Bahkan Lubang Hitam yang 'Tenang' pun Bisa Mengembuskan Angin

Setelah pencarian selama hampir 50 tahun, astronom menemukan bukti bahwa lubang hitam raksasa di pusat Bima Sakti masih menghasilkan angin kosmik yang lembut.


Setelah pencarian selama hampir 50 tahun, astronom menemukan bukti bahwa lubang hitam raksasa di pusat Bima Sakti masih menghasilkan angin kosmik yang lembut.Ilustrasi: rawpixel.com/Freepik


Ringkasan:


SELAMA beberapa dekade, para astronom menduga bahwa lubang hitam supermasif di pusat Galaksi Bima Sakti tidak benar-benar diam. 


Meski saat ini tidak sedang melahap materi dalam jumlah besar, objek raksasa bernama Sagittarius A* itu diyakini tetap mengembuskan angin kosmik. 


Kini, untuk pertama kalinya, bukti kuat mengenai keberadaan angin tersebut akhirnya ditemukan.


Melalui pengamatan terbaru yang dipublikasikan pada 4 Juni di jurnal Astrophysical Journal Letters, para peneliti melaporkan penemuan jalur berbentuk kerucut yang menjauh dari lubang hitam tersebut. 


Jalur unik ini diyakini hanya bisa terbentuk oleh pahatan angin panas.


"Kita belum pernah melihat angin sepoi-sepoi dari lubang hitam, padahal kemungkinan besar begitulah cara mereka menghabiskan sebagian besar masa hidupnya.


"Sekarang, untuk pertama kalinya, kita bisa melihat embusan lembut ini," kata Lena Murchikova, astrofisika dari Northwestern University di Evanston, Illinois, Amerika Serikat. 


Secara teori, saat lubang hitam melahap gas dan debu di sekitarnya, aktivitas "makan besar" ini memanaskan puing-puing kosmik di dekatnya. 


Panas yang luar biasa tersebut kemudian memancarkan radiasi kuat yang mendorong gas serta material lain menjauh, menciptakan apa yang disebut para astronom sebagai angin lubang hitam.


Ketika sebuah lubang hitam sedang sangat aktif mengonsumsi materi, angin yang dihasilkan bisa menjadi badai kosmik yang sangat kuat hingga mampu mendepak material keluar dari galaksinya. 


Namun, saat lubang hitam tersebut sedang dalam fase tenang dan hanya mengonsumsi sedikit materi, seperti kondisi Sagittarius A* saat ini, angin yang berembus diperkirakan akan jauh lebih tipis dan lemah.


Para astronom telah berburu angin teoretis ini sejak Sagittarius A* pertama kali ditemukan pada tahun 1970-an. 


Sayangnya, pemandangan kita menuju pusat galaksi selalu terhalang oleh tebalnya kabut gas, bintang, dan debu, membuat apa yang terjadi di sana sangat sulit dipetakan.


Dalam studi baru ini, Murchikova dan rekannya, Mark Gorski, mengumpulkan lebih dari 100 jam data observasi terhadap Sagittarius A*


Data diambil selama lima tahun menggunakan jaringan teleskop radio Atacama Large Millimeter/Submillimeter Array (ALMA) di Chili. 


Observasi ini berfokus pada pemetaan distribusi karbon monoksida dingin, yang menjadi indikator utama keberadaan gas di dekat lubang hitam.


Dengan memanfaatkan metode baru dalam pemrosesan data, tim ilmuwan ini berhasil melihat gas dan debu yang 100 kali lebih redup dari kemampuan deteksi sebelumnya. 


Hasilnya adalah sebuah citra lingkungan sekitar lubang hitam yang 80 kali lebih tajam. Gambar tersebut menunjukkan adanya celah kosong berbentuk kerucut yang mencolok di dekat lubang hitam. 


Berbeda dengan wilayah sekitarnya, area berbentuk kerucut ini benar-benar bersih dari karbon monoksida dingin. 


Bentuk geometri dari ruang kosong ini memperkuat kesimpulan para astronom bahwa pelakunya tidak lain adalah embusan angin panas yang keluar dari lubang hitam.


"Lubang hitam supermasif di seluruh alam semesta menghabiskan sebagian besar waktunya dalam keadaan tenang," jelas Gorski. 


"Jadi, temuan ini memberi tahu kita bahwa meskipun sebagian besar lubang hitam tampak cukup tenang, mereka tetap memberikan dampak yang besar bagi lingkungannya."


Angin dari lubang hitam memegang peran krusial dalam evolusi galaksi. 


Embusan ini bisa memperlambat pembentukan bintang baru dengan cara mengusir gas yang menjadi bahan bakunya, atau sebaliknya, justru memicu kelahiran bintang baru dengan cara menekan dan memadatkan awan debu kosmik.


Penemuan ini dianggap sebagai pencapaian besar yang membuktikan bahwa lubang hitam Bima Sakti kita tidak unik dan berperilaku sama dengan lubang hitam di galaksi lain.


Namun demikian, beberapa ilmuwan menilai perlunya bukti tambahan. 


Pengamatan di masa depan diharapkan bisa mengukur langsung kecepatan gas yang tersapu untuk memastikan kekuatan sejati dari embusan sepoi-sepoi sang raksasa yang sedang tertidur ini.


Disadur dari Science News - Even quiet black holes create winds, new Milky Way observations reveal. 




Post a Comment

أحدث أقدم