Dosa Tak Terlihat di Balik Baju Murah: Saat Fashion Menghancurkan Planet

Rantai pasok industri fashion global yang mengutamakan kecepatan produksi telah meninggalkan jejak limbah beracun dan kerusakan lingkungan yang sangat masif.


Rantai pasok industri fashion global yang mengutamakan kecepatan produksi telah meninggalkan jejak limbah beracun dan kerusakan lingkungan yang sangat masif.

Ilustrasi: Freepik


Ringkasan 

  • Industri fashion adalah polutan industri terbesar ketiga di dunia.
  • Tren ultra-fast fashion memicu produksi 170 miliar pakaian per tahun.
  • Limbah tekstil global, seperti di Gurun Atacama dan Sungai Citarum, menciptakan kerusakan lingkungan permanen yang sulit dipulihkan.


KAMU pernah tergiur membeli kaos seharga secangkir kopi di aplikasi belanja online? Di balik label harga yang sangat murah itu, ada "tagihan" tersembunyi yang dibayar mahal oleh bumi kita. 


Dari tumpukan baju bekas setinggi gunung di Gurun Atacama, Chili, hingga air berwarna pekat di Sungai Citarum, Indonesia, industri fashion sedang berada di titik nadir polusi.


Laporan Grist mengungkap betapa destruktifnya sistem hyper-fast fashion saat ini. Setiap tahun, dunia menghasilkan sekitar 170 miliar potong pakaian


Celakanya, hampir setengah dari jumlah tersebut dibuang hanya dalam waktu satu tahun. Fashion kini menempati peringkat ketiga sebagai industri paling berpolusi di planet ini, tepat di bawah industri energi dan pangan.


Masalah dimulai bahkan sebelum baju tersebut dijahit. Sekitar 70% pakaian saat ini menggunakan serat sintetis seperti poliester. Tahukah kamu bahwa poliester terbuat dari minyak bumi? 


Setidaknya 342 juta barel minyak mentah digunakan setiap tahun untuk membuat bahan ini. Proses produksinya saja melepaskan emisi karbon yang setara dengan mengoperasikan 180 pembangkit listrik tenaga batu bara.


Bahan alami seperti kapas pun tidak sepenuhnya "hijau". Kapas adalah tanaman yang sangat "haus" dan "kotor". Untuk memproduksi satu setel jeans dan kaos saja, dibutuhkan sekitar 1.900 liter air irigasi dan hujan. 


Meski hanya menggunakan 3% lahan pertanian dunia, produksi kapas menyedot 10% dari total penjualan insektisida global.


Salah satu titik paling kritis berada di Indonesia. Sungai Citarum di Jawa Barat menjadi bukti nyata bagaimana transformasi kain mentah menjadi baju warna-warni bisa mematikan ekosistem. 


Ratusan pabrik tekstil yang muncul sejak era 80-an membuang limbah langsung ke sungai, mengubah warnanya menjadi merah, biru, hingga hitam pekat.


Limbah ini mengandung logam berat seperti merkuri, timbal, dan kromium. Warga di sepanjang aliran sungai melaporkan berbagai masalah kesehatan, mulai dari ruam kulit hingga gagal ginjal dan tumor. 


Meskipun pemerintah menargetkan Citarum bersih pada 2025, kenyataannya, menurut laporan Grist, sungai ini tetap menjadi salah satu yang paling tercemar di dunia.


Munculnya raksasa e-commerce seperti Shein dan Temu memperburuk keadaan. 


Jika merek tradisional butuh 12 minggu untuk mendesain hingga menjual baju, merek ultra-fast fashion hanya butuh hitungan hari. Mereka membanjiri pasar dengan hingga 10.000 barang baru setiap hari.


Model bisnis ini mengandalkan pengiriman udara yang boros karbon. Emisi Shein bahkan meningkat hampir dua kali lipat antara 2022 dan 2023 menjadi 16 juta metrik ton . 


Sebagai perbandingan, menurut data statistik yang dirilis The Guardian, surplus pakaian global setiap tahunnya diperkirakan mencapai 8 miliar hingga 60 miliar potong yang tidak pernah laku terjual.


Kini, gerakan "sirkularitas" atau ekonomi berputar mulai digaungkan untuk memperpanjang usia pakai pakaian. 


Namun, tantangan teknisnya berat karena banyak baju zaman sekarang menggunakan campuran serat sintetis dan alami yang sulit dipisahkan untuk didaur ulang.


Membeli lebih sedikit, memilih kualitas yang tahan lama, dan menuntut regulasi ketat terhadap perusahaan fashion adalah langkah mendesak. 


Tanpa perubahan radikal, baju murah yang kita beli hari ini akan terus menjadi beban permanen bagi bumi esok hari.


Disadur dari Grist.


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama