Manusia yang Salah, Bikin Hewan-hewan Supergede Musnah

Antara 50.000 hingga 10.000 tahun lalu, ratusan spesies hewan-hewan besar atau megafauna musnah. Para peneliti terus mencoba untuk mencari tahu penyebabnya. 


Gambar hanya ilustrasi. (vector_corp/Freepik)
Gambar hanya ilustrasi. (vector_corp/Freepik)


ngarahNyaho - Setelah dinosaurus tiada, Bumi menjadi rumah bagi berbagai jenis hewan raksasa baru, mulai dari sloth yang menjulang melebihi manusia hingga kanguru raksasa.


Namun, antara sekitar 50.000  10.000 tahun yang lalu, hampir 200 spesies hewan terbesar di dunia menghilang selamanya, hanya menyisakan tulang (dan liang) mereka yang sangat besar. 


Tidak jelas apa yang akhirnya merenggut nyawa makhluk luar biasa ini.


Ketika megafauna menghilang, dunia memanas dan zaman es berakhir. Kondisi itu menunjukkan potensi dari penyebab musnahnya hewan-hewan besar itu: perubahan iklim! 


Sementara itu, manusia berekspansi ke daratan baru, mengejar kekayaan sumber daya yang datang seiring dengan menyusutnya es. Ini jadi satu dugaan penyebab lainnya. 


Perdebatan mengenai peran kedua faktor penyebab potensial ini terus memanas.


Kini sebuah studi baru mengenai penurunan jumlah mamalia herbivora raksasa atau megaherbivora menunjukkan dampak buruk pada umat manusia.


Hilangnya megafauna mengubah pola vegetasi. (Grafis: Svenning dkk/Extinction)
Hilangnya megafauna mengubah pola vegetasi. (Grafis: Svenning dkk/Extinction)


Fosil menunjukkan bahwa, 50.000 tahun yang lalu, setidaknya terdapat 57 spesies megaherbivora. Saat ini, hanya tersisa 11 spesies. 


Hewan-hewan tersebut termasuk hewan raksasa seperti kuda nil dan jerapah, serta beberapa spesies badak dan gajah, yang banyak di antaranya terus menyusut.


Penurunan drastis tersebut, menurut para peneliti, tidak sejalan dengan perubahan iklim sebagai satu-satunya penyebab.


“Hilangnya megafauna secara besar-besaran dan sangat selektif selama 50.000 tahun terakhir merupakan hal yang unik selama 66 juta tahun terakhir," kata Jens-Christian Svenning dari Universitas Aarhus, Denmark


"Periode perubahan iklim sebelumnya tidak menyebabkan kepunahan selektif dalam skala besar, sehingga hal ini bertentangan dengan peran besar iklim dalam kepunahan megafauna," tambah ahli makroekologi itu


“Pola penting lainnya yang menentang peran iklim adalah bahwa kepunahan megafauna baru-baru ini terjadi di wilayah yang iklimnya stabil sama parahnya dengan di wilayah yang tidak stabil.”


Studi baru ini terdiri dari tinjauan komprehensif terhadap bukti yang tersedia sejak kepunahan dinosaurus 66 juta tahun lalu. 


Itu mencakup lokasi dan waktu kepunahan, preferensi habitat dan makanan, perkiraan ukuran populasi, bukti perburuan manusia, pergerakan populasi manusia, serta data iklim dan vegetasi sejak jutaan tahun yang lalu.


Kita tahu bahwa manusia hidup berdampingan dengan megafauna, dan kita punya bukti adanya beberapa spesies yang diburu hingga punah. Kita tahu nenek moyang kita mampu berburu hewan besar secara efektif.


“Manusia modern awal adalah pemburu yang efektif bahkan terhadap spesies hewan terbesar dan jelas memiliki kemampuan untuk mengurangi populasi hewan besar,” kata Svenning.


Dia mengatakan, hewan-hewan besar ini sangat rentan terhadap eksploitasi berlebihan. 


"Mereka memiliki masa kehamilan yang lama, menghasilkan keturunan yang sangat sedikit, dan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mencapai kematangan seksual.”


Penelitian baru menunjukkan bahwa pemburu manusia ini cukup efektif dan berkontribusi signifikan terhadap banyak kepunahan. 


Tim peneliti menemukan bahwa megaherbivora punah dalam berbagai skenario iklim, di mana mereka mampu berkembang secara efektif bahkan di masa perubahan. 


Para peneliti menemukan bahwa sebagian besar dari mereka akan beradaptasi dengan baik terhadap lingkungan yang memanas.


Dan mereka mati pada waktu dan tingkat kematian yang berbeda, namun semuanya terjadi setelah manusia tiba, atau setelah manusia mengembangkan cara untuk memburu mereka. 


Faktanya, eksploitasi mamut, mastodon, dan sloth raksasa cukup konsisten di mana pun manusia berada.


Mungkin alasan mengapa mammoth bertahan di Pulau Wrangel setelah populasi di daratan menghilang adalah karena tidak ada manusia di sana.


Ini adalah pemikiran yang serius, terutama karena megafauna yang bertahan saat ini semakin berkurang akibat eksploitasi manusia, seperti yang ditemukan dalam sebuah penelitian pada tahun 2019. 


Sekitar 98 persen spesies megafauna yang terancam punah berisiko musnah karena masyarakat tidak berhenti memakannya.


“Hasil kami menyoroti perlunya upaya konservasi dan restorasi aktif,” kata Svenning. 


“Dengan memperkenalkan kembali mamalia besar, kita dapat membantu memulihkan keseimbangan ekologi dan mendukung keanekaragaman hayati, yang berevolusi di ekosistem yang kaya akan megafauna.”


Hasil penelitian Svening dan rekan-rekannya itu telah dipublikasikan di Cambridge Prisms: Extinction. | Sumber: Science Alert 

Post a Comment

أحدث أقدم