Misteri Baju Tebal Korban Pompeii

Letusan Vesuvius diduga terjadi Agustus, tetapi pakaian wol tebal korban Pompeii memicu ulang perdebatan soal waktu bencana.


Letusan Vesuvius diduga terjadi Agustus, tetapi pakaian wol tebal korban Pompeii memicu ulang perdebatan soal waktu bencana.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan 

  • Korban Pompeii ditemukan mengenakan pakaian wol tebal, memicu keraguan atas tanggal letusan Agustus.
  • Analisis cetakan tubuh menunjukkan tunik dan jubah wol dikenakan di dalam maupun luar rumah.
  • Temuan ini mendukung dugaan bahwa letusan Vesuvius mungkin terjadi pada musim gugur.


SELAMA berabad-abad, buku sejarah mencatat bahwa Gunung Vesuvius meledak dahsyat pada 24 Agustus tahun 79 Masehi. 


Letusan ini mengubur kota Pompeii dan Herculaneum dalam sekejap, mengabadikan momen terakhir para penduduknya dalam abu vulkanik. 


Namun, pertanyaan besar muncul dari meja penelitian tim ÁTROPOS dari Universitas Valencia, jika letusan terjadi di puncak musim panas Agustus, mengapa para korbannya memakai baju wol yang sangat tebal?


Logikanya, Agustus di Italia adalah masa di mana suhu udara sangat menyengat. Namun, hasil pemindaian terhadap 14 cetakan gips (casts) para korban menunjukkan pemandangan yang kontradiktif. 


Tim peneliti menemukan bahwa banyak korban mengenakan tunik dan jubah wol yang ditenun dengan sangat rapat dan berat, baik mereka yang berada di dalam maupun di luar ruangan.


Arkeolog dan antropolog Llorenç Alapont menjelaskan bahwa tenunan wol tersebut jelas ditujukan untuk cuaca dingin. 


"Pakaian yang dikenakan para korban tidak hanya menunjukkan kemungkinan iklim yang lebih dingin dari biasanya, tetapi juga kondisi lingkungan berbahaya yang membuat mereka merasa perlu melindungi diri," ungkap Alapont.


Para ilmuwan mampu melihat detail ini berkat teknik cetakan gips yang mengisi rongga kosong di dalam abu vulkanik. 


Saat tubuh para korban membusuk selama berabad-abad, mereka meninggalkan "cetakan" bentuk tubuh dan tekstur pakaian yang mereka kenakan saat napas terakhir. 


Detailnya sangat presisi, bahkan hingga jenis benang dan cara menenunnya pun bisa teridentifikasi.


Muncul teori apakah pakaian tebal itu digunakan untuk melindungi kulit dari gas beracun atau suhu panas ekstrem saat erupsi


Fakta bahwa orang-orang sudah mengenakan pakaian tersebut bahkan sebelum mereka mencoba melarikan diri menunjukkan bahwa suhu udara di Pompeii saat itu memang sedang tidak bersahabat untuk ukuran bulan Agustus.


Keraguan mengenai tanggal 24 Agustus sebenarnya bukan hal baru.


Sebagai materi tambahan, merujuk pada laporan dari BBC History, para arkeolog sebelumnya telah menemukan sisa-sisa buah-buahan yang hanya tumbuh di musim gugur, seperti buah delima dan kastanye, di dalam reruntuhan Pompeii.


Selain itu, ditemukan pula koin di saku salah satu korban yang baru dicetak pada bulan September 79 Masehi


Adanya tungku pemanas ruangan (braziers) yang masih berisi sisa arang di dalam rumah-rumah penduduk semakin memperkuat dugaan bahwa Vesuvius kemungkinan besar meletus pada musim gugur.


Artinya sekitar bulan Oktober atau November, bukan Agustus.


Kebanyakan sejarawan berpegang pada tanggal 24 Agustus karena surat dari Pliny the Younger, seorang saksi mata yang menuliskan kronologi bencana tersebut kepada sejarawan Tacitus


Namun, para ahli menduga bahwa tanggal tersebut mungkin salah tulis atau salah diterjemahkan selama proses penyalinan naskah kuno selama berabad-abad.


Penelitian pakaian wol tebal ini menjadi potongan teka-teki terbaru yang bisa mengubah buku sejarah kita. 


Pompeii terus memberikan kejutan, membuktikan bahwa meski terkubur ribuan tahun, kota ini masih punya banyak cerita yang belum selesai diceritakan.


Disadur dari Gizmodo.


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama