Mengelus Kucing Saat Stres Belum Tentu Menenangkan Diri

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa mengelus kucing atau anjing ternyata tidak selalu membantu meredakan dampak stres saat itu juga.


Penelitian terbaru menunjukkan bahwa mengelus kucing atau anjing ternyata tidak selalu membantu meredakan dampak stres saat itu juga.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan

  • Penelitian menemukan interaksi dengan kucing maupun anjing umumnya meningkatkan suasana hati pemilik.
  • Namun, berinteraksi dengan hewan peliharaan tidak terbukti mengurangi dampak stres yang sedang dirasakan pada saat itu.
  • Pada pemilik kucing, interaksi yang lebih intens saat sedang stres justru dikaitkan dengan emosi negatif yang terasa lebih kuat, meski temuan ini masih perlu diteliti lebih lanjut.


BANYAK orang menganggap hewan peliharaan sebagai "obat penenang" alami ketika menghadapi hari yang berat. Cukup duduk bersama kucing di sofa atau mengelus anjing beberapa menit dipercaya mampu mengusir rasa cemas dan stres. 


Akan tetapi, studi terbaru dari peneliti di Belanda menunjukkan bahwa manfaat tersebut mungkin bekerja dengan cara yang berbeda dari yang selama ini diduga.


Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Frontiers in Psychology mencoba menjawab pertanyaan sederhana: apakah hewan peliharaan benar-benar melindungi pemiliknya dari dampak buruk stres?


Menurut penulis korespondensi penelitian, Dr. Mayke Janssens, dosen psikologi di The Open University Belanda, hasil penelitian menunjukkan bahwa mekanisme tersebut bukanlah "stress buffering".


Stress buffering adalah kemampuan meredam dampak stres secara langsung ketika stres sedang terjadi.


"Efek positif interaksi dengan hewan peliharaan memang nyata, tetapi tampaknya bukan karena mereka membantu kita menghadapi stres pada saat itu juga," jelas Janssens.


Untuk memahami hubungan ini, tim peneliti melibatkan para pemilik kucing dan anjing dalam pemantauan aktivitas sehari-hari.


Selama lima hari berturut-turut, setiap peserta menerima 10 notifikasi melalui aplikasi ponsel. 


Setiap kali mendapat pemberitahuan, mereka diminta mengisi kuesioner singkat mengenai kondisi emosional saat itu, tingkat stres yang dirasakan, aktivitas yang sedang dilakukan, serta apakah mereka sedang berada bersama atau berinteraksi dengan hewan peliharaannya.


Metode ini menghasilkan hampir 8.000 laporan kondisi secara real time, sehingga peneliti dapat melihat perubahan suasana hati dari waktu ke waktu dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya berdasarkan ingatan peserta.


Pendekatan seperti ini dikenal sebagai experience sampling method, yaitu teknik yang banyak digunakan dalam psikologi untuk menangkap pengalaman seseorang secara langsung ketika peristiwa sedang berlangsung. 


Cara ini dinilai mampu mengurangi bias ingatan yang sering muncul pada survei biasa.


Secara umum, hasil penelitian menunjukkan bahwa keberadaan maupun interaksi dengan hewan peliharaan berkaitan dengan emosi yang lebih positif.


Ketika peserta lebih banyak berinteraksi dengan hewan peliharaannya, mereka cenderung melaporkan perasaan yang lebih menyenangkan dan emosi negatif yang lebih rendah dibandingkan saat tidak berinteraksi.


Temuan tersebut berlaku baik pada pemilik anjing maupun pemilik kucing.


Peneliti pertama, Dr. Sanne Peeters, menjelaskan bahwa hal ini mungkin dipengaruhi oleh kecocokan antara pemilik dan hewan peliharaannya.


Orang yang memilih memelihara anjing umumnya memang menyukai karakter anjing, sementara pencinta kucing juga memiliki kedekatan emosional dengan sifat khas kucing. 


Kesesuaian ini diduga ikut berperan dalam munculnya manfaat emosional tersebut.


Bagian paling menarik dari penelitian ini muncul ketika peneliti menganalisis kondisi peserta yang sedang mengalami stres.


Mereka ingin mengetahui apakah berinteraksi dengan hewan peliharaan mampu mengurangi dampak negatif stres dibandingkan hanya sekadar berada di dekat hewan tersebut.


Jawabannya ternyata tidak.


Baik mengelus, mengajak bermain, maupun bentuk interaksi lainnya tidak terbukti membuat stres menjadi lebih ringan pada saat itu juga.


Dengan kata lain, walaupun seseorang merasa lebih bahagia ketika bersama hewan peliharaan, manfaat tersebut tampaknya bukan karena hewan tersebut secara langsung "mematikan" efek stres yang sedang dialami.


Para peneliti menduga ada mekanisme lain yang bekerja.


Salah satu kemungkinan adalah bahwa hewan peliharaan memberikan rasa kebersamaan (companionship), mengurangi rasa kesepian, serta membuat seseorang merasa memiliki teman yang selalu hadir. 


Efek-efek inilah yang mungkin berkontribusi terhadap kesejahteraan emosional secara keseluruhan, bukan kemampuan menghalau stres secara instan.


Penemuan yang paling mengejutkan justru muncul pada kelompok pemilik kucing.


Saat pemilik kucing sedang mengalami stres, interaksi yang lebih intens dengan kucing justru dikaitkan dengan hubungan yang lebih kuat antara stres dan emosi negatif. 


Artinya, perasaan negatif mereka cenderung terasa lebih intens.


Namun, peneliti menegaskan bahwa hasil ini belum bisa dianggap sebagai kesimpulan pasti.


Jumlah pemilik kucing dalam penelitian relatif sedikit dibandingkan pemilik anjing. Selain itu, hubungan tersebut juga tidak muncul secara konsisten pada seluruh analisis statistik yang dilakukan.


Peeters menduga sifat interaksi dengan kucing mungkin menjadi salah satu penyebab.


Berbeda dengan anjing yang sering memberikan respons aktif terhadap perhatian pemilik, interaksi dengan kucing cenderung lebih pasif dan berlangsung sesuai kemauan kucing. 


Dalam situasi stres, bentuk interaksi seperti ini mungkin tidak selalu sesuai dengan kebutuhan emosional seseorang.


Sementara itu, pada pemilik anjing, interaksi dengan hewan peliharaan memang tidak memperburuk emosi negatif, tetapi juga tidak terbukti mampu menguranginya.


Meski terdapat perbedaan kecil antara kucing dan anjing, para peneliti menekankan bahwa hasil penelitian ini tidak berarti salah satu spesies merupakan hewan peliharaan yang lebih baik.


Menurut mereka, manfaat emosional yang diperoleh seseorang lebih mungkin dipengaruhi oleh kecocokan antara karakter pemilik dan hewan peliharaannya, dibandingkan oleh jenis hewan itu sendiri.


Temuan ini juga mengingatkan bahwa hubungan manusia dengan hewan sangat kompleks. 


Hewan peliharaan memang dapat meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan emosional, tetapi mekanisme di balik manfaat tersebut kemungkinan berbeda-beda, tergantung situasi, konteks, dan karakter masing-masing individu.


Disadur dari laman Frontiers - Cuddling cats might make us feel worse when under stress diakses pada Juli 2026.




Post a Comment

أحدث أقدم