Material seperti mooncrete mampu melindungi dari perubahan suhu ekstrem di permukaan Bulan.
Ringkasan
- Mooncrete, material bangunan dari batu Bulan, diuji untuk struktur habitat astronot yang bisa tahan perubahan suhu ekstrem Bulan.
- Simulasi menunjukkan struktur mooncrete bisa menjaga suhu dalam ruangan tetap nyaman meski luar sangat ekstrem.
- Menggunakan regolith lokal jauh lebih murah daripada membawa bahan bangunan dari Bumi.
MISI Artemis NASA dan rencana serupa dari China membuka pertanyaan besar, bagaimana cara membangun tempat tinggal yang aman dan tahan ekstremnya lingkungan Bulan?
Suhu di Bulan berubah drastis sepanjang hari, dari sangat panas sampai sangat dingin, sehingga struktur yang kuat dan efektif sangat dibutuhkan.
Para ilmuwan kini sedang menguji konsep mooncrete, sebuah bahan bangunan yang mirip concrete di Bumi tetapi terbuat dari regolith, lapisan batu dan debu yang menutupi permukaan Bulan.
Konsep ini dipresentasikan dalam pertemuan tahunan American Geophysical Union (AGU) 2025 di New Orleans.
Regolith adalah lapisan campuran partikel halus dan fragmen batuan yang menyelimuti Bulan, hasil dari miliaran tahun hantaman meteoroid. Karena melimpah dan kaya mineral seperti silikon serta oksigen, material ini menjadi kandidat ideal untuk bahan konstruksi di luar Bumi.
Untuk membuat mooncrete, regolith ini dicampur dengan bahan pengikat seperti belerang (sulfur) yang juga tersedia di permukaan Bulan.
Pengikat ini membantu membuat struktur yang cadas dan padat tanpa perlu mengirim semen dari Bumi, yang sangat mahal.
Karena jumlah batu Bulan asli yang tersedia di Bumi sangat terbatas, sebagian besar eksperimen menggunakan analognya, material di Bumi yang menyerupai regolith asli.
Namun dari simulasi struktur berbentuk kubah yang dibuat menggunakan data eksperimen regolith sebelumnya, model mooncrete menunjukkan kemampuan luar biasa dalam menjaga temperatur dalam ruangan tetap nyaman, sekitar 22°C, meskipun suhu di luar berubah ekstrem.
Salah satu temuan penting adalah bahwa dua lapisan mooncrete yang dipisahkan oleh ruang hampa justru meningkatkan efek isolasinya.
Karena panas bergerak lebih lambat di ruang hampa dibanding melalui material padat, kombinasi ini membuat dinding struktur lebih efektif menahan panas atau dingin ekstrem dari luar.
Hal ini sangat penting. Permukaan Bulan tidak memiliki atmosfer yang melindungi dari radiasi atau perubahan suhu, sehingga pembangunan struktur yang mampu mengatur suhu internal sangat krusial bagi keselamatan astronaut.
Para peneliti menilai bahwa mooncrete berpotensi menjalankan tugas ini jauh lebih baik daripada struktur yang dibawa dari Bumi.
Biaya mengirimkan material dari Bumi ke Bulan sangat tinggi, untuk hanya 1 kilogram barang bisa memakan biaya lebih dari $100.000 jika diluncurkan ke Bulan.
Dengan memanfaatkan bahan lokal seperti regolith untuk membuat mooncrete, biaya pembangunan pangkalan bulan bisa ditekan sangat signifikan.
Pendukung konsep ini termasuk Adhrit Maiti, seorang murid SMA yang menjadi penulis pertama studi tersebut, yang mengatakan bahwa menggunakan material yang ditemukan di Bulan akan menghemat banyak dana.
Meskipun menjanjikan, mooncrete masih dalam tahap penelitian dan pengembangan.
Salah satu fokus riset adalah memastikan bahwa struktur beton lunar ini benar-benar tahan terhadap siklus suhu ekstrem dan radiasi kosmik panjang yang tak ada di Bumi.
Menurut para ahli, aspek ini sangat penting untuk keamanan astronaut di pangkalan bulan di masa depan.
Penelitian lain menunjang gagasan ini. Para insinyur juga sedang mengembangkan teknik 3D printing dengan regolith untuk membuat bata atau dinding modular.
Selain itu, metode lain untuk membuat bahan bangunan dari regolith yang tak bergantung pada semen tradisional yang sulit diproduksi di luar Bumi.
Studi tentang mooncrete ini mengisi celah penting dalam penelitian habitat di Bulan, karena tidak hanya soal produksi materialnya, tetapi juga memastikan bahwa struktur yang dibangun mampu melindungi astronaut dari kondisi lingkungan yang keras.
Disadur dari Eos.

إرسال تعليق