Runtuhnya Romawi Barat dan penyebaran Kristen memicu percampuran kelompok genetik yang beragam, membentuk fondasi struktur masyarakat serta garis keturunan Eropa modern.
Ringkasan
- Runtuhnya Kekaisaran Romawi memicu percampuran genetik yang membentuk populasi Eropa modern.
- Migrasi terjadi dalam kelompok kecil berbasis keluarga, bukan invasi besar-besaran.
- Kekristenan mendorong perubahan struktur keluarga menuju monogami dan keluarga inti.
RUNTUHNYA Kekaisaran Romawi Barat runtuh bukan sekadar peristiwa politik besar, ia juga meninggalkan jejak mendalam pada DNA orang Eropa.
Penelitian yang dipublikasikan di Nature mengungkap bagaimana masa transisi dari akhir zaman Romawi ke awal Abad Pertengahan mengubah komposisi genetik sekaligus struktur sosial masyarakat Eropa.
Tim peneliti internasional melakukan bedah kode genetik (DNA) terhadap 258 orang yang hidup di Jerman Selatan antara tahun 400 hingga 700 Masehi.
Periode ini adalah masa transisi dari Zaman Kuno Akhir ke Awal Abad Pertengahan.
Hasilnya mengejutkan. Di akhir masa Romawi, ada dua kubu genetik yang sangat berbeda: orang-orang dengan leluhur dari Utara dan penghuni pemukiman Romawi yang sangat beragam.
Bayangkan pemukiman Romawi saat itu seperti kota metropolitan modern, isinya orang-orang dari seluruh penjuru Eropa, bahkan ada yang jauh-jauh datang dari Asia.
Begitu kekuasaan Romawi ambruk, mobilitas orang menjadi lebih bebas. Alih-alih terkotak-kotak, mereka mulai "nongkrong" bareng, bertukar budaya, dan akhirnya saling menikah.
Percampuran inilah yang menciptakan lanskap genetik yang mirip dengan penduduk Eropa Tengah saat ini.
Bicara soal umur, hidup di zaman itu memang menantang. Rata-rata harapan hidup pria hanya sekitar 43,3 tahun, sementara wanita lebih singkat, yakni 39,8 tahun.
Persalinan menjadi faktor risiko utama yang membuat usia wanita lebih pendek saat itu.
Namun, ada sisi humanis yang terungkap. Meskipun usianya pendek, sekitar 81,8% anak-anak di masa itu tumbuh besar dengan setidaknya satu kakek atau nenek yang masih hidup.
Ini menunjukkan bahwa sistem dukungan keluarga cukup kuat.
Seiring menguatnya pengaruh Kristen, pola hubungan pun berubah.
Jika sebelumnya struktur sosial mungkin lebih cair, perlahan-lahan masyarakat mulai menerapkan monogami seumur hidup dan fokus pada keluarga inti (ayah, ibu, anak).
Sistem kekerabatan inilah yang kemudian menjadi akar sistem sosial di Eropa selama berabad-abad.
Menariknya, data ini mematahkan teori lama tentang invasi besar-besaran bangsa barbar yang brutal.
Melansir dari ScienceDaily, penelitian pendukung tentang periode migrasi (Migration Period) menunjukkan bahwa pergerakan manusia saat itu lebih banyak dilakukan oleh kelompok-kelompok kecil berbasis kekerabatan, bukan pasukan kolosal yang datang untuk menghancurkan segalanya.
Mereka membawa budaya materi yang sama meskipun latar belakang genetiknya berbeda-beda. Jadi, alih-alih konflik berdarah, yang terjadi justru adalah asimilasi budaya yang perlahan tapi pasti.
Runtuhnya Kekaisaran Romawi mungkin adalah akhir dari sebuah era politik, tetapi secara biologis dan sosial, itu adalah awal dari identitas baru Eropa yang lebih menyatu.
Disadur dari Scimex - What effects did the Roman Empire's collapse have on European genetics?

إرسال تعليق