baru, ada kemungkinan kecil terjadinya salah klasifikasi data.
Melalui studi ini, para orang tua penderita asma kini bisa bernapas sedikit lebih lega.
Selama kebersihan rumah dijaga dengan baik dan pengobatan asma anak dikontrol sesuai petunjuk dokter, kehadiran si manis berkaki empat di tengah keluarga ternyata tidak semenakutkan yang dibayangkan.
Disadur dari Frontiers - Living with cats does not worsen asthma in children, suggests study.

إرسال تعليق