Inovasi Jamur Pengganti Plastik Sekali Pakai, Bisa Dimakan pula

Lapisan pelindung ini tumbuh langsung di permukaan material dan berpotensi menggantikan pelapis plastik sekali pakai yang selama ini mencemari lingkungan.


Lapisan pelindung ini tumbuh langsung di permukaan material dan berpotensi menggantikan pelapis plastik sekali pakai yang selama ini mencemari lingkungan.Foto Ilustrasi: Hailey Braile/Pixabay


Ringkasan

  • Jamur “turkey tail” (Trametes versicolor) dapat tumbuh menjadi pelapis alami penahan air, minyak, dan lemak.
  • Pelapis ini bekerja pada berbagai bahan seperti kertas, denim, felt, dan kayu tipis.
  • Teknologi ini berpotensi menggantikan plastik sekali pakai secara lebih ramah lingkungan.


PARA peneliti dari American Chemical Society menemukan cara baru untuk membuat bahan seperti kertas, kain, dan kayu menjadi tahan air, minyak, dan lemak—menggunakan jamur yang bisa dimakan. 


Dalam laporan di jurnal Langmuir (ACS), para peneliti memperkenalkan ide menarik, yakni memanfaatkan jamur yang bisa dimakan sebagai alternatif pelapis plastik pada bungkus makanan dan gelas kertas. 


Fokus utamanya adalah jamur Trametes versicolor, atau lebih dikenal sebagai turkey tail, spesies yang jamaknya ditemukan tumbuh seperti kipas berwarna di batang kayu lapuk.


Menurut Caitlin Howell dari University of Maine, tujuan utama penelitian ini adalah menyediakan opsi realistis untuk mengurangi ketergantungan pada plastik sekali pakai. 


“Alam menawarkan solusi elegan dan berkelanjutan,” ujarnya, dan teknologi berbasis jamur ini bisa menjadi salah satunya.


Jamur pada dasarnya lebih dari tubuh buah yang kita lihat di permukaan tanah. Di bawahnya, ada jaringan luas serabut halus yang disebut mycelium. Jaringan inilah yang memiliki sifat alami menolak air. 


Selama beberapa tahun terakhir, berbagai penelitian telah mengubah sifat istimewa ini menjadi produk nyata, dari kulit ramah lingkungan, kain konduktif, hingga bahan seperti busa kemasan.


Sementara itu, partikel mikroskopis dari serat kayu (cellulose nanofibrils) juga dikenal mampu membentuk lapisan anti oksigen, minyak, dan lemak. 


Kombinasi keduanya, jamur dan serat kayu, menjadi target eksperimen tim Howell untuk membuat pelapis yang aman untuk makanan, berkarakter hidrofobik, dan sepenuhnya berbasis bahan alami.


Prosesnya sederhana namun inovatif. Para peneliti:

  1. Menggabungkan mycelium jamur T. versicolor dengan larutan kaya nutrisi berisi cellulose nanofibrils.
  2. Mengoleskan campuran tipis ini pada bahan seperti denim, felt poliester, kayu veneer birch, dan dua jenis kertas.
  3. Membiarkan jamur tumbuh selama beberapa hari di lingkungan hangat.
  4. Mematikan jamur dengan oven setelah pelapis terbentuk, sekaligus mengeringkan lapisannya.


Dalam tiga hari, lapisan yang tahan air mulai terbentuk; dalam empat hari, ketebalannya hanya setara satu lapisan cat. Namun, warnanya berubah, pola kuning, jingga, hingga kecoklatan muncul alami karena pertumbuhan jamur.


Pada uji coba, air yang diteteskan di atas bahan berlapis jamur membentuk titik seperti manik, sedangkan pada bahan tanpa pelapis langsung meresap. 


Pelapis jamur juga mampu menahan n-heptana, toluena, hingga minyak jarak, menunjukkan bahwa pelindung ini dapat menjadi penghalang banyak jenis cairan, bukan hanya air.


Temuan ini menunjukkan bahwa teknologi berbasis jamur berpotensi besar menggantikan plastik pelapis pada kemasan makanan, termasuk bungkus sekali pakai, pembungkus sandwich, hingga pelapis gelas kopi. 


Bahkan penelitian terkait mycelium sebagai bahan pengganti plastik sudah berkembang jauh. Beberapa perusahaan kini menumbuhkan mycelium untuk membuat material mirip styrofoam.


Para peneliti optimistis. Jika teknologi ini dikembangkan secara industri, kita bisa memiliki lapisan pelindung yang aman dimakan, biodegradable, dan memanfaatkan sumber daya alami yang melimpah.


Ini dapat mengurangi jejak plastik di tempat pembuangan dan lautan, sekaligus membuka era baru kemasan berbasis organisme hidup yang ramah lingkungan.


Disadur dari laman American Chemical Society.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama