Jepang Pasang Senjata Laser Raksasa, Bisa Hanguskan Drone Lewat Cahaya

Jepang secara resmi memasang senjata laser penghancur drone di kapal JS Asuka untuk memulai uji coba tempur di laut.


Sistem senjata laser yang dipasang di atas kapal JS Asuka. Ilustrasi dibuat oleh AI berdasarkan foto JS Asuka via ZME Science.Sistem senjata laser yang dipasang di atas kapal JS Asuka. Ilustrasi dibuat oleh AI berdasarkan foto JS Asuka via ZME Science.


Ringkasan

  • Jepang memasang senjata laser 100 kilowatt di kapal uji JS Asuka untuk menghadapi ancaman drone dan mortir.
  • Laser menawarkan biaya per tembakan murah dan “amunisi nyaris tak terbatas” selama listrik tersedia.
  • Uji coba laut pada 2026 akan menentukan apakah teknologi ini efektif dalam kondisi laut nyata.


JIKA kamu melihat dek belakang kapal JS Asuka milik Angkatan Laut Jepang, ada sesuatu yang tampak mencolok namun misterius. Sekilas, benda berbentuk kubah itu mirip antena GPS biasa. 


Tapi jangan terkecoh, di balik kubah tersebut tersembunyi senjata laser energi tinggi yang dirancang khusus untuk membakar drone dan proyektil mortir bahkan sebelum mereka sempat menyentuh lambung kapal.


Kementerian Pertahanan Jepang melalui Badan Logistik, Teknologi, dan Akuisisi (ATLA) baru saja mengonfirmasi pada Desember 2025 bahwa instalasi "senjata masa depan" ini telah tuntas. 


Langkah ini bukan sekadar pamer teknologi, melainkan persiapan serius menuju uji coba laut yang dijadwalkan pada tahun 2026.


Senjata laser kelas 100 kilowatt ini sebenarnya adalah hasil penggabungan cerdas. 


Alih-alih menggunakan satu sumber energi raksasa, ATLA menggabungkan sepuluh laser serat berkekuatan masing-masing 10 kilowatt buatan Kawasaki Heavy Industries menjadi satu berkas cahaya tunggal yang mematikan.


Sistem ini dikemas dalam dua modul berukuran kontainer pengiriman sepanjang 12 meter. Di dalamnya terdapat rangkaian laser serat, optik pengontrol berkas, sistem daya, hingga unit pendingin. 


Bayangkan, sebuah senjata yang tidak butuh peluru fisik, hanya butuh aliran listrik dan pendinginan yang stabil untuk melumpuhkan musuh.


Kenapa Jepang (dan sejumlah negara lainnya) begitu terobsesi dengan laser? 


Alasannya adalah ekonomi perang. Saat ini, drone murah seharga ratusan dolar bisa menjadi ancaman serius bagi kapal perang bernilai triliunan rupiah. 


Menembakkan rudal pencegat yang harganya jutaan dolar untuk menjatuhkan drone "murahan" adalah strategi yang bakal bikin bangkrut.


Laser hadir sebagai game changer. "Selama daya listrik tersedia, sistem ini bisa terus menghadapi ancaman tanpa kehabisan amunisi," ungkap pihak ATLA.


Biaya per tembakannya secara teknis hanya seharga tagihan listrik untuk satu kali tembak, jauh lebih efisien daripada mengisi ulang stok rudal di tengah laut.


Meski terdengar sempurna seperti di film fiksi ilmiah, senjata laser punya kelemahan teknis yang nyata. Mengutip laporan dari Defense News, laser energi tinggi sangat tidak efisien dalam penggunaan daya. 


Untuk menghasilkan laser 100 kilowatt, sistem ini butuh pasokan listrik hingga 300 kilowatt karena banyaknya energi yang terbuang sebagai panas.


Uji coba di kapal JS Asuka nanti akan membuktikan apakah perangkat keras ini sanggup bertahan menghadapi kerasnya laut. 


Kelembapan udara, percikan air garam, hingga guncangan kapal adalah musuh alami bagi presisi cahaya laser. 


Jika sukses, teknologi ini akan menjadi benteng pertahanan utama Jepang dalam menghadapi serangan drone massal (drone swarm) yang kini kian marak dalam konflik modern.


Disadur dari ZME Science.


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama