Cantik di Mata, Hangat di Hati: Cara Kita Menilai Fisik dan Kepribadian Wanita

 Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa daya tarik fisik wanita dinilai dari bentuk tubuh, sedangkan kepribadian baik terlihat dari gerakan dan gestur.


Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa daya tarik fisik wanita dinilai dari bentuk tubuh, sedangkan kepribadian baik terlihat dari gerakan dan gestur.Ilustrasi: Vijay Hu/Pixabay


Ringkasan

  • Daya tarik fisik perempuan terutama dinilai dari ciri tubuh statis seperti BMI.
  • Kepribadian lebih banyak disimpulkan dari gerakan tubuh dan gestur.
  • Bahasa tubuh positif yang diamati dari waktu ke waktu memperkuat kesan kehangatan.


KESAN pertama memang tidak pernah bohong, tapi tahukah kamu bahwa otak kita menggunakan "jalur" yang berbeda saat menilai kecantikan fisik dan kepribadian seseorang? 


Sebuah studi baru dari Shanghai International Studies University dan McGill University yang diterbitkan dalam jurnal BMC Psychology mengungkapkan fakta unik.


Kita menilai kecantikan lewat fitur tubuh yang diam, namun menilai kebaikan hati lewat cara seseorang bergerak.


Para peneliti ingin membedah fenomena halo effect, sebuah kondisi psikologis di mana kita cenderung menganggap orang yang cantik pasti memiliki sifat yang baik. 


Ternyata, proses otak dalam menyimpulkan kedua hal tersebut sangatlah kontras.


Dalam penelitian ini, para ilmuwan melibatkan 15 model wanita yang diukur secara mendetail, mulai dari tinggi badan, berat badan, hingga rasio pinggang-pinggul. 


Para peserta kemudian diminta menilai daya tarik para model melalui foto (diam) dan video (bergerak).


Hasilnya cukup mengejutkan. Untuk urusan daya tarik fisik, fitur tubuh yang statis, terutama Indeks Massa Tubuh (BMI), menjadi penentu utama. 


Model dengan BMI yang lebih rendah secara konsisten dianggap lebih menarik, baik saat mereka diam dalam foto maupun saat bergerak di video. 


Fitur lain seperti warna kulit dan rasio bahu-pinggul juga berpengaruh, namun BMI tetap menjadi "juara" dalam memprediksi skor kecantikan.


Intinya, untuk urusan estetika mata, otak kita bekerja seperti alat pemindai cepat yang melihat proporsi biologis yang dianggap sehat dan ideal secara evolusi.


Namun, ceritanya berubah total saat peserta diminta menilai sifat-sifat ekspresif seperti kehangatan, simpati, dan rasa pengertian. Di sini, bentuk tubuh hampir tidak punya pengaruh sama sekali.


Kepribadian justru terpancar lewat gerakan tubuh (body motion). Model yang menggunakan banyak gestur tangan dan bahasa tubuh yang terbuka saat berbicara dinilai jauh lebih hangat dan memiliki empati tinggi. 


Menariknya, penilaian sifat ini sulit dilakukan hanya lewat foto. Otak kita membutuhkan durasi waktu untuk melihat bagaimana seseorang bergerak sebelum menyimpulkan apakah orang tersebut memiliki kepribadian yang menyenangkan.


Sebuah riset dari Journal of Nonverbal Behavior juga menunjukkan bahwa "kehadiran dinamis" atau cara seseorang membawa dirinya secara alami dapat menutupi kekurangan fitur fisik statis. 


Postur tubuh yang tegak namun santai mengirimkan sinyal kepercayaan diri yang secara otomatis meningkatkan skor daya tarik secara keseluruhan di mata orang lain.


Studi di BMC Psychology ini juga menemukan bahwa model yang berpose secara spontan (alami) dianggap lebih menarik daripada mereka yang dipaksa mengikuti instruksi gaya tertentu. 


Ini membuktikan bahwa manusia memiliki insting alami untuk tampil menarik saat mereka menjadi diri sendiri.


Disadur dari PsyPost.


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama