Harga Pangan Naik, Anak Indonesia Terancam Stunting

Kenaikan harga pangan bukan sekadar soal daya beli, tetapi juga soal masa depan kesehatan generasi berikutnya. 


Kenaikan harga pangan bukan sekadar soal daya beli, tetapi juga soal masa depan kesehatan generasi berikutnya.Ilustrasi: alexeyzhilkin/Freepik 


Ringkasan 

  • Lonjakan harga pangan saat krisis meningkatkan risiko stunting dan obesitas anak secara bersamaan.
  • Dampak paling kuat terjadi pada anak usia dini, wilayah perkotaan, dan keluarga berpendidikan rendah.
  • Kebijakan pangan perlu fokus pada kualitas gizi, bukan hanya kecukupan kalori.


LONJAKAN harga pangan saat krisis ekonomi terbukti berdampak jangka panjang pada pertumbuhan anak, memicu stunting sekaligus meningkatkan risiko obesitas.


Dampak ini paling terasa pada kelompok masyarakat perkotaan dan keluarga dengan tingkat pendidikan rendah.


Temuan tersebut diungkap oleh tim peneliti dari University of Bonn, Jerman, yang meneliti dampak krisis finansial Asia akhir 1990-an terhadap tumbuh kembang anak di Indonesia. 


Studi ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Global Food Security dan menjadi salah satu bukti empiris kuat tentang bagaimana gejolak ekonomi dapat menjadi masalah kesehatan jangka panjang melalui mekanisme harga pangan.


Krisis finansial Asia pada 1997–1998 mengguncang perekonomian banyak negara, termasuk Indonesia. Salah satu dampaknya adalah kenaikan tajam harga beras, makanan pokok utama masyarakat. 


Peneliti memanfaatkan situasi ini sebagai “eksperimen alami” untuk melihat bagaimana inflasi harga pangan memengaruhi kesehatan anak dalam jangka panjang.


Untuk itu, tim dari Center for Development Research (ZEF) di University of Bonn menganalisis data Indonesian Family Life Survey (IFLS), survei longitudinal yang mengikuti rumah tangga Indonesia selama puluhan tahun. 


Mereka membandingkan perbedaan inflasi harga beras antarwilayah pada periode 1997–2000, lalu mengaitkannya dengan ukuran tubuh individu saat masa kanak-kanak hingga dewasa muda.


Hasilnya menunjukkan bahwa guncangan harga besar tidak hanya berdampak sesaat, tetapi dapat memengaruhi perkembangan fisik anak secara permanen.


“Kami menemukan bahwa kenaikan harga akibat krisis meningkatkan kekurangan gizi kronis dan berkaitan dengan kenaikan stunting anak sekitar 3,5 poin persentase,” ujar Elza S. Elmira, penulis utama studi tersebut, dikutip dari Medical Xpress. 


Anak-anak yang terdampak berat tidak hanya tumbuh lebih pendek dibandingkan teman sebayanya, tetapi juga lebih rentan mengalami obesitas di kemudian hari.


Temuan ini sempat mengejutkan para peneliti. Bagaimana mungkin stunting, yang identik dengan kekurangan gizi, berjalan beriringan dengan obesitas? 


Menurut Elmira, jawabannya terletak pada pola konsumsi saat krisis. “Dalam situasi sulit, keluarga cenderung mempertahankan asupan kalori, tetapi mengurangi makanan yang lebih mahal dan kaya gizi,” jelasnya.


Akibatnya, muncul apa yang disebut sebagai “kelaparan tersembunyi”: tubuh mendapat energi yang cukup, tetapi kekurangan mikronutrien penting seperti protein berkualitas, vitamin, dan mineral. 


Kondisi ini menghambat pertumbuhan tinggi badan, tanpa selalu menurunkan berat badan secara proporsional.


Penelitian ini melacak anak-anak yang terdampak krisis hingga tahun 2014, ketika mereka berusia 17–23 tahun. 


Hasilnya, anak-anak yang berusia 3–5 tahun saat krisis menunjukkan hubungan signifikan antara paparan lonjakan harga beras dengan indeks massa tubuh (BMI) dan peluang obesitas di usia muda.


Dampak tersebut paling kuat dirasakan di wilayah perkotaan, di mana rumah tangga sangat bergantung pada pembelian makanan. 


Di pedesaan, sebagian keluarga masih dapat memproduksi beras sendiri, sehingga relatif lebih terlindungi. 


Faktor pendidikan ibu juga berperan penting: anak-anak dari ibu dengan tingkat pendidikan rendah cenderung mengalami dampak yang lebih berat.


Para peneliti menegaskan bahwa temuan ini sangat relevan dengan kondisi dunia saat ini. Konflik, pandemi, dan perubahan iklim ekstrem membuat guncangan harga pangan semakin sering terjadi. 


Studi berbasis Indonesia ini memperingatkan bahwa kebijakan pangan yang hanya berfokus pada ketersediaan kalori dapat gagal melindungi anak-anak pada fase perkembangan kritis.


Laporan FAO dan UNICEF juga menegaskan bahwa krisis pangan global meningkatkan risiko stunting dan obesitas secara bersamaan di negara berpendapatan rendah dan menengah, sebuah paradoks gizi yang kini semakin umum.


Disadur dari Medical Xpress.


Post a Comment

أحدث أقدم