Stres dalam hubungan romantis ternyata berdampak nyata pada kesehatan jantung dan bisa meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.
Ilustrasi: Min An/PexelsRingkasan
- Kualitas hubungan romantis memengaruhi kesehatan jantung setara dengan faktor risiko klasik.
- Stres hubungan meningkatkan hormon stres, tekanan darah, dan peradangan.
- Program jantung perlu menilai dan memperbaiki kualitas relasi, bukan hanya perilaku kesehatan.
HUBUNGAN cinta selama ini identik dengan simbol hati. Namun, sains modern menunjukkan kaitan itu bukan sekadar metafora.
Temuan ilmiah terbaru yang menunjukkan bahwa kualitas hubungan romantis dapat membantu, atau justru merusak, kesehatan jantung secara biologis.
Para peneliti bahkan mendorong agar hubungan pasangan mulai diperhitungkan serius dalam program perawatan pasien jantung.
Sebuah tinjauan besar yang dipublikasikan di Canadian Journal of Cardiology menganalisis bagaimana keterlibatan pasangan romantis memengaruhi pemulihan pasien jantung.
Dari 77% studi, keterlibatan pasangan terbukti meningkatkan kepatuhan minum obat, kebiasaan olahraga, dan keberhasilan berhenti merokok.
Namun ironisnya, hanya tiga studi yang benar-benar mengukur kualitas hubungan, dan tak satu pun menemukan perbaikan kualitas relasi itu sendiri.
Padahal, secara biologis, kualitas hubungan terbukti sangat berpengaruh. Peneliti menganalisis 12 uji klinis yang melibatkan hampir 1.500 pasangan.
Hasil riset populasi besar menunjukkan bahwa kualitas hubungan memengaruhi risiko penyakit jantung dengan dampak yang sebanding dengan berhenti merokok atau menjaga berat badan ideal.
Hubungan yang memuaskan berkaitan dengan tekanan darah lebih rendah, variabilitas denyut jantung yang lebih baik, serta peradangan yang lebih rendah.
Sebaliknya, hubungan yang penuh konflik memicu respons stres yang merusak sistem kardiovaskular.
Studi yang dilakukan di University of Ottawa Heart Institute menemukan, orang yang tidak menikah memiliki risiko lebih dari 40% lebih tinggi terkena penyakit kardiovaskular dan meninggal akibat serangan jantung dibandingkan mereka yang menikah.
Namun, perlindungan ini bukan soal cincin pernikahan. Riset jangka panjang menunjukkan bahwa kepuasan hubungan jauh lebih penting dibanding status pernikahan semata.
Tubuh merespons dinamika hubungan secara terukur. Saat pasangan bertengkar, detak jantung meningkat dan hormon stres kortisol melonjak.
Perempuan dalam hubungan yang penuh konflik hampir sepuluh kali lebih berisiko mengalami hipertensi tak terkontrol dibanding mereka yang puas dengan hubungannya.
Sebaliknya, setiap peningkatan dukungan pasangan berkorelasi dengan perbaikan variabilitas denyut jantung hingga 28%.
Keintiman fisik juga berperan langsung. Pelukan dan sentuhan hangat terbukti menurunkan kadar kortisol. Ini bukan sekadar rasa nyaman emosional, melainkan reaksi hormonal yang nyata dan protektif bagi jantung.
Sebaliknya, stres relasi kronis meningkatkan lemak sirkulasi dan penanda peradangan seperti interleukin-6 dan C-reactive protein, dua faktor kunci dalam perkembangan aterosklerosis.
Perilaku sehat pun “menular” dalam hubungan. Pria dengan dukungan pasangan yang kuat cenderung makan lebih banyak buah dan sayur.
Ketegangan rumah tangga, sebaliknya, meningkatkan konsumsi alkohol. Jika satu pasangan rutin berolahraga, peluang pasangan lainnya ikut aktif meningkat hingga 67%. Jika satu berhenti merokok, pasangan memiliki peluang 48% lebih besar untuk ikut sukses berhenti.
Sebagian besar program rehabilitasi jantung yang ditinjau melibatkan pasangan hanya sebagai “pendukung teknis”, mengingatkan obat, menemani olahraga, atau mengatur diet.
Hasilnya cukup positif untuk perilaku kesehatan. Namun, kualitas hubungan jarang disentuh.
Hanya dua studi yang benar-benar menggunakan pendekatan terapi pasangan, seperti terapi berbasis mindfulness dan solusi. Program inilah yang menunjukkan penurunan kecemasan, depresi, dan peningkatan persepsi kesehatan pasien.
Sekitar 30% pasien penyakit jantung melaporkan stres hubungan yang signifikan.
Bagi kelompok ini, edukasi kesehatan tanpa memperbaiki relasi berisiko melewatkan akar masalah biologis utama, stres kronis yang terus menaikkan tekanan darah, hormon stres, dan peradangan.
Para peneliti mengusulkan agar rehabilitasi jantung mulai menyaring kualitas hubungan, seperti halnya skrining depresi.
Kuesioner singkat dapat mengidentifikasi pasangan yang membutuhkan dukungan tambahan, mulai dari edukasi dasar hingga rujukan terapi khusus. Pendekatan bertahap ini dinilai efisien dan realistis untuk diterapkan.
Temuan ini sejalan dengan panduan organisasi kesehatan global yang menekankan pentingnya faktor psikososial dalam pencegahan penyakit jantung, termasuk stres kronis dan dukungan sosial.
Artinya, hubungan romantis bukan sekadar urusan perasaan, tetapi juga faktor kesehatan yang nyata dan terukur.
Disadur dari StudyFinds.
إرسال تعليق