Alasan Medis Perempuan Lebih Sering Sakit Perut Akibat IBS

Peneliti menemukan jalur nyeri baru di usus yang dipicu estrogen, membantu menjelaskan mengapa IBS lebih sering dialami perempuan.


Peneliti menemukan jalur nyeri baru di usus yang dipicu estrogen, membantu menjelaskan mengapa IBS lebih sering dialami perempuan.Ilustrasi: benzoix/Freepik


Ringkasan 

  • Estrogen memicu jalur molekuler di usus yang meningkatkan sinyal nyeri, terutama pada perempuan.
  • Sel L, PYY, dan serotonin berperan penting dalam mekanisme nyeri IBS.
  • Temuan ini membuka peluang terapi IBS yang lebih spesifik dan berbasis perbedaan biologis.


HORMON estrogen terbukti memicu reaksi molekuler di usus yang menyebabkan perempuan lebih rentan mengalami nyeri kronis akibat sindrom iritasi usus.


Pernahkah Anda merasa perut melilit, kembung, atau diare yang tak kunjung usai? Jika Anda perempuan, kemungkinan Anda mengalami Irritable Bowel Syndrome (IBS) jauh lebih besar. 


Di Amerika Serikat saja, sekitar dua pertiga dari 45 juta penderita IBS adalah perempuan. 


Selama bertahun-tahun, dunia medis hanya melihat pola ini tanpa tahu alasan pastinya. Namun, sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Science akhirnya berhasil menyingkap tabir tersebut.


Para peneliti dari University of California, San Francisco (UCSF) menemukan bahwa hormon estrogen, yang jumlahnya jauh lebih banyak pada perempuan, menjadi dalang di balik sensitivitas usus yang berlebih. 


"Alih-alih hanya mengatakan perempuan muda menderita IBS, kami ingin penjelasan ilmiah yang kuat mengapa hal itu terjadi," ujar Holly Ingraham, salah satu penulis studi tersebut.


Melalui eksperimen pada tikus, tim Ingraham menemukan bahwa estrogen berikatan dengan reseptor khusus pada sel langka di usus yang disebut sel L


Ketika estrogen "menyapa" sel L, sel ini merespons dengan melepas hormon bernama peptide YY (PYY). Tak berhenti di situ, PYY kemudian memerintahkan sel usus lainnya untuk melepas serotonin. 


Meski serotonin sering dikenal sebagai hormon "bahagia" di otak, di dalam usus, ia bertugas mengirimkan sinyal rasa sakit yang intens ke sistem saraf pusat. 


Estrogen, singkatnya, bertindak sebagai pengeras suara (amplifikasi) bagi jalur rasa sakit ini.


Temuan ini juga menjawab teka-teki mengapa diet rendah FODMAP—diet yang membatasi karbohidrat yang mudah terfermentasi seperti bawang putih, kacang-kacangan, dan produk susu—sangat ampuh meredakan gejala IBS.


Saat bakteri usus mencerna karbohidrat tersebut, mereka menghasilkan asam lemak rantai pendek. Estrogen ternyata membuat sel L jauh lebih sensitif terhadap asam lemak ini. 


Akibatnya, terjadi "pukulan ganda", estrogen meningkatkan sensitivitas dasar usus dan sekaligus membuat usus bereaksi berlebihan terhadap sisa pencernaan makanan tertentu.


Menambah konteks dari temuan di atas, data dari International Foundation for Gastrointestinal Disorders (IFFGD) menyebutkan, fluktuasi hormon selama siklus menstruasi memang memperburuk gejala pencernaan. 


Banyak perempuan melaporkan gejala IBS yang memuncak sesaat sebelum atau selama menstruasi ketika kadar hormon berubah drastis.


Selain itu, menurut Harvard Health Publishing, hubungan antara otak dan usus (gut-brain axis) pada perempuan cenderung lebih reaktif terhadap stres emosional.


Hal itu jika dikombinasikan dengan jalur molekuler estrogen yang baru ditemukan ini, menciptakan "badai sempurna" bagi munculnya nyeri IBS.


Penemuan jalur komunikasi antar-sel ini menjadi angin segar bagi dunia farmasi. Selama ini, pengobatan IBS seringkali bersifat umum dan kurang efektif bagi sebagian pasien. 


Dengan diketahuinya peran spesifik sel L dan hormon PYY, para ilmuwan kini bisa mulai merancang obat yang langsung menargetkan jalur tersebut.


Langkah ini merupakan bagian dari gerakan besar menuju pengobatan presisi yang mempertimbangkan aspek jenis kelamin dan gender dalam menangani rasa sakit. 


Seperti yang diungkapkan oleh fisiolog Amélie Joly dan Irene Miguel-Aliaga, memahami pengaruh biologis pada rasa sakit adalah kunci untuk menciptakan strategi manajemen nyeri yang benar-benar efektif di masa depan.


Disadur dari Smithsonian Magazine.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama