Anak Muda Makin Perfeksionis, Kesehatan Mental Ikut Tertekan

 Anak muda zaman sekarang makin perfeksionis akibat tekanan ekonomi dan kesenjangan sosial, yang memicu lonjakan masalah kesehatan mental seperti kecemasan.


Anak muda zaman sekarang makin perfeksionis akibat tekanan ekonomi dan kesenjangan sosial, yang memicu lonjakan masalah kesehatan mental seperti kecemasan.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan

  • Penelitian menemukan tingkat perfeksionisme mahasiswa terus meningkat sejak akhir 1980-an hingga 2024.
  • Ketakutan gagal dan takut dinilai orang lain meningkat lebih cepat dibanding dorongan untuk berprestasi.
  • Ketimpangan ekonomi dan berkurangnya peluang ekonomi diduga menjadi faktor penting di balik tren tersebut.


BANYAK orang mengira media sosial adalah penyebab utama meningkatnya kecemasan dan tekanan psikologis pada generasi muda. Namun menurut penelitian, akar persoalannya bisa jadi lebih dalam. 


Anak muda ternyata semakin perfeksionis dari waktu ke waktu, dan tren ini sudah berlangsung jauh sebelum media sosial menjadi bagian besar dari kehidupan sehari-hari.


Temuan tersebut berasal dari penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Psychological Bulletin dan dilaporkan oleh American Psychological Association (APA). 


Peneliti utama, Thomas Curran dari London School of Economics and Political Science, menyebut perfeksionisme sebagai risiko kesehatan masyarakat karena berkaitan erat dengan meningkatnya depresi dan kecemasan.


“Perfeksionisme adalah risiko kesehatan publik. Jika kita ingin mengatasi krisis kesehatan mental pada anak muda, kita perlu memperhatikan faktor budaya dan ekonomi yang melatarbelakanginya,” kata Curran.


Untuk memahami perkembangan fenomena ini, para peneliti menganalisis 307 studi yang dilakukan antara 1989 hingga 2024. 


Studi-studi tersebut melibatkan lebih dari 82.000 mahasiswa dari Amerika Serikat, Kanada, dan Inggris. 


Seluruh peserta diminta mengisi skala psikologis standar yang digunakan untuk mengukur tingkat perfeksionisme.


Hasilnya menunjukkan pola yang konsisten: tingkat perfeksionisme yang dilaporkan oleh mahasiswa terus meningkat selama lebih dari tiga dekade.


Namun yang menarik, tidak semua bentuk perfeksionisme meningkat dengan kecepatan yang sama.


Peneliti membedakan dua jenis utama perfeksionisme. Pertama adalah perfectionistic strivings, yaitu dorongan untuk menetapkan standar yang sangat tinggi dan bekerja keras untuk mencapainya. 


Kedua adalah perfectionistic concerns, yaitu kecenderungan merasa takut gagal, ragu terhadap diri sendiri, dan khawatir dinilai negatif oleh orang lain.


Sejak awal tahun 2000-an, peningkatan paling tajam justru terjadi pada kelompok kedua. Dengan kata lain, anak muda bukan hanya semakin ingin berprestasi, tetapi juga semakin takut membuat kesalahan.


Fenomena ini penting karena ketakutan gagal sering kali menjadi sumber stres yang berat. 


Seseorang bisa terus-menerus merasa belum cukup baik, meskipun sebenarnya telah mencapai banyak hal. Akibatnya, pencapaian yang seharusnya membanggakan justru tidak pernah terasa memuaskan.


Para peneliti kemudian mencoba mencari faktor yang mungkin berperan dalam perubahan tersebut. Mereka membandingkan data perfeksionisme dengan kondisi ekonomi di berbagai periode.


Hasilnya menunjukkan bahwa perlambatan pertumbuhan ekonomi berkaitan dengan meningkatnya dorongan untuk terus berprestasi. 


Ketika peluang ekonomi terasa semakin sempit, anak muda cenderung berusaha lebih keras untuk bersaing.


Sementara itu, meningkatnya ketimpangan ekonomi berkaitan dengan lonjakan ketakutan gagal dan kekhawatiran terhadap penilaian orang lain.


Menurut Curran, ketika kesenjangan sosial melebar, orang menjadi lebih sadar terhadap perbedaan status dan pencapaian. 


Dalam situasi seperti itu, kesalahan kecil bisa terasa jauh lebih menakutkan karena dianggap berpotensi memengaruhi posisi sosial seseorang.


Yang lebih mengkhawatirkan, hubungan antara perfeksionisme dan gangguan kesehatan mental ternyata tidak berubah sepanjang waktu. 


Dari tahun ke tahun, individu dengan tingkat perfeksionisme lebih tinggi tetap menunjukkan risiko yang lebih besar mengalami depresi, kecemasan, dan berbagai gejala psikologis lainnya.


Artinya, ketika jumlah anak muda yang perfeksionis terus bertambah, dampaknya terhadap kesehatan mental masyarakat juga berpotensi semakin besar.


Temuan ini sekaligus menambah perspektif baru dalam perdebatan mengenai krisis kesehatan mental generasi muda. Selama ini, ponsel pintar dan media sosial sering menjadi sasaran utama. 


Namun penelitian ini menunjukkan bahwa meningkatnya perfeksionisme sudah terlihat bahkan sebelum era Instagram, TikTok, dan platform digital lainnya.


Tentu saja media sosial dapat memperkuat tekanan sosial dengan menampilkan kehidupan yang tampak sempurna. 


Akan tetapi, penelitian ini mengisyaratkan bahwa akar masalahnya kemungkinan berasal dari perubahan budaya yang lebih luas, termasuk kompetisi yang semakin ketat, ketidakpastian ekonomi, dan meningkatnya ketimpangan sosial.


Bagi banyak anak muda, tantangan terbesar saat ini mungkin bukan sekadar mencapai kesuksesan, melainkan menghadapi keyakinan bahwa mereka harus selalu sempurna untuk dianggap berharga. 


Padahal, kemampuan menerima kesalahan dan ketidaksempurnaan justru merupakan bagian penting dari kesehatan mental yang sehat.


Disadur dari Scimex - Young people are becoming more perfectionistic, and that's bad news for their mental health.



Post a Comment

أحدث أقدم