“Mata Ketiga” di Otak Diduga Jadi Asal-usul Penglihatan Manusia

Ilmuwan menemukan kemungkinan bahwa mata manusia berasal dari “mata ketiga” purba yang tersembunyi di dalam tengkorak.


Ilmuwan menemukan kemungkinan bahwa mata manusia berasal dari “mata ketiga” purba yang tersembunyi di dalam tengkorak.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan

  • Penelitian baru menyebut mata manusia mungkin berevolusi dari satu “mata tengah” purba di atas kepala nenek moyang vertebrata.
  • Sisa sistem penglihatan kuno itu diduga masih bertahan sebagai kelenjar pineal di otak manusia.
  • Temuan ini dapat mengubah pemahaman ilmuwan tentang evolusi mata dan otak vertebrata.


BAGI kebanyakan orang, istilah “mata ketiga” mungkin terdengar mistis atau berhubungan dengan dunia supranatural. Namun, beda lagi bagi para ilmuwan.


Istilah mata ketiga itu justru muncul dalam penelitian evolusi terbaru yang mencoba menjelaskan asal-usul penglihatan manusia.


Sebuah studi yang diterbitkan di jurnal Current Biology mengusulkan teori mengejutkan.


Menurut para ilmuwan, mata manusia dan vertebrata lain kemungkinan berasal dari satu organ peka cahaya tunggal yang berada di bagian atas kepala nenek moyang purba sekitar 600 juta tahun lalu.


Penelitian ini dilakukan oleh ilmuwan dari Lund University dan University of Sussex


Mereka mencoba memecahkan teka-teki lama tentang mengapa mata vertebrata, termasuk manusia, ikan, reptil, dan burung, sangat berbeda dibandingkan mata hewan lain seperti serangga atau cumi-cumi.


Secara umum, hewan memiliki dua jenis sel pendeteksi cahaya atau fotoreseptor. Jenis pertama disebut rhabdomeric photoreceptors, yang biasanya membentuk mata di sisi kepala hewan tak bertulang belakang dan digunakan untuk melihat gambar.


Jenis kedua disebut ciliary photoreceptors. Sel ini biasanya berada lebih dalam di otak atau di bagian atas kepala, dan berfungsi mendeteksi cahaya lingkungan untuk mengatur ritme biologis, seperti siklus tidur dan waktu siang-malam.


Namun vertebrata ternyata “aneh”. Mata manusia justru menggunakan sel ciliary untuk menangkap cahaya, tetapi memproses gambar menggunakan neuron dengan karakteristik rhabdomeric


Campuran sistem biologis seperti ini hampir tidak ditemukan pada kelompok hewan lain.


Menurut ahli saraf Tom Baden dari University of Sussex, pertanyaan besarnya selama ini adalah: seperti apa sebenarnya “mata pertama” dalam evolusi?


Untuk mencari jawabannya, para peneliti membandingkan struktur sel pendeteksi cahaya pada 36 kelompok hewan besar. 


Dari sana, mereka menemukan pola evolusi yang mengarah pada nenek moyang mirip cacing yang hidup sekitar 600 juta tahun lalu.


Makhluk kecil ini diduga memiliki dua mata di sisi kepala sekaligus satu “mata tengah” di bagian atas kepala. Mata tengah inilah yang kemudian menjadi kunci teori baru tersebut.


Para peneliti menduga nenek moyang vertebrata sempat menjalani kehidupan yang sangat pasif di dasar laut. 


Mereka membenamkan diri di lumpur dan menyaring makanan dari air. Karena tidak lagi aktif berenang, mata samping untuk navigasi dianggap tidak terlalu penting dan perlahan menghilang.


Tetapi sistem pendeteksi cahaya di atas kepala tetap dipertahankan. Organ itu membantu makhluk purba tersebut mengetahui arah cahaya, posisi atas-bawah, serta waktu siang dan malam.


Jutaan tahun kemudian, keturunan makhluk ini kembali berenang bebas di lautan. Mereka membutuhkan penglihatan kompleks lagi. Masalahnya, mata samping lama sudah hilang. 


Akibatnya, evolusi “mendaur ulang” sistem cahaya yang tersisa di bagian atas kepala.


Menurut model yang diajukan peneliti, organ cahaya tunggal itu perlahan membentuk struktur mirip cawan untuk mendeteksi arah cahaya. 


Struktur tersebut kemudian terbelah dan bergerak ke sisi kepala hingga akhirnya menjadi sepasang mata seperti yang dimiliki vertebrata modern saat ini.


Teori ini juga menjelaskan mengapa retina manusia sangat kompleks. Retina diduga berkembang dari jaringan otak, bukan dari jaringan kulit seperti pada serangga dan cumi-cumi.


Yang lebih mengejutkan lagi, ilmuwan menduga “mata ketiga” purba itu tidak benar-benar hilang. 


Sisa organ tersebut kemungkinan masih bertahan sebagai kelenjar pineal, organ kecil di tengah otak manusia yang mengatur produksi hormon melatonin dan siklus tidur.


Pada manusia, kelenjar pineal memang tidak lagi mendeteksi cahaya secara langsung. Namun organ itu masih menerima sinyal cahaya dari mata untuk membantu mengatur jam biologis tubuh.


Menariknya, beberapa hewan modern masih memiliki versi aktif dari “mata ketiga” ini. Tuatara, reptil langka dari Selandia Baru, memiliki mata tambahan di bagian atas kepalanya lengkap dengan retina dan lensa sederhana. 


Pada beberapa ikan, kelenjar pineal bahkan masih mampu mendeteksi cahaya yang menembus tengkorak.


Meski terdengar revolusioner, para ilmuwan mengakui teori ini masih berupa hipotesis evolusi yang perlu diuji lebih lanjut. 


Catatan fosil jaringan lunak dari ratusan juta tahun lalu sangat terbatas, sehingga sulit mengetahui urutan perubahan biologis secara pasti.


Karena itu, penelitian berikutnya akan berfokus pada pemetaan genetik dan struktur mikroskopis retina serta kelenjar pineal pada berbagai hewan modern.


Jika teori ini benar, maka kemampuan manusia untuk melihat ternyata berasal dari sistem sensor cahaya sederhana milik makhluk purba yang hidup setengah miliar tahun lalu.


Dan ironisnya, sisa “mata ketiga” itu mungkin masih tersembunyi jauh di dalam otak kita hingga hari ini.


Disadur dari PsyPost - Scientists say the hidden ‘third eye’ inside your skull is the bizarre reason you can see.


Post a Comment

أحدث أقدم