Habiskan Hidupnya di Udara, Kapinis Terbang 10 Bulan Tanpa Henti

Burung layang-layang atau kapinis mampu terbang hampir tanpa henti hingga 10 bulan, menghabiskan lebih dari 99,5 persen hidupnya di udara.


Burung layang-layang atau kapinis mampu terbang hampir tanpa henti hingga 10 bulan, menghabiskan lebih dari 99,5 persen hidupnya di udara.Ilustrasi: Kev/Pixabay


Ringkasan

  • Kapinis dapat terbang hampir tanpa henti hingga 10 bulan, menghabiskan lebih dari 99,5% waktunya di udara.
  • Penelitian Lund University (2016) melacak burung ini menggunakan alat pencatat data mini selama migrasi Eropa–Afrika.
  • Adaptasi tubuh, bulu sayap, dan pola makan di udara memungkinkan penerbangan ekstrem tersebut.


BAYANGKAN penerbangan panjang hampir sehari menuju negara lain. Melelahkan, bukan? Namun, bagi common swift atau layang-layang biasa (Apus apus), perjalanan sejauh itu hanyalah pemanasan. 


Burung kecil ini memegang salah satu rekor paling ekstrem di dunia hewan, terbang nyaris tanpa henti selama 10 bulan penuh tanpa benar-benar mendarat.


Fakta mencengangkan ini bukan sekadar cerita legenda alam. Dugaan bahwa layang-layang bisa bertahan begitu lama di udara sudah muncul sejak 1970-an, diusulkan oleh ornitolog asal Wales, Ronald Lockley


Namun, bukti ilmiah baru benar-benar datang pada 2016, lewat penelitian tim dari Lund University, Swedia, yang memantau langsung kehidupan burung-burung ini selama migrasi panjang mereka.


Para peneliti melacak 13 ekor layang-layang dewasa dengan alat pencatat data mini. 


Perangkat ini dilengkapi akselerometer untuk memantau aktivitas terbang, serta sensor cahaya untuk menentukan lokasi burung berdasarkan siklus siang-malam. Beberapa individu bahkan dipantau selama lebih dari satu tahun.


Hasilnya luar biasa. Layang-layang tersebut hanya benar-benar “menetap” di daratan sekitar dua bulan dalam setahun, saat musim berkembang biak. 


Dalam sisa waktu sekitar 10 bulan, mereka bermigrasi dari Eropa menuju wilayah selatan Sahara dan kembali lagi. 


Meski sebagian sempat mendarat sebentar, secara keseluruhan mereka menghabiskan lebih dari 99,5 persen waktu migrasi di udara.


Lebih ekstrem lagi, tiga ekor burung dalam penelitian itu tidak tercatat mendarat sama sekali selama 10 bulan penuh. 


Prestasi ini makin mengagumkan jika mengingat bobot tubuh layang-layang hanya sekitar 40 gram, lebih ringan dari satu batang cokelat kecil.


Mengapa sebagian burung bisa terus terbang, sementara yang lain sesekali mendarat? Peneliti menduga jawabannya ada pada bulu sayap. 


Burung yang sempat mendarat diketahui belum mengganti (molting) bulu sayapnya, sementara mereka yang terus terbang justru telah menumbuhkan bulu baru.


Menurut Anders Hedenström, penulis utama studi ini, perbedaan tersebut mungkin berkaitan dengan kondisi fisik atau beban parasit. Faktor kecil ini bisa memengaruhi apakah seekor burung mampu mempertahankan penerbangan ekstrem tanpa jeda.


Dari sisi fisiologi, layang-layang memang “dirancang” untuk terbang efisien. Tubuh mereka ramping, dengan sayap panjang dan sempit yang menghasilkan gaya angkat besar dengan konsumsi energi minimal. 


Adaptasi ini memungkinkan mereka melayang dan meluncur dalam waktu lama tanpa kelelahan berlebihan.


Soal makanan? Mereka tidak perlu mendarat untuk makan. Layang-layang berburu serangga yang juga beterbangan di udara, menjadikan langit sekaligus sebagai dapur berjalan.


Satu pertanyaan besar masih menggantung, apakah layang-layang tidur saat terbang? Belum ada jawaban pasti. Namun, para ilmuwan menduga mereka mungkin meniru burung fregat, yang diketahui bisa tidur sambil meluncur.


Setiap hari, saat senja dan fajar, layang-layang tercatat naik hingga ketinggian 2–3 kilometer. Ada dugaan mereka beristirahat atau tidur singkat saat meluncur turun perlahan dari ketinggian ini, namun bukti langsung masih belum ada.


Yang jelas, kemampuan terbang hampir tanpa henti selama 10 bulan adalah prestasi biologis yang luar biasa. Layang-layang biasa membuktikan bahwa batas daya tahan makhluk hidup bisa jauh melampaui bayangan manusia.


Disadur dari IFL Science.


Post a Comment

أحدث أقدم