Setengah dari anjing di Amerika Serikat ternyata mengalami kelebihan berat badan, dan penyebabnya bukan cuma karena mereka suka minta camilan.
Ringkasan
- Ras, lingkungan, dan motivasi makanan sangat memengaruhi risiko obesitas anjing.
- Pemilik cenderung bertindak hanya jika mereka sendiri menyadari anjingnya kegemukan.
- Banyak dokter hewan tidak mencatat status tubuh anjing secara lengkap, menyulitkan pengelolaan berat badan.
STUDI baru dari Texas A\&M University bersama Dog Aging Project mengungkap bahwa obesitas pada anjing jauh lebih kompleks, melibatkan faktor genetika, lingkungan, hingga perilaku pemiliknya.
Kalau kamu punya anjing yang doyan minta makanan tiap jam, mungkin kamu mengira berat badannya yang naik adalah hal wajar.
Tapi studi ini membongkar kenyataan bahwa obesitas pada anjing dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling terkait, dan tidak semuanya terlihat jelas.
Tim peneliti menganalisis data dari ribuan pemilik dan dokter hewan, lalu menemukan bahwa jenis ras sangat memengaruhi risiko kegemukan.
Misalnya, ras retriever seperti Labrador dan Golden Retriever memiliki motivasi makan lebih tinggi dibanding anjing ras lain.
“Jenis anjing sporting seperti retriever memang cenderung lebih termotivasi oleh makanan,” jelas Dr. Kate Creevy, kepala dokter hewan di Dog Aging Project.
“Karena mereka termasuk ras populer, pemilik dan dokter hewan harus lebih waspada soal pengelolaan pola makan.”
Ternyata bukan cuma ras yang berpengaruh, tempat tinggal dan jumlah anjing dalam rumah juga penting. Anjing yang tinggal di kota atau bersama beberapa anjing lain cenderung lebih sering makan.
Kenapa? Bisa jadi karena kurang aktivitas atau pemilik yang memilih memberi makan bebas karena praktis. Hal ini meningkatkan kemungkinan makan berlebihan, terutama jika tak disertai aktivitas fisik yang memadai.
Menariknya, studi ini juga menemukan bahwa pemilik hanya peduli berat badan anjing jika mereka sendiri menyadarinya. Kalau dokter hewan yang bilang tapi pemiliknya tidak melihat masalah, biasanya saran itu diabaikan.
Salah satu penyebabnya adalah ketidaktahuan soal Body Condition Score (BCS), alat penilaian visual yang digunakan dokter hewan untuk mengukur kadar lemak tubuh anjing.
Menurut Creevy, pemilik anjing yang aktif dalam olahraga anjing cenderung lebih tahu soal BCS.
Sayangnya, sekitar sepertiga catatan medis anjing tidak mencantumkan BCS dalam satu tahun terakhir. Padahal, ini penting untuk memantau dan mengatur berat badan secara rutin.
Seperti manusia, menurunkan berat badan pada anjing juga sulit. Seringkali, pemilik tidak konsisten menerapkan rencana diet yang disarankan dokter hewan. Apalagi jika rencana tersebut tidak disesuaikan dengan kebutuhan spesifik si anjing.
“Beberapa ras mungkin butuh aturan makan yang lebih ketat,” ujar Creevy. Artinya, pendekatan personal yang melibatkan pemilik dan dokter hewan sangat penting untuk keberhasilan program diet anjing.
Kegemukan bukan cuma masalah penampilan. Anjing obesitas lebih rentan terhadap penyakit kulit, diabetes, dan radang sendi.
Itulah mengapa penting bagi dokter hewan untuk memahami peran faktor sosial, lingkungan, dan demografis dalam kasus obesitas anjing.
Kalau kamu curiga anjingmu kelebihan berat badan, langkah terbaik adalah konsultasi ke dokter hewan. Dengan bantuan profesional, kamu bisa dapat panduan pola makan, aktivitas, dan pemantauan yang pas.
Disadur dari Earth.com.

Posting Komentar