Mampukah teknologi menggantikan pengalaman bedah mayat manusia sungguhan?
Ilustrasi dibuat oleh AI.
Ringkasan
- Teknologi seperti VR/AR, meja anatomi digital, dan AI makin banyak menggantikan diseksi tradisional.
- Pengajar terbagi: sebagian melihat efisiensi dan etika lebih baik, sebagian menganggap tubuh nyata tak tergantikan.
- Masa depan kemungkinan berupa kombinasi: mayat digital, tubuh sintetis, dan diseksi manusia untuk latihan tertentu.
BAYANGKAN dada manusia sebesar ruangan memenuhi seluruh pandanganmu. Dalam hitungan detik, ukurannya dapat diperkecil menjadi titik, lalu kembali membesar sementara kamu “mengelupas” kulit, otot, hingga organ dalam.
Semua berlangsung lewat headset VR yang menampilkan teks penjelas di udara.
Pemandangan seperti ini kini bukan fiksi ilmiah. Di banyak sekolah kedokteran di Amerika Serikat, kelas anatomi mulai beralih dari meja diseksi berisi jenazah sungguhan ke meja digital raksasa, model 3D, hingga laboratorium holografis.
Dengan satu sentuhan, mahasiswa dapat melihat kontraksi otot, menelusuri jalur saraf, atau memutar otak hingga terbalik tanpa risiko merusak struktur yang rapuh.
Sandra Brown, profesor terapi okupasi di Jacksonville University, bahkan sepenuhnya mengajar anatomi memakai digital cadavers.
“Diseksi terasa hidup dan sangat visual,” katanya, sambil menambahkan bahwa generasi mahasiswa yang tumbuh dengan ponsel merasa teknologi ini intuitif dan menyenangkan.
Perangkat seperti Anatomage Table, layar besar bergaya tablet yang menampilkan tubuh manusia yang direkonstruksi dari ribuan irisan gambar, sudah dipakai di lebih dari 4.000 lembaga.
Mahasiswa bisa memanipulasi tubuh digital dari segala sudut, mengulang kesalahan, dan meninjau ulang materi yang sulit.
Beberapa pengembang melangkah lebih jauh. Asclepius AI Table, buatan Surglasses, menambahkan asisten berbasis kecerdasan buatan yang bisa merespons perintah suara, memunculkan gambar relevan, bahkan menguji pemahaman pengguna.
Namun, tidak semua pengajar merasa AI sudah siap. Saeed Juggan dari Yale Medical School menilai AI punya kelemahan jika pertanyaan mahasiswa melampaui basis data mereka.
“Lalu apa yang akan dijawab bot?” katanya.
Teknologi VR/AR juga menawarkan pengalaman mendalam, seperti “masuk” ke dalam jantung manusia atau menjelajahi ruang kecil di kepala yang mustahil dilihat dari jenazah utuh tanpa merusaknya.
Tetapi, sebagian mahasiswa mengalami motion sickness, dan tidak semua struktur anatomi lebih mudah dipahami lewat headset.
Meski teknologi berkembang cepat, sebagian pendidik tetap yakin tubuh manusia nyata tak tergantikan.
William Stewart dari Yale University menggambarkan diseksi sebagai pengalaman belajar multisensori, yakni melihat, menyentuh, merasakan tekstur, hingga aroma formalin yang khas.
Semua unsur itu, menurutnya, membangun pemahaman yang tak dapat diberikan model digital mana pun.
Sentuhan etika juga hadir. Diseksi manusia selalu memiliki sejarah kelam, dari pencurian mayat pada abad ke-18 hingga penyalahgunaan tubuh donor di era modern.
Investigasi baru-baru ini bahkan menemukan kasus sisa jenazah donor dijual untuk latihan militer tanpa sepengetahuan keluarga.
Di sinilah digital cadavers menawarkan alternatif mengurangi kebutuhan jenazah nyata, menekan biaya laboratorium basah, dan menghindari polemik etika.
Selain itu, tubuh digital dapat “direset” berkali-kali, berbeda dengan mayat sungguhan yang hanya bisa dipakai satu kali untuk setiap prosedur.
Namun, bagi mahasiswa seperti Ezra Feder dari Icahn School of Medicine, pengalaman emosional menghadapi kematian tetap punya nilai. “Ada sesuatu tentang paparan pada tubuh manusia yang sulit digantikan,” ujarnya.
Sebagian besar pakar sepakat, diseksi mayat manusia tidak akan hilang dalam waktu dekat, terutama untuk latihan bedah yang membutuhkan ketepatan rasa dan koordinasi tangan.
Bahkan neurosurgeon di Yale masih berlatih operasi kompleks seperti hemispherectomy pada jenazah sebelum melakukannya pada pasien hidup.
Tetapi masa depan bisa berbeda. Dengan semakin majunya operasi robotik dan laparoskopi, yang terasa seperti bermain gim layar, banyak aspek anatomi bisa dipelajari tanpa harus memegang tubuh yang membusuk.
Bahkan perusahaan biotek kini mengembangkan synthetic cadavers, tubuh buatan dari termoplastik dan bahan organik sintetis yang menyerupai tekstur manusia nyata tanpa risiko etika atau pembusukan.
Bila tren ini berlanjut, sangat mungkin generasi dokter berikutnya belajar anatomi dari perpaduan mayat digital, mayat sintetis, dan sebagian kecil tubuh manusia sungguhan.
Sebuah laboratorium hibrida, tanpa bau formalin, tanpa rasa takut, tapi tetap akurat secara klinis.
Disadur dari Smithsonian Magazine.
.jpg)
إرسال تعليق