Jejak Perempuan Petarung di Arena Romawi Kuno

Bukti terbatas menunjukkan perempuan pernah bertarung sebagai gladiator di Romawi, meski jumlahnya sangat langka dan bersifat pertunjukan eksklusif.


Bukti terbatas menunjukkan perempuan pernah bertarung sebagai gladiator di Romawi, meski jumlahnya sangat langka dan bersifat pertunjukan eksklusif.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan 

  • Catatan sejarah dan artefak membuktikan keberadaan gladiator perempuan, namun jumlahnya sangat sedikit.
  • Kebanyakan berasal dari kelompok budak atau perempuan yang terlilit utang.
  • Pertunjukan mereka bersifat eksklusif dan tidak ditujukan untuk duel mematikan.


ROMAWI KUNO identik dengan arena brutal seperti Colosseum, tempat gladiator saling bertarung untuk hiburan publik. Namun satu pertanyaan klasik terus muncul, "apakah ada perempuan gladiator?"


Menurut Live Science, jawabannya adalah "ya, tetapi sangat jarang terjadi." Bukti keberadaan mereka bertumpu pada belasan teks kuno, beberapa prasasti, serta sedikit artefak yang menggambarkannya. 


Catatan sejarah menunjukkan bahwa pada tahun A.D. 11 dan A.D. 19, Senat Romawi sampai mengeluarkan larangan bagi perempuan kalangan atas dan perempuan merdeka di bawah usia 20 tahun untuk tampil di arena. 


Sekitar tahun 200 Masehi, Kaisar Septimius Severus kembali mengeluarkan larangan baru, setelah satu pertunjukan mengundang candaan pedas yang menyinggung perempuan bangsawan lain.


Dalam masyarakat Romawi, yang patriarkal dan membatasi perempuan dari dunia politik serta militer, kehadiran gladiator perempuan terasa janggal. 


Namun perempuan Romawi bukan sepenuhnya tak berdaya. Sebagian menjalankan bisnis, menjadi dokter, hingga memiliki properti.


Sayangnya, informasi mengenai identitas perempuan gladiator sangat terbatas. 


Banyak sejarawan sepakat bahwa seperti gladiator laki-laki, sebagian besar dari mereka kemungkinan adalah budak hasil penaklukan perang, hukuman kriminal, atau penebusan utang.


Peneliti Anna Miączewska dari Maria Curie-Skłodowska University menyebut bahwa sebagian gladiator perempuan adalah budak yang melakukan kejahatan.


Sementara lainnya mungkin perempuan merdeka yang terjerat utang dan “menjual” kebebasannya ke sekolah gladiator.


Namun ada pengecualian. Beberapa perempuan bangsawan tampaknya tertarik tampil di arena, mirip dengan Kaisar Commodus yang gemar bertarung demi menunjukkan kekuasaan. 


Catatan Tacitus menyebut bahwa pada masa Nero, sejumlah “perempuan terhormat dan senator” turut tampil di arena sebagai gladiator, hal yang dianggap memalukan pada masanya.


Berbeda dengan gladiator laki-laki yang memiliki sistem kelas, jenis senjata, dan pelatihan yang cukup mapan, gambaran tentang pertarungan gladiator perempuan masih kabur. 


Salah satu bukti kuat adalah relief dari Halicarnassus (Turki) yang menampilkan dua gladiator perempuan bernama “Amazon” dan “Achillia,” lengkap dengan pedang dan perisai ala 'provocator'


Menariknya, mereka digambarkan bertarung tanpa helm dan dengan dada terbuka, kemungkinan untuk mempertontonkan identitas dan wajah mereka pada publik.


Sebuah patung kecil lainnya menampilkan gladiator perempuan dengan senjata 'sica, khas kelas 'thraex'. Lagi-lagi tanpa helm. 


Peneliti Alfonso Mañas menduga bahwa penampilan fisik memainkan peran besar dalam seleksi gladiator perempuan, karena sumber kuno menyebut para peserta dipilih berdasarkan “kecantikan,” bukan kekuatan.


Lebih lanjut, Mañas menegaskan bahwa mereka kemungkinan tidak bertarung sampai mati, sebab tidak ada catatan perempuan gladiator yang tewas di arena maupun makam yang mengindikasikan profesi ini.


Itu berbanding lebih dari 1.000 nisan gladiator laki-laki yang sudah ditemukan.


Sebagian besar pertunjukan gladiator perempuan terjadi dalam acara eksklusif yang disponsori kaisar. Pertunjukan ini mahal, langka, dan bersifat tontonan elite. 


Peneliti Virginia Campbell menilai bahwa meski kecantikan mungkin diprioritaskan, kebugaran fisik tetap penting, mengingat biaya pelatihan gladiator tidak murah dan sifat pertunjukan menuntut hiburan, bukan kematian.


Puisi dari Statius bahkan memuji duel mereka, menyamakannya dengan Para Amazon yang bertarung di Sungai Tanais - gambaran bahwa sejumlah penonton betul-betul terkesan dengan kemampuan mereka.


Disadur dari Live Science.


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama