Bintang raksasa merah Kepler-56 berputar sangat cepat dan aneh, diduga karena bintang tersebut telah menelan salah satu planetnya sendiri.
Ringkasan
- Kepler-56 berputar sangat cepat dan memiliki putaran inti–atmosfer yang tak selaras.
- Penelitian menduga bintang ini telah menelan sebuah “hot Jupiter” bermassa besar.
- Temuan ini menambah bukti bahwa relasi bintang–planet bisa sangat dinamis dan destruktif.
FENOMENA aneh pada bintang Kepler-56 kembali membuat para astronom menggaruk kepala.
Bintang raksasa merah yang diamati oleh misi Kepler ini menunjukkan putaran selubung luar yang jauh lebih cepat dari normal, sekitar 10 kali lebih gesit dari kebanyakan bintang sejenis.
Tak hanya itu, arah putar inti dan atmosfernya juga tak sejalan, seakan-akan kerak dan mantel Bumi memutar ke arah berbeda. Mengapa Kepler-56 bisa “seliar” itu?
Jawaban paling masuk akal, menurut penelitian terbaru Takato Tokuno dari Universitas Tokyo, adalah bintang ini pernah memakan planetnya sendiri.
Kepler-56 memang diketahui memiliki dua planet yang masih utuh, tetapi Tokuno menduga ada saudara yang hilang, sebuah planet besar yang kini sudah lenyap, mungkin ditelan sang bintang.
Hipotesis makan-planet ini muncul karena penjelasan lain tidak cocok dengan data.
Misalnya, gaya tarik planet pada bintang memang dapat memengaruhi rotasi, tetapi untuk menciptakan putaran secepat ini, planet-planet Kepler-56 harus memiliki efisiensi “menyulut” putaran yang luar biasa besar.
Dalam pra-cetak yang diunggah ke arXiv pada 29 Oktober 2024, Tokuno menghitung bahwa planet yang hilang itu harus bermassa antara setengah hingga dua kali massa Jupiter.
Orbitnya pun ekstrem, hanya 1–6 hari mengitari bintang sebelum akhirnya tersedot masuk. Nilai itu sesuai dengan karakter “hot Jupiter”, sejenis planet raksasa gas yang mengorbit sangat dekat dengan bintang induk—dan kerap berakhir tragis.
Jika planet tersebut menabrak bintang dengan sudut miring, tabrakan itu bisa menjelaskan dua hal sekaligus, rotasi atmosfer yang supercepat dan ketidakselarasan antara putaran inti dengan lapisan luarnya.
Analogi mudahnya, seperti meteorit besar menabrak Bumi dari samping dan membuat rotasi planet berubah arah sedikit.
Tokuno juga membuka kemungkinan alternatif. Kepler-56 mungkin memang sejak lahir sudah berputar cepat.
Namun skenario ini masih menyisakan teka-teki, kenapa inti dan atmosfernya kini tidak sejajar? Dan jika putaran tinggi sudah ada sejak muda, apa pemicunya?
Salah satu jawaban paling masuk akal tetap kembali ke skenario awal, mungkin sebuah planet sudah “dikunyah” sejak bintang ini belum memasuki fase raksasa merah.
Fakta menariknya, kasus bintang yang memakan planet bukan hal langka. Studi-studi sebelumnya, misalnya riset oleh NASA dan ESO, menunjukkan bahwa banyak bintang tua memiliki kandungan logam tertentu yang mirip “sidik jari” planet berbatu.
Dalam beberapa kasus, para astronom bahkan berhasil melihat bintang yang sedang melahap planet secara langsung melalui perubahan cahaya dan emisi gas di sekitarnya.
Dengan kata lain, Kepler-56 bukan sekadar bintang “aneh”, tetapi bagian dari pola yang semakin memperlihatkan bahwa hubungan planet dan bintang bisa jauh lebih dramatis daripada yang kita bayangkan.
Disadur dari Space.com
.jpg)
إرسال تعليق