Penelitian selama 19 tahun menemukan tidur siang pada pagi hari pada lansia berkaitan dengan peningkatan risiko kematian lebih tinggi.
Ringkasan
- Lansia yang sering tidur siang pada pagi hari memiliki risiko kematian sekitar 30 persen lebih tinggi.
- Tidur siang yang lebih lama dan lebih sering juga berkaitan dengan peningkatan risiko kesehatan.
- Peneliti menduga pola tersebut dapat menjadi tanda awal gangguan jantung, otak, atau ritme biologis tubuh.
Disclaimer: Artikel ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan pengganti saran medis.
TIDUR siang sering dianggap kebiasaan sehat, terutama bagi orang lanjut usia. Namun penelitian terbaru menunjukkan bahwa waktu dan pola tidur siang ternyata bisa menyimpan sinyal kesehatan yang serius.
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal JAMA Network Open menemukan, lansia yang sering tidur pada pagi hari memiliki risiko kematian sekitar 30 persen lebih tinggi dibanding mereka yang tidur siang pada awal sore.
Penelitian ini dilakukan terhadap ribuan orang lanjut usia di Illinois utara, Amerika Serikat.
Para peneliti menggunakan alat pelacak di pergelangan tangan untuk merekam pola tidur siang secara objektif selama bertahun-tahun.
Hasilnya menunjukkan pola yang cukup konsisten: semakin pagi waktu tidur siang, semakin lama durasinya, dan semakin sering seseorang tertidur di siang hari, semakin tinggi pula risiko kematian dalam beberapa tahun berikutnya.
Peneliti utama, Chenlu Gao dari Mass General Brigham, mengatakan pola tidur siang bisa menjadi petunjuk dini adanya masalah kesehatan yang belum terdeteksi.
“Penelitian kami menunjukkan bahwa pola tidur siang yang diukur secara objektif memiliki nilai klinis besar untuk membantu mendeteksi kondisi kesehatan lebih awal,” jelas Gao.
Meski demikian, para peneliti menekankan bahwa penelitian ini tidak membuktikan tidur siang menyebabkan kematian.
Bisa jadi justru penyakit tertentu yang membuat seseorang menjadi lebih mudah mengantuk pada siang hari.
Dalam studi tersebut, tidur siang yang lebih panjang menjadi salah satu sinyal paling kuat.
Bahkan tambahan satu jam tidur siang dikaitkan dengan peningkatan risiko yang setara dengan bertambahnya usia sekitar satu tahun dibanding rata-rata kelompok penelitian.
Frekuensi tidur siang juga berpengaruh. Setiap tambahan satu kali tidur siang per hari berkaitan dengan peningkatan risiko kematian sekitar 7 persen.
Menurut peneliti, sering tidur siang bisa menunjukkan tubuh mengalami kantuk kronis, bukan sekadar kelelahan sesaat setelah beraktivitas.
Yang paling menarik adalah soal waktu tidur. Lansia yang rutin tertidur pada pagi hari memiliki risiko lebih tinggi dibanding mereka yang tidur siang pada awal sore.
Sementara itu, tidur siang pada sore akhir tidak menunjukkan kaitan yang sama setelah penyesuaian data kesehatan dilakukan.
Peneliti menduga hal ini berkaitan dengan gangguan ritme sirkadian, yaitu jam biologis tubuh yang mengatur siklus tidur dan bangun.
Jika seseorang sering mengantuk di pagi hari, kondisi itu mungkin menandakan sistem pengatur tidur tubuh mulai terganggu.
Berbagai penyakit kronis juga bisa menjadi pemicunya. Gangguan jantung dan paru-paru misalnya, dapat membuat tubuh kekurangan oksigen sehingga memicu rasa lelah terus-menerus walau sudah tidur malam cukup lama.
Selain itu, penelitian sebelumnya juga menemukan hubungan antara tidur siang berlebihan dengan penyakit kardiovaskular dan gangguan neurodegeneratif seperti Alzheimer.
Dalam studi terbaru ini, hubungan antara tidur pagi dan risiko kematian menjadi lebih lemah ketika peserta dengan gangguan kognitif dikeluarkan dari analisis.
Temuan itu membuat ilmuwan menduga ada kaitan kuat antara kantuk siang berlebihan dengan perubahan fungsi otak.
Meski begitu, peneliti mengingatkan masyarakat agar tidak langsung takut tidur siang.
Tidur siang singkat tetap memiliki manfaat. Menurut Sleep Foundation, tidur siang sekitar 10–30 menit dapat membantu meningkatkan konsentrasi, suasana hati, dan kewaspadaan tanpa menyebabkan rasa pusing setelah bangun.
Kebiasaan tidur siang juga dipengaruhi budaya, usia pensiun, obat-obatan, hingga kualitas tidur malam seseorang.
Karena itu, satu kali tidur siang bukan masalah besar. Yang perlu diperhatikan adalah pola yang terus muncul dan berlangsung lama.
Penelitian ini juga menunjukkan potensi perangkat wearable seperti jam pintar untuk membantu memantau kesehatan.
Dengan memantau pola tidur harian, dokter mungkin bisa mendeteksi masalah seperti sleep apnea, depresi, penyakit jantung, nyeri kronis, atau penurunan fungsi kognitif lebih awal.
Pada akhirnya, tidur siang bukan sekadar soal istirahat. Dalam beberapa kasus, kebiasaan kecil itu bisa menjadi alarm halus bahwa tubuh sedang menyimpan masalah kesehatan yang lebih besar.
Disadur dari Earth.com — Morning naps may be a huge red flag for older adults, according to a 19-year study.

إرسال تعليق