Alasan Unik Anjing Kais Tanah Setelah Buang Air, Tak hanya Warisan Serigala

Setelah buang air kecil atau besar, anjing sering mengais tanah bukan sekadar kebiasaan, tapi ada alasannya.


Setelah buang air kecil atau besar, anjing sering mengais tanah bukan sekadar kebiasaan, tapi ada alasannya.Ilustrasi dibuat oleh AI. 


Ringkasan

  • Mengais tanah membantu menyebarkan aroma urine atau feses agar lebih mudah tercium oleh anjing lain.
  • Jejak cakaran menjadi penanda visual yang memberi tahu anjing lain bahwa ada individu yang baru saja berada di lokasi tersebut.
  • Perilaku ini merupakan warisan dari leluhur liar, seperti serigala, yang menggunakan penandaan wilayah untuk berkomunikasi.


SEUSAI buang air kecil atau besar, seekor anjing sering kali mengais tanah dengan kedua kaki belakangnya hingga rumput, daun, atau tanah beterbangan ke mana-mana. 


Sekilas perilaku itu terlihat seperti upaya menutupi kotorannya, tetapi sebenarnya bukan itu tujuannya.


Menurut dokter hewan sekaligus pakar perilaku hewan Dr. Carlo Siracusa dari University of Pennsylvania, kebiasaan tersebut merupakan bentuk komunikasi antaranjing. 


Dengan mengais tanah, seekor anjing meninggalkan "pesan" yang dapat dibaca oleh anjing lain.


Pesan itu terdiri atas dua bagian. Pertama adalah aroma yang berasal dari urine atau feses. Kedua adalah bekas cakaran di tanah yang berfungsi sebagai penanda visual. 


Kombinasi keduanya memberi informasi bahwa seekor anjing pernah berada di tempat tersebut sekaligus menunjukkan kapan kira-kira ia lewat.


Urine dan feses anjing mengandung banyak informasi biologis, mulai dari identitas individu hingga kondisi tubuhnya. 


Courtney Sexton, peneliti pascadoktoral di Virginia-Maryland College of Veterinary Medicine, menjelaskan bahwa mengais tanah membantu menyebarkan aroma ke area yang lebih luas. 


Bahkan sebagian molekul bau dapat terbawa angin sehingga tercium oleh anjing yang berada cukup jauh.


Dengan kata lain, perilaku ini mirip seperti meninggalkan "surat elektronik" bagi sesama anjing. 


Saat seekor anjing lain melewati lokasi tersebut, ia dapat mengetahui bahwa ada anjing lain yang baru saja berada di sana.


Perilaku ini ternyata bukan kebiasaan baru hasil domestikasi. Leluhur anjing modern, yaitu serigala, juga menggunakan penandaan aroma untuk mempertahankan wilayah kekuasaannya.


Bagi serigala, aroma yang tertinggal dapat memberi banyak informasi, termasuk identitas kelompok, makanan yang dikonsumsi, hingga kondisi fisiologis. 


Penandaan wilayah juga berfungsi mengurangi konflik karena kelompok lain dapat mengetahui bahwa suatu area telah ditempati.


Penelitian terhadap anjing liar yang dipublikasikan pada 2012 menunjukkan bahwa mereka juga menggunakan penandaan aroma, termasuk mengais tanah, untuk menandai batas wilayah dan mengintimidasi kelompok pesaing. 


Penelitian lain pada 2024 menemukan bahwa anjing jantan menunjukkan perilaku teritorial yang lebih kuat dibandingkan betina, terutama terhadap aroma jantan dari kelompok tetangga.


Meskipun sebagian besar anjing peliharaan kini hidup nyaman di rumah, naluri tersebut masih tetap diwariskan. 


Itulah sebabnya anjing peliharaan sering meninggalkan "jejak aroma" di rute jalan-jalan yang sama atau di taman anjing.


Siracusa menambahkan bahwa pada beberapa kasus, perilaku mengais tanah juga mungkin berkaitan dengan rasa cemas. 


Berdasarkan pengalamannya menangani pasien, anjing yang merasa tidak nyaman di lingkungan ramai cenderung lebih sering melakukan penandaan aroma sebagai cara menunjukkan keberadaannya dan menghindari konflik dengan anjing lain.


Namun, ia menegaskan bahwa hingga kini belum ada penelitian yang membuktikan secara langsung bahwa anjing yang cemas pasti lebih sering mengais tanah dibandingkan anjing yang tenang.


Selain mengais tanah, anjing juga memiliki berbagai cara lain untuk menandai wilayah, misalnya menyemprotkan urine atau melakukan overmarking, yaitu mengencingi tepat di atas bekas aroma anjing lain.


Yang menarik, telapak kaki anjing juga memiliki kelenjar penghasil aroma. 


Karena itu, saat mengais tanah, kemungkinan anjing tidak hanya menyebarkan aroma dari urine atau feses, tetapi juga meninggalkan bau dari telapak kakinya.


Meski demikian, para ilmuwan masih belum mengetahui secara pasti senyawa kimia atau feromon apa yang dihasilkan kelenjar tersebut maupun makna biologisnya. 


Sebuah penelitian pada 2020 menunjukkan bahwa anjing mampu membedakan aroma telapak kaki satu individu dengan individu lainnya, tetapi belum jelas apakah aroma itu juga menyampaikan informasi seperti jenis kelamin.


Pada umumnya, perilaku mengais tanah setelah buang air merupakan hal yang normal dan tidak memerlukan penanganan khusus. 


Tidak semua anjing melakukannya, dan seekor anjing pun belum tentu mengais setiap kali buang air. Yang lebih penting diperhatikan adalah perubahan perilaku. 


Jika anjing yang biasanya selalu mengais tiba-tiba berhenti, atau justru tampak kesakitan ketika melakukannya, terutama disertai merengek saat buang air, kondisi tersebut bisa menjadi tanda adanya gangguan kesehatan.


Disadur dari Popular Science - Why do dogs kick their back legs after pooping and peeing? yang diakses pada Juli 2026.


Post a Comment

أحدث أقدم