Penelitian terbaru dari University of Bristol menemukan bahwa koloni semut dapat mengubah desain sarangnya secara strategis untuk mencegah penyebaran penyakit.
Ringkasan
- Peneliti menemukan semut menyesuaikan struktur sarangnya untuk mencegah penyebaran penyakit.
- Sarang koloni yang terpapar patogen memiliki pintu masuk lebih menyebar dan kamar yang tidak saling terhubung langsung.
- Temuan ini bisa menjadi inspirasi bagi manusia dalam merancang kota yang lebih tahan wabah.
KETIKA terpapar risiko infeksi, semut menggali sarang dengan lebih banyak pintu masuk yang tersebar jauh dan ruang-ruang yang lebih terpisah, mirip seperti membuat versi mini kota yang menerapkan jarak sosial!
Penelitian ini diterbitkan pada 16 Oktober 2025 di jurnal Science, dipimpin oleh Luke Leckie, peneliti doktoral di bidang Ilmu Biologi University of Bristol.
Ia menjelaskan bahwa ini adalah pertama kalinya hewan non-manusia terbukti secara aktif memodifikasi lingkungannya untuk mengurangi risiko penularan penyakit.
Sebelumnya, ilmuwan sudah tahu, semut punya berbagai perilaku sosial untuk melawan patogen, seperti membersihkan spora jamur dari tubuh koloni, menyemprotkan zat kimia disinfektan, bahkan melakukan isolasi mandiri bagi anggota yang terinfeksi.
Tapi kini, terbukti bahwa pertahanan mereka bukan hanya biologis atau sosial, melainkan juga arsitektural.
Tim peneliti menggunakan dua kelompok berisi 180 semut pekerja yang dimasukkan ke wadah berisi tanah.
Setelah sehari, mereka menambahkan 20 semut baru ke masing-masing wadah, satu kelompok sehat, dan satu kelompok yang telah terpapar spora jamur.
Semut-semut itu dibiarkan menggali selama enam hari, sementara peneliti memindai sarangnya menggunakan teknik micro-CT 3D, mirip dengan pemindaian medis resolusi tinggi.
Hasilnya luar biasa, sarang koloni yang terpapar penyakit punya lebih banyak jalur terpisah, ruang penyimpanan makanan dan area larva yang lebih terlindung, serta sedikit koneksi langsung antar-kamar.
Ketika peneliti menjalankan simulasi penyebaran penyakit di sarang 3D tersebut, hasilnya menunjukkan penularan berkurang drastis. Bahkan ketika satu individu terinfeksi, risiko menjalar ke seluruh koloni menjadi jauh lebih kecil.
Salah satu temuan paling menarik adalah bahwa perilaku isolasi diri semut menjadi lebih efektif di sarang hasil modifikasi itu.
Artinya, desain sarang yang “berjarak sosial” justru membantu semut memperkuat strategi pencegahan penyakitnya.
Temuan ini memberi inspirasi baru bagi manusia. Kota-kota modern, seperti halnya sarang semut, juga merupakan jaringan rumit dari ruang dan koneksi, tempat di mana orang, informasi, dan sumber daya terus mengalir.
Peneliti menyarankan agar prinsip yang sama bisa diterapkan dalam arsitektur dan perencanaan kota: menjaga aliran kehidupan tanpa membuka jalan bagi wabah.
Bayangkan jika desain perkantoran, sekolah, atau transportasi publik bisa meniru “kebijaksanaan sarang semut”, bukan hanya efisien, tapi juga sehat. Dalam skala kecil, semut telah menunjukkan bagaimana arsitektur bisa menjadi bagian dari sistem kekebalan sosial.
Disadur dari laman University of Bristol.

إرسال تعليق