Studi terbaru mengungkap alam semesta mungkin berakhir lewat peristiwa Big Crunch dalam 19 miliar tahun mendatang, mematahkan teori ekspansi abadi.
Ringkasan
- Studi terbaru menunjukkan alam semesta mungkin tidak berakhir karena pendinginan abadi, melainkan akan menyusut dan hancur (Big Crunch).
- Perubahan ini didasari oleh temuan bahwa konstanta kosmologis (energi gelap) mungkin melemah seiring waktu, bukan konstan.
- Para ilmuwan memperkirakan sisa umur alam semesta tinggal sekitar 19 miliar tahun lagi sebelum runtuh total.
PERNAHKAH kamu bertanya-tanya bagaimana semua ini, bintang, galaksi, dan kita, akan berakhir?
Selama ini, teori yang paling populer adalah alam semesta akan terus mengembang hingga mendingin dan mati dalam kesunyian (Big Freeze).
Namun, riset terbaru membawa kabar yang cukup mengejutkan. Alam semesta mungkin justru akan berakhir dalam sebuah "remukan" dahsyat.
Para ilmuwan baru-baru ini menggunakan pemahaman matematika terbaru untuk memperkirakan bahwa alam semesta memiliki batas usia.
Inti dari temuan ini terletak pada "konstanta kosmologis", sebuah angka kunci yang menggambarkan bagaimana alam semesta mengembang. Ternyata, angka ini mungkin tidak "konstan" seperti namanya.
Kosmologi, bidang studi yang mempelajari asal-usul dan nasib alam semesta, memang penuh dengan istilah rumit.
Namun, Popular Mechanics menyederhanakannya dengan analogi diet. Bayangkan jika tubuhmu yang tadinya terus bertambah berat badan satu kilogram per minggu, tiba-tiba berbalik menjadi turun satu kilogram per minggu. Hasil akhirnya tentu akan sangat berbeda.
Begitu pula dengan alam semesta. Kita tahu ada materi tak terlihat bernama "energi gelap" (dark energy) yang mendorong alam semesta untuk terus mengembang, melawan gaya gravitasi yang berusaha menarik semuanya menyatu.
Selama ini, energi gelap dianggap sebagai kekuatan yang konstan dan positif (mendorong keluar).
Namun, data terbaru dari Dark Energy Survey (DES) dan Dark Energy Spectroscopic Instrument (DESI) yang dirilis awal tahun ini mengubah peta permainan.
Para peneliti dari AS, Cina, dan Spanyol yang menerbitkan studi mereka di Journal of Cosmology and Astroparticle Physics menemukan bahwa pengaruh energi gelap mungkin melemah seiring waktu.
Jika ini terjadi, gravitasi akan menang. Alam semesta akan berhenti mengembang dan mulai menyusut.
Menggunakan model matematika yang telah disesuaikan ini, tim peneliti memperkirakan total masa hidup alam semesta kita adalah sekitar 33 miliar tahun.
Mengingat usia alam semesta saat ini sudah sekitar 13,8 miliar tahun, itu artinya kita "hanya" memiliki sisa waktu sekitar 19 miliar tahun lagi sebelum semuanya menjadi garing dan remuk (crispity crunchity).
Ini adalah perubahan paradigma yang besar. Beberapa tahun lalu, konsensus ilmiah meyakini bahwa alam semesta akan mengembang selamanya.
Kini, skenario Big Crunch, di mana alam semesta runtuh kembali ke titik singularitas yang sangat padat dan panas, menjadi kemungkinan yang nyata.
Sebagai tambahan informasi yang relevan, konsep "konstanta kosmologis" ini sebenarnya pertama kali diperkenalkan oleh Albert Einstein.
Awalnya, Einstein memasukkan konstanta ini dalam Teori Relativitas Umum untuk membuat alam semesta tampak statis (diam), karena saat itu belum diketahui bahwa alam semesta sedang mengembang.
Ketika Edwin Hubble membuktikan bahwa alam semesta mengembang, Einstein menyebut konstanta itu sebagai "blunder terbesar" dalam hidupnya.
Namun, ironisnya, dalam kosmologi modern, konstanta itu dihidupkan kembali untuk menjelaskan energi gelap.
Bedanya, studi terbaru di atas menunjukkan bahwa "blunder" Einstein ini jauh lebih dinamis daripada yang diduga sang jenius fisika tersebut.
Jika alam semesta menyusut dan hancur, apakah ia akan meledak kembali dan melahirkan alam semesta baru dalam siklus tanpa henti (Big Bounce)?
Tim peneliti menanggapi teori ini dengan hati-hati. "Meskipun sangat tidak mungkin, kita tidak bisa mengesampingkan bahwa... ada cara bagi alam semesta untuk bertransisi ke siklus berikutnya," tulis para peneliti.
Namun, mereka menegaskan bahwa jika pun ada "reinkarnasi" alam semesta, bentuknya akan sangat berbeda dari yang kita huni sekarang, bukan sekadar pengulangan siklus.
Jadi, bagi siapa pun yang berharap meninggalkan pesan untuk makhluk di alam semesta baru 19 miliar tahun dari sekarang, bersiaplah kecewa.
Paradigma baru nanti mungkin tidak memiliki manusia, kertas, atau bahkan bintang seperti yang kita kenal.
Disadur dari Popular Mechanics.

Posting Komentar