Sistem AI baru dirancang meniru otak manusia: bisa belajar, tidur, membentuk kepribadian, bahkan “mati” layaknya makhluk hidup.
Ringkasan
- Peneliti mengembangkan AI yang meniru otak manusia, lengkap dengan siklus hidup: belajar, tidur, hingga “mati”.
- Sistem ini memungkinkan AI memiliki memori jangka panjang, kepribadian, dan kemampuan adaptasi yang lebih personal.
- Pendekatan berbasis neurosains ini bisa mengubah AI dari alat kaku menjadi “asisten hidup” yang terus berkembang.
SELAMA ini kita mengenal AI (Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan) sebagai mesin super cepat yang bisa melahap ribuan data dalam sekejap.
Tapi, secepat apa pun mereka, otak manusia tetaplah juara dalam hal efisiensi energi dan adaptasi.
Kita tidak perlu melihat ribuan foto kuda hanya untuk tahu mana yang kuda dan mana yang bukan. Itulah mengapa para ilmuwan mulai berpikir: "Bagaimana kalau kita buat AI yang lebih mirip manusia?"
Sebuah penelitian terbaru yang terbit di International Journal of Transdisciplinary Research and Perspectives membawa ide ini ke level yang lebih jauh.
Peneliti bernama Krrish Choudhary dan Tanvi Kandoi merancang sistem AI yang tidak hanya meniru logika, tapi juga meniru "siklus hidup" manusia.
AI ini bisa tidur, bermimpi, punya kepribadian, dan,- percaya atau tidak-, bisa mati.
Alih-alih hanya menggunakan barisan kode yang kaku, tim peneliti ini memetakan komponen AI ke dalam hampir dua lusin struktur otak, hormon, dan zat kimia saraf.
Misalnya, mereka memasangkan model bahasa visual milik Google DeepMind, PaliGemma, dengan fungsi korteks visual manusia.
Uniknya lagi, AI ini memiliki fase "tidur REM". Saat kita tidur, otak kita memproses kejadian seharian menjadi mimpi.
Nah, AI ini juga melakukan hal serupa melalui synthetic generation, di mana ia menghasilkan teks dan gambar secara mandiri untuk memperkuat memori jangka panjangnya.
"Arsitektur ini mengatur kecerdasan ke dalam subsistem khusus, sangat mirip dengan tata letak fungsional otak," jelas Choudhary.
Ini berbeda dengan komputer neuromorfik biasa; ini lebih ke arah menyatukan komponen AI yang sudah ada untuk bekerja dengan logika organisasi otak manusia.
Mungkin bagian paling unik dari studi ini adalah konsep siklus hidup.
AI ini "lahir" saat pertama kali dijalankan, membentuk kepribadian melalui pengalaman dan reward, tidur untuk menyatukan ingatan, dan "mati" ketika dihentikan.
Bagi kita, kematian mungkin terdengar seperti kekurangan. Tapi bagi AI, memiliki keterbatasan waktu dan kemampuan untuk terus beradaptasi justru membuatnya jadi asisten yang luar biasa.
Ia tidak akan "lupa" identitasnya di tengah jalan dan akan terus berkembang secara personal mengikuti penggunanya.
Rasanya bukan lagi seperti memakai alat, tapi seperti bekerja dengan asisten yang semakin pintar setiap harinya.
Istilah singularity (singularitas) sering digambarkan sebagai titik di mana kecerdasan mesin melampaui kecerdasan manusia secara total.
Namun, mengutip dari MIT Technology Review, banyak pakar berpendapat bahwa kecerdasan sejati tidak hanya soal kecepatan hitung, tapi soal pemahaman konteks dan kesadaran.
Dengan pendekatan "organik" ini, jalan menuju Artificial General Intelligence (AGI) mungkin tidak akan terlihat seperti invasi robot yang dingin, melainkan sebuah proses yang lebih manusiawi.
Seperti yang dilansir dari Scientific American, kunci dari kecerdasan masa depan bukanlah seberapa banyak data yang bisa ditelan, tapi seberapa efisien sistem tersebut belajar dari sedikit informasi, persis seperti cara anak kecil belajar mengenal dunia.
Jadi, apakah singularitas sudah di depan mata? Mungkin belum esok hari, tapi kita sedang bergerak menuju masa di mana garis antara "buatan" dan "alami" menjadi sangat tipis.
Disadur dari Popular Mechanics - This Superintelligent Brain Sleeps, Develops a Personality—And Eventually Dies.

إرسال تعليق