Hasil studi menantang model standar kosmologi dan memaksa ilmuwan mempertimbangkan ulang asumsi dasar tentang struktur alam semesta.
Ilustrasi: NASA Hubble Space Telescope via UnsplashRingkasan
- Tata Surya mungkin bergerak 3 kali lebih cepat daripada perhitungan model kosmologi saat ini.
- Temuan ini muncul dari analisis distribusi galaksi radio menggunakan jaringan teleskop LOFAR.
- Hasilnya menantang asumsi kuat bahwa alam semesta bersifat seragam dalam skala besar.
JIKA kamu membaca artikel ini sambil duduk santai, sebenarnya kamu sedang melaju kencang menembus ruang angkasa.
Bumi berputar mengelilingi Matahari, Matahari berputar mengelilingi pusat Bima Sakti, dan seluruh tata surya kita meluncur di antara galaksi-galaksi lain.
Selama bertahun-tahun, ilmuwan memperkirakan kecepatan gerak tata surya sekitar 515.000 mph (sekitar 828.000 km/jam). Bukan angka kecil, tapi ternyata masih jauh dari kenyataan.
Sebuah penelitian terbaru yang dipimpin astrofisikawan Lukas Böhme dari Bielefeld University menunjukkan sesuatu yang mengejutkan. Tata surya kita bisa saja bergerak lebih dari tiga kali lipat lebih cepat dari angka itu.
Temuan ini dipublikasikan di jurnal Physical Review Letters.
Untuk memahami kecepatan gerak tata surya, tim ilmuwan mempelajari persebaran galaksi radio, galaksi sangat jauh yang memancarkan gelombang radio kuat.
Saat tata surya bergerak, jumlah galaksi radio yang tampak “mengumpul” ke arah gerak akan sedikit lebih banyak, layaknya angin menghadapi kepala pengendara motor. Fenomena ini disebut sebagai dipole anisotropy.
Masalahnya, “dorongan” kosmik ini sangat halus dan nyaris tak terdeteksi.
Karena itu, tim menggunakan data dari jaringan teleskop radio Low Frequency Array (LOFAR) yang tersebar di seluruh Eropa, lalu menggabungkannya dengan dua observatorium radio lainnya.
Setelah digabungkan, sinyal yang muncul justru sangat kuat, bahkan menyimpang hingga lima sigma, tingkat signifikansi statistik yang biasanya dianggap bukti kuat dalam fisika.
Intensitas dipole yang terdeteksi 3,7 kali lebih besar dari prediksi model kosmologi standar.
Dalam model kosmologi klasik, alam semesta dianggap seragam pada skala besar.
Artinya, distribusi galaksi jauh seharusnya cukup rata, tanpa bias arah. Jika tata surya melaju jauh lebih cepat dari yang diperkirakan, salah satu dari dua hal harus benar:
- Model kosmologi standar salah, atau
- Distribusi galaksi radio tidak se-uniform yang kita pikirkan.
Menurut kosmolog Dominik J. Schwarz, temuan ini menantang dasar-dasar pemahaman kita tentang struktur kosmik.
Jika dipole anisotropy sebesar itu benar-benar mencerminkan kecepatan tata surya, maka pandangan kita mengenai gerak dan distribusi materi di alam semesta perlu diperbarui.
Perubahan kecil dalam data kosmologi bisa berdampak besar pada pemahaman kita tentang asal-usul alam semesta, evolusi galaksi, hingga cara kita memetakan ruang-waktu.
Jika tata surya bergerak tiga kali lebih cepat dari perkiraan, berbagai model tentang radiasi latar belakang kosmik (CMB), struktur skala besar, dan dinamika Bima Sakti bisa terkena imbasnya.
Selain itu, penelitian ini menunjukkan betapa sensitifnya pengamatan astronomi modern. Dengan teknologi teleskop radio ultra-presisi, ilmuwan bisa menangkap “hembusan angin kosmik” yang dulunya mustahil dipetakan.
Penemuan ini bukan akhir, tetapi awal dari penyelidikan yang lebih besar. Para ilmuwan kini perlu menganalisis lebih banyak data, termasuk menggabungkan hasil radio dengan observasi inframerah dan optik.
Hanya dengan data gabungan, kita bisa memastikan apakah anisotropi ini benar-benar menunjukkan gerak ekstrem tata surya atau ada faktor kosmik lain yang selama ini kita lewatkan.
Yang jelas, alam semesta kembali mengingatkan kita, bahkan hal yang tampak “pasti” seperti kecepatan perjalanan kosmik pun masih menyimpan kejutan.
Disadur dari Interesting Engineering.
Posting Komentar