Risiko Mengerikan Membuka Makam Kaisar Pertama China

Selama lebih dari 2.200 tahun, makam Qin Shi Huang tetap tertutup rapat karena campuran bahaya merkuri, risiko kerusakan, dan pertimbangan politik.


Selama lebih dari 2.200 tahun, makam Qin Shi Huang tetap tertutup rapat karena campuran bahaya merkuri, risiko kerusakan, dan pertimbangan politik.Ilustrasi dibuat oleh AI berdasarkan foto Aaron Zhu/Wikipedia


Ringkasan

  • Makam Qin Shi Huang belum dibuka sejak 208 SM karena risiko kerusakan, bahaya merkuri, dan faktor politik.
  • Catatan sejarah tentang sungai merkuri dan istana bawah tanah didukung sebagian oleh temuan ilmiah modern.
  • Teknologi non-invasif memungkinkan penelitian tanpa membuka makam dan merusak isinya.


PADA 1974, sekelompok petani di Provinsi Shaanxi, China, tanpa sengaja menemukan pecahan tanah liat yang kelak mengantar dunia pada salah satu temuan arkeologi terbesar sepanjang sejarah: Pasukan Terakota


Sekitar 8.000 patung prajurit berukuran manusia asli, masing-masing dengan wajah unik, terkubur rapi selama lebih dari dua milenium. Namun, penemuan spektakuler ini ternyata hanya pembuka dari misteri yang jauh lebih besar.


Pasukan Terakota hanyalah bagian luar dari kompleks makam raksasa milik Qin Shi Huang, kaisar pertama yang menyatukan China. Hingga kini, inti makam sang kaisar, ruang pemakamannya, belum pernah disentuh manusia sejak disegel pada 208 SM.


Kompleks ini secara resmi dikenal sebagai Mausoleum Qin Shi Huang dan terletak di Distrik Lintong, Xi’an


Menurut catatan sejarah dan UNESCO, luas keseluruhan kawasan mencapai sekitar 56 kilometer persegi, setara sebuah kota kecil. 


Pembangunannya diperkirakan memakan waktu hampir 38 tahun dan melibatkan tenaga kerja dalam jumlah sangat besar.


Sejarawan kuno Sima Qian menggambarkan makam ini sebagai istana bawah tanah lengkap dengan “sungai-sungai merkuri” yang mengalir secara mekanis, langit-langit bertatahkan mutiara menyerupai bintang, serta jebakan otomatis untuk membunuh penyusup. 


Meski terdengar seperti mitos, sebagian klaim ini mulai mendapat dukungan dari sains modern.


Survei geofisika menemukan kadar merkuri di sekitar gundukan makam 20 hingga 50 kali lebih tinggi dari kondisi alami. 


Radar penembus tanah juga menunjukkan adanya rongga besar dan struktur bertingkat di bawah permukaan, menguatkan dugaan adanya ruang pemakaman kompleks.


Lalu, mengapa makam itu tak juga dibuka? Jawaban singkatnya: konservasi. Para arkeolog China menganut prinsip ketat, “jangan menggali jika belum mampu melestarikan.” 


Membuka makam berarti membiarkan oksigen, perubahan suhu, kelembapan, dan mikroorganisme masuk ke lingkungan tertutup yang telah stabil selama ribuan tahun.


Pengalaman pahit sudah ada. Saat Pasukan Terakota pertama kali digali, pigmen warna cerah di permukaannya mengelupas hanya dalam hitungan menit setelah terpapar udara. Padahal, itu baru bagian luar kompleks. 


Ruang makam utama diyakini menyimpan benda-benda organik seperti sutra, kayu, lukisan, dan dokumen yang jauh lebih rapuh.


Selain risiko kerusakan, ada bahaya fisik nyata. Jika sungai merkuri benar-benar ada, pembukaan makam dapat melepaskan uap beracun yang membahayakan pekerja dan lingkungan sekitar. 


Penanganannya memerlukan teknologi setara industri kimia berisiko tinggi, bukan sekadar tim arkeologi konvensional.


Di sisi lain, Qin Shi Huang adalah figur sentral dalam narasi sejarah dan identitas nasional China. Makamnya merupakan monumen negara. 


Kegagalan konservasi atau kesalahan fatal dalam ekskavasi bisa memicu skandal besar dan kemarahan publik. Karena itu, menunggu teknologi yang benar-benar matang dianggap sebagai pilihan paling aman—baik secara ilmiah maupun politis.


Meski tak dibuka, makam ini bukan berarti diabaikan. Beragam teknik non-invasif telah digunakan: radar penembus tanah, magnetometri, pengambilan sampel gas, hingga citra satelit resolusi tinggi. 


Semua itu memungkinkan ilmuwan “melihat” isi makam tanpa merusak segelnya.


Namun demikian, Mausoleum Qin Shi Huang justru menjadi salah satu struktur tertutup paling banyak diteliti di dunia. Ia adalah kapsul waktu raksasa—menyimpan rahasia sebuah peradaban, namun menantang manusia untuk bersabar.


Mungkin suatu hari teknologi akan cukup canggih untuk membuka makam ini tanpa merusaknya. 


Hingga saat itu tiba, dunia hanya bisa menunggu, sambil bertanya-tanya: rahasia apa yang masih tersembunyi di bawah tanah China selama lebih dari dua milenium?


Disadur dari Interesting Engineering.


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama