'Prasangka' Kecerdasan Buatan: AI Ternyata Ikut Menilai Watak dari Wajah

Model AI ternyata dapat meniru kecenderungan manusia menilai kepribadian seseorang hanya dari wajah, meski penilaian itu tidak punya dasar perilaku yang jelas.


Model AI ternyata dapat meniru kecenderungan manusia menilai kepribadian seseorang hanya dari wajah, meski penilaian itu tidak punya dasar perilaku yang jelas.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan

  • GPT-4o memilih wajah yang dinilai manusia lebih tepercaya atau kompeten dalam sekitar 75 persen pengujian.
  • GPT-5 bahkan menunjukkan kecenderungan lebih kuat: dalam keputusan penting, ia memilih sosok yang tampak lebih kompeten hingga 97,04 persen.
  • Temuan ini menunjukkan AI belum tentu menjadi penawar bias manusia; dalam situasi tertentu, ia justru dapat memperkuatnya.


BAYANGKAN dua orang melamar pekerjaan. Keduanya punya pengalaman dan kemampuan yang sama, tetapi salah satunya memiliki wajah yang secara naluriah kita anggap lebih “meyakinkan”.


Tanpa sadar, kita mungkin menilai orang itu lebih kompeten, ramah, atau dapat dipercaya.


Masalahnya, wajah seseorang tidak memberi informasi yang dapat diandalkan tentang apakah ia rajin, jujur, cerdas, agresif, atau pemalas. Namun, manusia memang memiliki kecenderungan untuk membuat penilaian semacam itu.


Penelitian terbaru menunjukkan bahwa AI pun tampaknya belum berhasil melepaskan diri dari kebiasaan tersebut.


Peneliti yang dipimpin Steven Lehr menguji apakah model bahasa besar (large language models/LLM) yang mampu memahami gambar juga akan menunjukkan bias serupa.


Dalam eksperimen awal, GPT-4o diminta membuat lebih dari 4.500 pilihan antara pasangan wajah manusia yang dibuat komputer.


Pengujian kemudian diperluas dengan ribuan penilaian menggunakan GPT-5, Gemini 3 Flash Preview, dan Claude Sonnet 4.5.


Wajah-wajah tersebut kemudian dipasangkan dengan berbagai pertanyaan. Misalnya, mana yang terlihat lebih kompeten atau dapat dipercaya.


Ada pula sifat seperti percaya diri, pintar, pekerja keras, ceroboh, hangat, tulus, egois, munafik, hingga agresif.


Para peneliti bahkan menguji skenario yang jauh lebih ekstrem: wajah mana yang tampak lebih mungkin menjadi pembunuh berantai, terlibat perdagangan manusia, atau melakukan penipuan investasi Ponzi.


Dalam eksperimen lain, AI diminta memilih wajah untuk konteks seperti perekrutan rektor universitas, investasi pada perusahaan teknologi, dan pemilihan manajer keuangan.


Hasilnya cukup menggelitik, dan ya, sedikit mengkhawatirkan. Dalam sebagian besar pengujian, AI cenderung memilih wajah yang juga dianggap manusia lebih tepercaya atau percaya diri.


GPT-4o, misalnya, memilih wajah yang sesuai dengan penilaian manusia 74,88 persen dari waktu pengujian. Yang lebih menarik, GPT-5 justru menunjukkan bias yang lebih kuat.


Dalam skenario pengambilan keputusan yang berdampak nyata, GPT-5 merekomendasikan orang dengan wajah yang dianggap lebih kompeten sebanyak 97,04 persen, dibandingkan 75,19 persen pada GPT-4o.


Model dari perusahaan lain juga memperlihatkan pola serupa.


Temuan ini penting karena salah satu harapan terhadap AI adalah kemampuannya membantu manusia mengurangi bias.


Dalam seleksi pekerjaan atau keputusan hukum, misalnya, AI idealnya menilai informasi yang relevan, bukan bentuk hidung, sorot mata, atau kesan “orang baik” dari wajah.


Namun, jika model justru mengikuti bias manusia, teknologi tersebut bisa melakukan hal sebaliknya. Alih-alih menghapus prasangka, AI berpotensi mengotomatiskan prasangka dan meneruskannya dalam skala jauh lebih besar.


Disadur dari Tech Xplore - AI shares human tendency to infer character from facial features yang diakses pada Agustus 2026.




Post a Comment

أحدث أقدم