Apakah Alien Memahami Fisika Seperti Kita?

 Atau justru mereka punya semesta yang berbeda sama sekali


Alien bisa saja maju secara teknologi tanpa pernah menemukan “teori ilmiah” seperti kita.Ilustrasi dibuat oleh AI


Ringkasan

  • Cara manusia memahami alam bisa jadi hanya cocok bagi spesies kita.
  • Alien bisa saja maju secara teknologi tanpa pernah menemukan “teori ilmiah” seperti kita.
  • Pencarian kehidupan cerdas di luar bumi juga ujian terhadap ego dan batas nalar manusia.


BAGAIMANA jika para alien tak memahami fisika seperti kita? Mungkin mereka tak peduli dengan hukum Newton, tak mengenal relativitas Einstein, atau bahkan menertawakan konsep “gaya gravitasi”. 


Gagasan itu bukanlah fiksi ilmiah semata, melainkan pertanyaan filosofis yang dilontarkan oleh fisikawan partikel Daniel Whiteson dan ilustrator Andy Warner dalam buku terbaru mereka, Do Aliens Speak Physics?.


Whiteson, yang juga fisikawan di CERN dan Universitas California, Irvin, berangkat dari pertanyaan sederhana, apakah fisika yang kita pahami ini benar-benar universal, atau hanya hasil cara berpikir manusia?


Dalam wawancara dengan Gizmodo, ia menegaskan bahwa banyak ilmuwan terlalu percaya diri bahwa hukum alam berlaku sama di mana pun. 


“Saya ingin menantang pandangan itu,” ujarnya. “Mungkin ada unsur kemanusiaan dalam cara kita melakukan sains—dari jenis pertanyaan yang kita ajukan hingga jawaban yang kita anggap memuaskan.”


Warner, rekan penulis sekaligus kartunis sains, menghidupkan gagasan ini lewat ilustrasi penuh humor, misalnya alien yang berdiskusi tentang donut kuantum atau partikel yang menolak dipahami.


Buku Do Aliens Speak Physics? membuka dengan versi diperluas dari persamaan Drake, formula klasik yang memperkirakan jumlah peradaban cerdas di galaksi.


Whiteson menambahkan variabel baru: bukan hanya apakah ada kehidupan cerdas, tapi apakah mereka juga melakukan sains seperti kita. 


Ia berandai tentang sebuah “Konferensi Sains Antar-Galaksi”, tempat umat manusia bisa bertukar teori dan eksperimen dengan makhluk dari bintang lain—jika saja mereka berpikir dengan pola yang sama.


Sayangnya, kemungkinan itu kecil. “Akan jauh lebih sulit kalau mereka tidak tertarik dengan pertanyaan yang sama,” katanya. “Mereka bisa saja memandang realitas dari sudut yang sepenuhnya berbeda.”


Salah satu ide menarik dari buku ini: kemajuan teknologi tidak selalu berarti kemajuan sains. Manusia sudah mampu membuat api, menulis, dan bertani ribuan tahun sebelum mengerti fisika di baliknya.


“Teknologi bisa tumbuh tanpa pengetahuan ilmiah,” jelas Whiteson. “Mungkin ada peradaban alien yang punya kapal bintang, tapi mereka tak pernah menulis satu pun rumus.”


Hal itu memunculkan paradoks: bila mereka tak memahami sains dengan cara kita, bagaimana kita bisa berkomunikasi dengan mereka?


Whiteson juga menyinggung konsep emergence, bagaimana kesederhanaan muncul dari kerumitan. Mengapa alam semesta bisa dipahami lewat rumus sederhana, padahal kenyataannya begitu kompleks?


“Mungkin kesederhanaan itu bukan sifat alam, tapi hasil cara kita memandangnya,” katanya. 


Artinya, sains kita hanyalah satu dari banyak “filter” untuk memahami realitas. Alien bisa saja memiliki filter lain yang tak kita pahami—bahkan mungkin tak bisa kita bayangkan.


Dalam salah satu bagian buku, Whiteson ditanya apakah komunikasi antarspesies di Bumi bisa menjadi latihan menghadapi alien. Ia tertawa, tapi setuju. 


“Mungkin belajar bahasa lumba-lumba tak akan langsung membantu, tapi kegagalan kita memahami mereka menunjukkan betapa sedikitnya kita tahu tentang cara makhluk lain berpikir.”


Pada akhirnya, pencarian alien bukan sekadar tentang menemukan “mereka”, tapi juga tentang memahami “kita”


Whiteson menyebutnya sebagai “pencarian ego manusia”—keinginan untuk divalidasi oleh keberadaan cerdas lain di alam semesta.


Jika ternyata tak ada alien yang berpikir seperti kita, para filsuf mungkin akan senang karena itu membuka ruang introspeksi. Barangkali sains yang kita banggakan hanyalah produk budaya khas manusia, bukan kebenaran universal.


Namun bagi fisikawan, itu adalah mimpi buruk—karena artinya kita sendirian dalam memahami semesta.


Terlepas dari kesimpulan apa pun, Whiteson tetap optimistis. 


“Kalaupun fisika tidak universal, saya tetap ingin memahaminya,” ujarnya. “Sains adalah cara kita berhubungan dengan alam semesta. Dan itu, menurut saya, sangat manusiawi.”


Disadur dari Gizmodo


Post a Comment

أحدث أقدم