Mutasi Genetik Akibat Radiasi Chernobyl Diduga Turun ke Anak

Hampir 40 tahun setelah bencana nuklir Chernobyl, penelitian terbaru menemukan jejak mutasi genetik tertentu yang diduga diwariskan kepada anak dari ayah yang pernah terpapar radiasi.


Hampir 40 tahun setelah bencana nuklir Chernobyl, penelitian terbaru menemukan jejak mutasi genetik tertentu yang diduga diwariskan kepada anak dari ayah yang pernah terpapar radiasi.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan

  • Penelitian tahun 2025 menemukan peningkatan mutasi DNA berkelompok (clustered de novo mutations) pada anak dari ayah yang terpapar radiasi ionisasi.
  • Temuan ini berbeda dengan studi besar tahun 2021 yang tidak menemukan peningkatan keseluruhan mutasi baru pada keturunan penyintas Chernobyl.
  • Para peneliti menegaskan bahwa tambahan risiko penyakit genetik akibat mutasi tersebut diperkirakan sangat kecil dibandingkan risiko genetik alami.


BENCANA nuklir di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Chernobyl, Ukraina, pada 26 April 1986 merupakan salah satu kecelakaan nuklir terburuk dalam sejarah. 


Ledakan reaktor nomor 4 melepaskan material radioaktif ke atmosfer dan menyebar ke berbagai wilayah Eropa. 


Selain menimbulkan korban jiwa akibat paparan radiasi akut, ratusan ribu pekerja dikerahkan selama bertahun-tahun untuk membersihkan area yang terkontaminasi.


Empat dekade kemudian, dampak kesehatan dari bencana tersebut masih terus dipelajari. 


Salah satu pertanyaan yang paling sulit dijawab adalah apakah paparan radiasi dapat meninggalkan jejak genetik yang kemudian diwariskan kepada generasi berikutnya.


Sebuah penelitian yang dipimpin dokter sekaligus ahli genetika Peter Krawitz dari University of Bonn dan dipublikasikan di jurnal Scientific Reports pada 2025 mencoba menjawab pertanyaan itu. 


Alih-alih menghitung semua mutasi baru pada anak, tim peneliti memusatkan perhatian pada jenis mutasi yang lebih spesifik, yaitu clustered de novo mutations (cDNMs).


Mutasi de novo merupakan perubahan DNA yang muncul untuk pertama kalinya pada seorang anak dan tidak ditemukan pada kedua orang tuanya. 


Sementara itu, cDNMs adalah kumpulan beberapa mutasi baru yang muncul sangat berdekatan dalam satu bagian genom.


Menurut hasil penelitian tersebut, anak-anak yang ayahnya pernah terpapar radiasi ionisasi menunjukkan jumlah cDNMs yang sedikit lebih tinggi dibandingkan kelompok pembanding. 


Sinyal ini terutama terlihat pada paparan dari pihak ayah, bukan secara umum dari kedua orang tua.


Meski demikian, temuan tersebut bukan berarti DNA orang tua yang rusak akibat radiasi secara langsung diwariskan begitu saja kepada anak. 


Para ilmuwan justru menduga bahwa paparan radiasi mungkin meningkatkan kemungkinan munculnya kelompok mutasi baru selama proses pembentukan sel reproduksi.


Radiasi ionisasi memang telah lama diketahui mampu merusak DNA. 


Energi radiasi dapat memutus untai DNA, mengubah struktur basa penyusunnya, bahkan menyebabkan perpindahan atau kehilangan bagian kromosom. 


Namun, membuktikan bahwa kerusakan tersebut benar-benar meninggalkan "sidik jari" genetik yang dapat diwariskan kepada manusia jauh lebih rumit.


Untuk memperkuat analisisnya, tim Krawitz menggunakan dua sumber data. 


Selain meninjau kembali data keluarga korban Chernobyl yang sebelumnya telah dipublikasikan, mereka juga menganalisis kelompok pensiunan operator radar militer Jerman pada era Perang Dingin yang pernah terpapar radiasi dalam pekerjaannya.


Pendekatan ini berbeda dari penelitian besar yang diterbitkan di jurnal Science pada 2021. 


Studi tersebut menyimpulkan bahwa anak-anak dari orang tua yang terpapar radiasi akibat kecelakaan Chernobyl tidak mengalami peningkatan jumlah keseluruhan mutasi de novo, baik dari segi jumlah, jenis, maupun penyebarannya.


Karena itu, penelitian terbaru tidak bertentangan secara langsung dengan studi sebelumnya. 


Fokus keduanya memang berbeda. Studi tahun 2021 melihat semua mutasi baru, sedangkan penelitian 2025 hanya mencari pola mutasi yang berkelompok.


Yang juga penting dicatat, mutasi yang ditemukan hanya dapat dideteksi melalui analisis genom berteknologi tinggi. Mutasi tersebut tidak menimbulkan ciri fisik yang tampak dan tidak otomatis menyebabkan penyakit.


Bahkan, para peneliti menyimpulkan bahwa peningkatan risiko penyakit genetik akibat cDNMs yang berkaitan dengan radiasi tergolong sangat kecil dibandingkan risiko dasar yang memang dimiliki setiap manusia. 


Mereka juga menemukan bahwa usia ayah saat pembuahan memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap risiko munculnya mutasi genetik baru dibandingkan peningkatan akibat paparan radiasi yang mereka amati.


Meski hasilnya menarik, penelitian ini masih memiliki sejumlah keterbatasan. Perkiraan dosis radiasi yang diterima para peserta dibuat secara retrospektif sehingga mengandung ketidakpastian. 


Selain itu, proses identifikasi mutasi cDNMs tergolong sangat rumit secara teknis dan sebagian hasilnya masih sulit divalidasi secara independen. 


Faktor seperti sukarelawan yang bersedia ikut penelitian, lokasi tempat tinggal, hingga kondisi lingkungan juga berpotensi memengaruhi hasil.


Sementara itu, United Nations Scientific Committee on the Effects of Atomic Radiation (UNSCEAR) masih menyatakan, dampak jangka panjang Chernobyl yang paling kuat didukung bukti ilmiah adalah meningkatnya kasus kanker tiroid pada orang yang terpapar saat masih muda.


Selain itu,  adanya bukti peningkatan leukemia dan katarak pada pekerja yang menerima dosis radiasi tinggi.


Ke depan, para ilmuwan berharap penelitian dengan jumlah peserta yang lebih besar dapat memberikan jawaban yang lebih pasti. 


Salah satunya melalui NCI/DCEG TRIO Study, sebuah proyek yang menargetkan sekitar 450 keluarga yang terdiri atas ayah, ibu, dan anak untuk memahami lebih jauh bagaimana paparan radiasi dapat memengaruhi genom manusia lintas generasi.


Disadur dari Popular Mechanics - The Stewards of Chernobyl Are Passing Mutations Down to Their Children yang diakses pada Juli 2026.




Post a Comment

أحدث أقدم