'Nggak Sabaran' Ternyata Bisa Diwariskan, Tertulis di DNA Kamu

Sebuah penelitian genetik mengungkap bahwa ketidaksabaran atau kesulitan menunda kepuasan berakar biologis dan berhubungan dengan lebih dari 200 kondisi kesehatan, termasuk penyakit jantung dan obesitas.


Sebuah penelitian genetik mengungkap bahwa ketidaksabaran atau kesulitan menunda kepuasan berakar biologis dan berhubungan dengan lebih dari 200 kondisi kesehatan, termasuk penyakit jantung dan obesitas.Foto Ilustrasi: tirachardz/Freepik


Ringkasan

  • Ketidaksabaran bersifat sebagian genetik dan terkait dengan 212 kondisi kesehatan.
  • Gen yang mengatur pengambilan keputusan “sekarang atau nanti” juga terkait risiko adiksi, obesitas, dan gangguan mental.
  • Lingkungan tetap berperan besar, tetapi pemahaman genetik dapat membantu pengembangan terapi impulsivitas di masa depan.


PERNAHKAH kamu dihadapkan pada pilihan, ambil uang Rp50.000 hari ini atau tunggu sebulan untuk mendapatkan Rp100.000? Jawabanmu ternyata menyimpan rahasia besar tentang kesehatan. 


Para ilmuwan baru-baru ini menemukan bahwa kemampuan menunda kepuasan (delay discounting) sebagian tertulis dalam DNA kita. 


Lebih mengejutkan lagi, orang yang secara genetik cenderung tidak sabar atau kesulitan menunggu hadiah yang lebih besar di masa depan, ternyata lebih rentan terhadap masalah kesehatan.


Orang-orang tersebut rentan kecanduan, obesitas, penyakit jantung, nyeri kronis, dan masalah kesehatan yang muncul lebih awal.


Peneliti dari University of California San Diego dan 23andMe menganalisis hampir 135.000 orang melalui 27 pilihan moneter sederhana. Orang yang cenderung memilih hadiah kecil yang cepat memiliki “discounting” yang lebih curam.


Hasilnya menemukan 11 lokasi DNA yang terkait dengan perilaku ini. Gen-gen tersebut berkelompok di area yang sudah dikenal memengaruhi kecerdasan, risiko adiksi, pengambilan risiko, regulasi berat badan, hingga kondisi psikiatri.


Sekitar 10% variasi ketidaksabaran bersumber dari faktor genetik—angka yang cukup besar mengingat perilaku ini juga sangat dipengaruhi lingkungan. Dan menariknya, sifat tersebut stabil sepanjang hidup seseorang.


Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa impulsivitas memiliki komponen biologis yang terkait struktur dan fungsi sistem dopamin di otak (APA, 2020).


Sejumlah temuan kunci muncul pada kromosom 6 dan 16. Pada kromosom 6, terdapat gen terkait perilaku mengambil risiko, merokok, penggunaan alkohol, bipolar, dan indeks massa tubuh.


Pada kromosom 16, peneliti menemukan 18 gen yang memengaruhi pertumbuhan otak, kecerdasan, dan pola makan, wilayah yang juga berkaitan dengan autisme, ADHD, skizofrenia, dan obesitas.


Salah satu gen paling menarik, SULT1A1, menghasilkan enzim yang dipicu dopamin, sistem penghargaan utama dalam otak. 


Lainnya, SH2B1, berperan dalam pertumbuhan otak dan telah dibuktikan memicu perilaku agresif jika tidak berfungsi normal dalam percobaan pada hewan.


Namun hubungan gen dan ketidaksabaran tidak selalu searah. Misalnya, Ketidaksabaran secara genetik terkait dengan risiko lebih tinggi merokok, depresi, ADHD, obesitas.


Tetapi berkorelasi sebaliknya dengan OCD, anoreksia, autisme, skizofrenia, dan bipolar, individu dengan predisposisi kondisi tersebut cenderung lebih “sabar” secara genetik.


Dengan memeriksa data 67.000 pasien di Vanderbilt University Medical Center, ilmuwan menghitung skor risiko genetik untuk ketidaksabaran. 


Hasilnya mengejutkan, 212 diagnosis medis berkaitan dengan risiko genetik tersebut.


Hubungannya tersebar luas, di antaranya penyakit jantung dan pembuluh darah, diabetes tipe 2, gangguan pernapasan, nyeri kronis, gangguan pencernaan.


Pola usia juga berbeda. Usia muda berkaitan dengan komplikasi kehamilan, sementara usia paruh baya berhubungan dengan depresi, penyalahgunaan zat, obesitas, diabetes. Sedangkan pada usia lanjut terkait dengan penyakit jantung.


Beberapa korelasi melemah setelah faktor merokok diperhitungkan, menunjukkan bahwa sebagian risiko berasal dari perilaku yang cenderung diambil oleh individu yang impulsif. 


Namun hubungan dengan gangguan penglihatan, kondisi kulit, dan beberapa kanker tetap kuat.


Peneliti menilai bahwa delay discounting berpotensi menjadi indikator klinis masa depan untuk impulsivitas dan pengambilan keputusan. Namun tidak ada satu gen pun yang cukup kuat untuk memprediksi perilaku seseorang.


“Ketidaksabaran adalah hasil kontribusi dari ribuan varian kecil,” kata Sandra Sanchez-Roige, penulis senior studi tersebut. Artinya, tes genetik sederhana tidak akan bisa menunjukkan siapa yang “paling tidak sabar.”


Lingkungan tetap memegang peran besar, seperti tekanan ekonomi, trauma, stres berkepanjangan, hingga pola hidup membentuk cara orang menimbang waktu dan imbalan. 


Masyarakat yang tumbuh dalam lingkungan penuh ketidakpastian misalnya, lebih mungkin memilih manfaat cepat karena masa depan terasa kurang dapat diprediksi.


Penelitian ini memperkuat pemahaman bahwa perilaku impulsif bukan hanya soal mengendalikan diri, tetapi juga mencerminkan hubungan kompleks antara gen, lingkungan, dan pilihan hidup.


Disadur dari StudyFinds

Post a Comment

أحدث أقدم