Ramuan China Kuno, Harapan Baru Atasi Kebotakan

Ramuan herbal Tiongkok kuno menunjukkan potensi ilmiah sebagai terapi baru yang lebih aman dan menyeluruh untuk rambut rontok androgenetik.


Ramuan herbal Tiongkok kuno menunjukkan potensi ilmiah sebagai terapi baru yang lebih aman dan menyeluruh untuk rambut rontok androgenetik.Ilustrasi: Freepik


Ringkasan

  • He Shou Wu bekerja multitarget, yakni hormon, regenerasi folikel, dan aliran darah kulit kepala.
  • Senyawa aktifnya menghambat DHT sekaligus memperpanjang fase pertumbuhan rambut.
  • Masih diperlukan uji klinis besar dan standardisasi agar aman digunakan luas.


KERONTOKAN rambut androgenetik, sering disebut kebotakan pola pria atau wanita, adalah jenis kerontokan rambut paling umum di dunia. Masalah ini tak lagi eksklusif milik usia lanjut. 


Kini, banyak orang mengalaminya sejak usia muda, ditandai dengan garis rambut menipis, ubun-ubun yang mulai jarang, hingga kulit kepala berminyak, berketombe, atau gatal. 


Jika dibiarkan, rambut bisa menipis permanen dan berujung kebotakan nyata.


Pilihan pengobatan modern saat ini relatif terbatas. Finasteride dan minoxidil masih menjadi andalan utama. 


Finasteride bekerja dengan menghambat pembentukan hormon dihidrotestosteron (DHT), sementara minoxidil merangsang folikel rambut agar kembali aktif. 


Masalahnya, kedua obat ini kerap menimbulkan efek samping, mulai dari iritasi kulit kepala hingga kekhawatiran soal efek hormonal jangka panjang. 


Di sinilah pencarian alternatif yang lebih aman dan alami semakin intens.


Sebuah ulasan ilmiah terbaru yang dimuat di Journal of Holistic Integrative Pharmacy mengangkat kandidat menarik dari pengobatan tradisional China: Polygonum multiflorum, dikenal juga sebagai He Shou Wu


Akar tanaman ini telah digunakan selama lebih dari seribu tahun dan secara klasik dipercaya mampu “menghitamkan rambut dan menutrisi vitalitas.” 


Kini, klaim kuno itu mulai mendapat penjelasan biologis modern.


Menurut penulis utama studi, Bixian Han, banyak deskripsi dalam teks pengobatan sejak Dinasti Tang ternyata selaras dengan pemahaman ilmiah mutakhir tentang biologi rambut. 


Penelitian laboratorium dan hewan menunjukkan bahwa ekstrak He Shou Wu mampu menghambat enzim 5α-reduktase, enzim yang mengubah testosteron menjadi DHT, hormon utama penyebab penyusutan folikel rambut.


Tak berhenti di situ, ramuan ini juga melindungi sel folikel rambut dari kematian dini (apoptosis). 


Senyawa aktif seperti TSG (tetrahydroxyl diphenylethylene glucoside) mengaktifkan jalur kelangsungan hidup sel seperti PI3K/Akt, meningkatkan protein pelindung sel, sekaligus menekan sinyal perusak. 


Dampaknya, fase pertumbuhan rambut (anagen) dapat bertahan lebih lama.


Lebih menarik lagi, He Shou Wu memicu jalur regenerasi rambut penting seperti Wnt/β-catenin dan Sonic hedgehog (Shh), dua mekanisme kunci yang mengaktifkan kembali folikel “tidur.” 


Studi pada hewan menunjukkan folikel rambut kembali memasuki fase tumbuh, disertai peningkatan faktor pertumbuhan seperti IGF-1, VEGF, dan FGF-7, sambil menekan sinyal penghambat seperti TGF-β dan Dkk-1.


Aspek lain yang sering diabaikan adalah aliran darah kulit kepala. 


Ramuan ini terbukti meningkatkan mikrosirkulasi, mengurangi kekentalan darah, dan memperbaiki suplai oksigen serta nutrisi ke folikel rambut, kondisi ideal bagi pertumbuhan rambut sehat.


Soal keamanan, para peneliti menegaskan pentingnya proses pengolahan yang benar. 


He Shou Wu yang diproses sesuai kaidah tradisional umumnya aman, meski penggunaan berlebihan atau olahan yang tidak standar pernah dikaitkan dengan gangguan hati. 


Karena itu, standardisasi dosis dan uji klinis skala besar masih sangat dibutuhkan.


Meski belum menjadi obat ajaib, ramuan kuno ini memberi contoh menarik bagaimana pengetahuan tradisional bisa membuka jalan bagi terapi rambut rontok generasi baru.


Disadur dari SciTechDaily – Ancient Chinese Herb Shows Promise as a Powerful New Treatment for Common Hair Loss.



Post a Comment

Lebih baru Lebih lama