Studi terbaru mengungkap bahwa lalat parasit deer ked sengaja mengurangi kemampuan penglihatannya demi menghemat energi setelah berhasil menemukan tubuh inang.
Ringkasan
- Setelah hinggap di tubuh inang (biasanya rusa), lalat ini akan langsung menggugurkan sayapnya secara permanen.
- Aktivitas gen penglihatan (opsin) lalat menurun drastis hingga setengahnya setelah mereka beralih menjadi parasit.
- Pengurangan fungsi mata dilakukan demi mengalihkan energi untuk fungsi bertahan hidup lain, seperti pencernaan dan reproduksi.
BAYANGKAN kamu punya kemampuan terbang dan penglihatan yang tajam, tapi begitu menemukan rumah impian, kamu memilih untuk membuang sayap dan membiarkan matamu perlahan merabun.
Terdengar ekstrem? Tapi itulah kenyataan hidup yang dijalani oleh deer ked (Lipoptena cervi), sejenis lalat pengisap darah yang banyak ditemukan di kawasan Eropa, Asia, Afrika, hingga Amerika.
Selama ini, lalat deer ked dikenal sebagai penerbang ulung yang mengandalkan mata besarnya untuk memburu target.
Target utama mereka biasanya adalah rusa, meskipun kadang-kadang mereka juga tidak segan-segan menggigit manusia atau mamalia lainnya.
Namun, begitu mereka berhasil mendarat di atas kulit target, sebuah transformasi radikal pun dimulai.
Mereka akan mencopot sayapnya sendiri dan menghabiskan sisa hidup mereka dengan merayap di antara bulu-bulu tebal sambil terus mengisap darah.
Sebuah penelitian kolaboratif yang dilakukan oleh para ilmuwan dari Aberystwyth University di Inggris dan University of Florence di Italia berhasil menguak sisi lain dari transformasi ini.
Hasil riset mereka yang diterbitkan dalam Journal of Experimental Biology menunjukkan bahwa perubahan gaya hidup yang drastis ini diikuti oleh pergeseran besar dalam prioritas sistem sensorik si lalat.
Begitu lalat deer ked berhasil mengamankan posisinya di tubuh inang, mereka akan menghentikan pasokan energi yang biasanya dialokasikan untuk indra penglihatan.
Energi tersebut kemudian dialihkan untuk mendukung fungsi tubuh yang jauh lebih penting bagi kehidupan barunya sebagai parasit permanen.
"Penglihatan memang memegang peran vital dalam perilaku hewan, tapi menjaga mata tetap berfungsi optimal itu sangat boros energi," jelas Dr. Roger Santer dari Aberystwyth University, yang memimpin penelitian ini.
Menurutnya, proses evolusi selalu mendukung sistem sensorik yang paling efisien dan sesuai dengan cara hidup suatu hewan.
Beberapa jenis lalat pengisap darah sangat bergantung pada mata mereka untuk berburu, sementara jenis lalat parasit lain yang hidup menetap di tubuh inang hampir tidak membutuhkan mata sama sekali.
Nah, lalat deer ked ini menjadi sangat menarik bagi para peneliti karena mereka mengalami transisi langsung di antara kedua gaya hidup yang bertolak belakang tersebut.
Untuk memahami apa yang terjadi, tim peneliti menganalisis lalat deer ked dalam berbagai fase siklus hidup mereka.
Mereka membandingkan sampel lalat dewasa yang masih bersayap (yang ditangkap saat sedang terbang mencari inang) dengan lalat dewasa tanpa sayap yang diambil langsung dari bulu rusa.
Para ilmuwan kemudian memeriksa aktivitas gen bernama "opsin", yaitu gen yang bertanggung jawab atas tingkat sensitivitas visual atau kepekaan mata terhadap cahaya.
Dengan membandingkan aktivitas gen ini sebelum dan sesudah lalat menggugurkan sayapnya, mereka bisa melihat bagaimana sistem saraf lalat merespons perubahan hidup yang mendadak itu.
"Kami menemukan bahwa sistem visual lalat deer ked saat masih terbang sangat mirip dengan lalat tsetse, lalat terkenal di Afrika yang aktif berburu mamalia," ungkap Dr. Santer.
"Namun, setelah lalat deer ked kehilangan sayapnya dan resmi menjadi ektoparasit, aktivitas gen opsin di mata mereka merosot hingga tersisa sekitar setengah dari level sebelumnya."
Penurunan drastis ini bukan berarti lalat tersebut langsung menjadi buta total. Penglihatan mereka masih ada, hanya saja tingkat sensitivitasnya dikurangi secara signifikan.
Para ilmuwan menyimpulkan bahwa lalat ini sengaja "mengorbankan" ketajaman matanya demi menghemat energi, yang kemudian dipakai untuk memaksimalkan proses pencernaan darah serta mempercepat proses reproduksi atau bertelur.
Temuan ini memberikan wawasan baru yang berharga mengenai bagaimana makhluk hidup, khususnya parasit, menyetel ulang sistem sensorik tubuh mereka ketika menghadapi perubahan fase hidup yang besar.
Meskipun terdengar sepele, memahami bagaimana lalat deer ked dan lalat pengisap darah lainnya menggunakan indra mereka sebenarnya memiliki dampak besar bagi kesehatan manusia dan hewan ternak.
Dengan mengetahui kapan dan bagaimana lalat-lalat ini mendeteksi targetnya, para ilmuwan dan otoritas kesehatan dapat merancang strategi pemantauan serta metode pengendalian populasi serangga parasit yang jauh lebih efektif dan tepat sasaran di masa depan.
Disadur dari Phys.org - Parasitic fly 'sacrifices sight' after finding host, study shows.

إرسال تعليق