90 Menit Kelamaan, Survei Menunjukkan Penonton Kini Lebih Suka Film Singkat

Banyak penonton di Amerika Serikat kini lebih menyukai film berdurasi sekitar 88 menit, lebih pendek dibandingkan dua tahun lalu, menurut hasil survei terbaru.


Banyak penonton di Amerika Serikat kini lebih menyukai film berdurasi sekitar 88 menit, lebih pendek dibandingkan dua tahun lalu, menurut hasil survei terbaru.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan

  • Durasi ideal film menurut responden rata-rata hanya 88 menit, turun dari 92 menit pada 2024.
  • Generasi Z paling menyukai film singkat dengan rata-rata durasi ideal 82 menit, sedangkan baby boomer memilih 93 menit.
  • Meski preferensi penonton mengarah ke film yang lebih ringkas, sebagian besar film blockbuster musim panas justru berdurasi jauh lebih panjang.


FENOMENA film berdurasi lebih dari dua jam tampaknya mulai kehilangan daya tarik bagi sebagian penonton. 


Setidaknya itulah yang tergambar dari survei yang dilakukan Talker Research terhadap 2.000 orang dewasa di Amerika Serikat. Rata-rata responden menyebut 88 menit sebagai durasi film yang paling ideal untuk ditonton.


Angka tersebut menunjukkan perubahan menarik dibandingkan hasil survei serupa pada 2024. Saat itu, responden masih menganggap durasi ideal berada di kisaran 92 menit. 


Dalam waktu dua tahun, preferensi itu menyusut sekitar empat menit. Sekilas perbedaannya memang kecil, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa selera penonton terus bergeser ke arah film yang lebih ringkas.


Survei ini juga menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil penonton yang benar-benar menikmati film berdurasi panjang. 


Hanya 10 persen responden yang menganggap durasi dua jam atau lebih sebagai pilihan ideal. Bahkan, hanya 3 persen yang merasa film sebaiknya berlangsung lebih dari dua setengah jam.


Artinya, sebagian besar penonton lebih memilih cerita yang langsung menuju inti persoalan tanpa pembukaan yang terlalu lama atau penutup yang berlarut-larut.


Menariknya, survei ini tidak meneliti penyebab perubahan preferensi tersebut. 


Namun, para peneliti menduga beberapa faktor dapat berperan, seperti semakin pendeknya rentang perhatian masyarakat serta kebiasaan menonton film melalui layanan streaming di rumah. 


Saat menonton di rumah, orang dapat menghentikan film kapan saja, melanjutkannya di lain waktu, atau membaginya menjadi beberapa sesi.


Meski demikian, survei ini hanya mencatat preferensi penonton, bukan hubungan sebab-akibatnya.


Usia menjadi faktor yang paling membedakan pilihan durasi film.


Banyak penonton di Amerika Serikat kini lebih menyukai film berdurasi sekitar 88 menit, lebih pendek dibandingkan dua tahun lalu, menurut hasil survei terbaru.



Kelompok baby boomer menjadi generasi yang paling sabar dengan durasi ideal rata-rata 93 menit. Mereka merupakan satu-satunya kelompok yang masih menganggap film lebih dari satu setengah jam sebagai pilihan terbaik.


Sementara itu, Generasi X memilih rata-rata 89 menit, disusul milenial dengan 86 menit.


Yang paling menyukai film singkat adalah Generasi Z. Mereka hanya menginginkan film berdurasi sekitar 82 menit.


Selisih sekitar 11 menit antara baby boomer dan Gen Z memang tampak tidak terlalu besar. Namun, perbedaan itu dianggap mencerminkan perubahan kebiasaan menikmati hiburan.


Generasi yang lebih tua tumbuh ketika pergi ke bioskop merupakan acara utama pada akhir pekan. Sebaliknya, generasi muda terbiasa mengakses video pendek melalui media sosial hanya dengan menggeser layar ponsel. 


Pola konsumsi media tersebut diduga ikut membentuk ekspektasi mereka terhadap durasi sebuah film.


Yang menarik, tren preferensi penonton ini justru bertolak belakang dengan strategi Hollywood.


Sebagian besar film besar yang dijadwalkan tayang pada musim panas memiliki durasi jauh di atas angka ideal 88 menit.


Beberapa judul memang masih mendekati angka tersebut, seperti Minions and Monsters yang berdurasi sekitar 90 menit dan Jackass: Best and Last selama 92 menit.


Namun setelah itu, durasi film meningkat cukup tajam.


Toy Story 5 misalnya, berdurasi 102 menit, sekitar 15 menit lebih lama dari durasi ideal menurut survei. Sebagai perbandingan, film pertama Toy Story pada 1995 hanya berdurasi sekitar 81 menit.


Film lain bahkan lebih panjang lagi. Supergirl mencapai 108 menit, versi live-action Moana berdurasi 115 menit, sementara The Devil Wears Prada 2 mencapai 119 menit.


Untuk kategori blockbuster, durasinya semakin ekstrem. Disclosure Day garapan Steven Spielberg berdurasi 145 menit, Spider-Man: Brand New Day mencapai 150 menit.


The Odyssey karya Christopher Nolan menjadi yang terpanjang dengan durasi 172 menit, hampir dua kali lipat dari durasi ideal yang dipilih responden.


Sebenarnya, film berdurasi sekitar satu setengah jam bukanlah hal baru. Banyak film klasik yang sukses secara kritis maupun komersial memiliki durasi hampir sama dengan preferensi penonton saat ini.


Beberapa contohnya adalah The Lion King (1994), Zombieland (2009), The Producers (1967), dan Airplane! (1980). Seluruhnya berdurasi sekitar 88 menit, tetapi tetap mampu menyampaikan cerita yang kuat dan mudah diingat.


Hal ini menunjukkan bahwa film yang lebih singkat tidak selalu berarti kurang berkualitas. Justru, durasi yang padat sering kali membuat alur cerita terasa lebih fokus dan ritmenya lebih terjaga.


Di sisi lain, rumah produksi tampaknya masih percaya bahwa film panjang dapat memberikan pengalaman sinematik yang lebih spektakuler, terutama untuk genre superhero, fantasi, atau adaptasi novel berskala besar. 


Karena itu, jurang antara keinginan penonton dan strategi industri film masih cukup lebar.


Apakah Hollywood akan mulai memangkas durasi film di masa depan masih menjadi tanda tanya. 


Namun, jika tren preferensi penonton terhadap film yang lebih singkat terus berlanjut, bukan tidak mungkin studio film akan mempertimbangkan kembali panjang durasi produksi mereka.


Disadur dari StudyFinds - Two Hours? Too Long! Ideal Movie Length Is Shrinking for Americans yang diakses pada Juli 2026.




Post a Comment

أحدث أقدم