Makan Sambil Berdiri Berbahaya bagi Kesehatan? Ini Kata Dokter

Makan sambil berdiri cenderung membuat kita makan terburu-buru.


Makan sambil berdiri cenderung membuat kita makan terburu-buru.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan

  • Makan sambil berdiri cenderung membuat kita makan terlalu cepat.
  • Kecepatan makan yang tinggi menghambat sinyal kenyang ke otak.
  • Kondisi rileks (rest and digest) sangat diperlukan agar aliran darah terfokus pada sistem pencernaan untuk metabolisme yang optimal.


DI tengah gaya hidup serba cepat, makan sering jadi aktivitas “selingan”. Sarapan sambil berdiri di dapur, makan siang sambil setengah jalan ke rapat. Tapi benarkah makan sambil berdiri itu buruk untuk kesehatan?


Menurut Carolyn Newberry, ahli gastroenterologi dari Weill Cornell Medical College, kunci utama pencernaan yang sehat bukanlah duduk atau berdiri, melainkan posisi tubuh yang tetap tegak. 


Dengan kata lain, selama kamu tidak makan sambil tiduran, tubuh masih bisa bekerja optimal.


Pencernaan sangat bergantung pada gravitasi. Saat kita makan dalam posisi tegak (baik duduk maupun berdiri), makanan lebih mudah bergerak dari lambung ke usus. 


Sebaliknya, makan sambil berbaring atau langsung rebahan setelah makan bisa memicu masalah seperti heartburn.


Newberry menjelaskan bahwa saat asam lambung diproduksi untuk mencerna makanan, posisi tubuh yang tidak tegak bisa membuat asam tersebut naik kembali ke kerongkongan. 


Inilah yang menyebabkan sensasi panas di dada atau rasa tidak nyaman.


Selain itu, makanan biasanya membutuhkan waktu sekitar dua jam atau lebih untuk berpindah dari lambung ke usus. Karena itu, makan tepat sebelum tidur sangat tidak dianjurkan.


Menariknya, makan sambil berdiri sebenarnya tidak terlalu berbeda dengan makan sambil duduk. Masalah muncul karena kebiasaan ini sering dilakukan saat kita sedang terburu-buru.


Makan cepat dapat menyebabkan berbagai gangguan, mulai dari kembung, perut tidak nyaman, hingga makan berlebihan. 


Saat terburu-buru, kita cenderung menelan udara lebih banyak dan tidak mengunyah makanan dengan baik.


Padahal, proses pencernaan sudah dimulai sejak di mulut. Enzim dalam air liur membantu memecah nutrisi sejak gigitan pertama. Jadi, makan perlahan bukan sekadar sopan santun, tapi juga bagian penting dari kesehatan.


Ada hal lain yang sering terlewat: tubuh butuh waktu untuk menyadari bahwa kita sudah kenyang. Sinyal kenyang biasanya baru muncul sekitar 20 menit setelah mulai makan. 


Jika makan terlalu cepat, kita berisiko makan lebih banyak dari yang sebenarnya dibutuhkan.


Tubuh manusia dirancang untuk mencerna makanan dalam kondisi santai, dikenal sebagai mode “rest and digest”


Ini adalah kondisi saat sistem saraf parasimpatis aktif, kebalikan dari mode “fight or flight” yang dipicu stres atau adrenalin.


Makan sambil berjalan atau beraktivitas berat tidak disarankan karena bisa meningkatkan risiko tersedak dan mengganggu proses pencernaan. 


Bahkan perubahan posisi yang terlalu cepat setelah makan, misalnya langsung berdiri atau berlari, bisa menyebabkan pusing akibat perubahan aliran darah.


Aliran darah yang seharusnya membantu proses pencernaan bisa “dialihkan” ke otot-otot tubuh jika kita langsung beraktivitas berat. Akibatnya, proses pencernaan menjadi kurang optimal.


Meski begitu, aktivitas ringan seperti berjalan santai setelah makan justru baik untuk tubuh. Namun, untuk olahraga berat, disarankan menunggu sekitar 30 menit setelah camilan atau hingga dua jam setelah makan besar.


Jika kamu memang harus makan cepat, Newberry menyarankan memilih porsi kecil namun lebih sering, dengan kandungan protein yang cukup. 


Cara ini bisa membantu menjaga energi tanpa membebani sistem pencernaan.


Disadur dari  Popular ScienceIs it okay to eat standing up? A doctor weighs in




Post a Comment

أحدث أقدم