Ilmuwan Usulkan Pasang 'Perisai Kimia' di Luar Angkasa untuk Tangkal Badai Matahari

Para ilmuwan mengusulkan proyek "StormWall" untuk memperkuat medan magnet Bumi menggunakan awan plasma buatan demi menangkal hantaman badai matahari ekstrem.


Para ilmuwan mengusulkan proyek "StormWall" untuk memperkuat medan magnet Bumi menggunakan awan plasma buatan demi menangkal hantaman badai matahari ekstrem.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan

  • Konsep bernama StormWall bertujuan memperkuat magnetosfer Bumi agar mampu meredam dampak badai geomagnetik ekstrem.
  • Simulasi menunjukkan sistem ini berpotensi mengurangi kekuatan badai hingga lebih dari 50%.
  • Jika berhasil diterapkan, teknologi tersebut dapat melindungi satelit, GPS, jaringan komunikasi, dan infrastruktur listrik global.


SELAMA ini, kalau ada kabar tentang badai matahari ekstrem yang menuju Bumi, reaksi kita biasanya cuma bisa pasrah. 


Manusia hanya bisa memprediksi kapan badai itu datang, lalu bersiap siaga menghadapi dampaknya pada jaringan listrik atau sinyal GPS. 


Kasarnya, Bumi cuma bisa "pasang badan" menerima apa pun yang dilemparkan oleh sang surya.


Namun, pola pikir defensif itu coba diubah oleh sekelompok ilmuwan yang dipimpin oleh Brian Walsh dari Boston University. 


Dilansir dari Space.com, mereka mengusulkan ide yang terdengar seperti fiksi ilmiah: memperkuat medan magnet alami Bumi secara aktif menggunakan armada satelit khusus sebelum cuaca antariksa yang ekstrem itu sempat bikin kekacauan. 


Proyek ambisius ini diberi nama StormWall.


Secara alami, Bumi kita dilindungi oleh perisai magnet raksasa yang disebut magnetosfer. Perisai inilah yang membelokkan partikel bermuatan berbahaya dari matahari. 


Sayangnya, saat ada ledakan matahari yang sangat kuat, perisai alami ini bisa jebol.


Fenomena jebolnya pertahanan Bumi ini dikenal dengan istilah magnetic reconnection (penyambungan kembali garis magnet). 


Ketika medan magnet dari angin matahari sejajar sempurna dengan medan magnet Bumi, keduanya akan saling bertautan. 


Proses ini membuka semacam gerbang tak kasat mata di langit, membuat energi matahari dalam jumlah masif tumpah ruah ke ruang angkasa dekat Bumi dan memicu badai geomagnetik.


Nah, di sinilah StormWall mengambil peran sebagai "penambal". Konsepnya adalah mengerahkan enam pesawat luar angkasa ke orbit geosinkron. 


Masing-masing satelit bakal membawa muatan material khusus berwujud padat atau cair, seperti barium, litium, natrium, atau kalsium.


Begitu sensor mendeteksi adanya badai matahari berbahaya yang mengarah ke Bumi, operator di pangkalan akan memerintahkan armada satelit ini untuk menyemprotkan material tersebut. 


Begitu terkena sinar matahari, partikel kimia yang menguap itu akan langsung terionisasi dan berubah menjadi awan plasma buatan yang bermuatan listrik.


Awan plasma buatan ini kemudian akan hanyut ke tepi magnetosfer yang menghadap langsung ke matahari. Efeknya? Batas pertahanan Bumi jadi lebih tebal dan padat. 


Tambahan massa ini bakal memperlambat proses magnetic reconnection, sehingga badai matahari yang ganas dipaksa memantul dan melewati Bumi begitu saja.


"Ini seperti warga desa yang melihat sungai meluap," kata Brian Walsh dalam pernyataan resminya seperti dikutip Space.com.


"Memang bagus kalau bisa memprediksi kapan banjir datang, tapi jauh lebih baik kalau kita bisa membangun dinding penahan badai (storm wall)." 


Untuk membuktikan apakah teori ini masuk akal atau cuma angan-angan, para peneliti melakukan simulasi komputer menggunakan data badai geomagnetik historis yang terjadi pada Mei 2024.


Kejadian tersebut merupakan salah satu badai matahari terkuat dalam beberapa dekade terakhir sehingga dijuluki Badai Mother's Day


Para saintis membuat dua skenario: satu skenario badai normal tanpa bantuan, dan satu lagi menggunakan perisai plasma StormWall.


Hasilnya bikin takjub. 


Meski StormWall tidak bisa menghapus dampak badai matahari sepenuhnya, perisai buatan ini terbukti mampu memangkas kekuatan destruktif badai geomagnetik hingga lebih dari 50 persen! 


Jaringan komunikasi global, satelit internet, dan trafo listrik di Bumi pun bisa terselamatkan dari risiko kelumpuhan total.


Tentu saja, proyek sekelas "Avengers" ini tidak murah. Untuk membuat perisai yang cukup luas, armada satelit tersebut harus membawa muatan kimia yang setara dengan volume selusin truk tangki minyak.


Tantangan terbesarnya adalah sistem ini bersifat one-and-done alias sekali pakai. 


Begitu material disemprotkan dan terionisasi menjadi plasma, sistemnya akan mati dan tidak bisa diisi ulang di tempat. Jadi, jika ada badai matahari susulan, manusia harus meluncurkan armada satelit baru lagi.


Walau biayanya selangit, Walsh menilai kalkulasi finansialnya akan segera masuk akal. 


Saat ini banyak perusahaan swasta yang menggelontorkan miliaran dolar untuk infrastruktur orbit, bahkan berencana membangun pusat data (data center) di luar angkasa.


Jadi, kerugian akibat satelit yang hancur kena badai matahari jauh lebih besar ketimbang biaya membuat StormWall.


Satu hal yang pasti, proyek ini tidak bisa dimonopoli. Karena magnetosfer menyelimuti seluruh dunia, StormWall akan menjadi perisai kolektif bagi umat manusia. 


"Jika proyek ini dibangun dan diluncurkan, ini akan membantu semua orang di planet ini. Anda tidak bisa mendesainnya hanya untuk melindungi satu negara atau satu kelompok satelit saja," pungkas Walsh.


Penelitian mendalam mengenai konsep perisai plasma luar angkasa ini telah resmi diterbitkan di jurnal Space Weather.


Disadur dari Space.com - Scientists propose spraying chemicals into Earth's magnetic field to protect us from powerful solar storms.



Post a Comment

أحدث أقدم