Analisis DNA dan isotop gigi dari makam kuno di Pulau St. Helena berhasil menyingkap asal-usul tragis para korban perdagangan budak transatlantik.
Ringkasan
- Penelitian genetika dan isotop strontium pada gigi mengungkap asal-usul geografis spesifik dari para budak Afrika yang dibebaskan lalu meninggal di St. Helena.
- Data membuktikan bahwa para pemburu budak tidak hanya menangkap orang di pesisir, melainkan merangsek hingga lebih dari 1.000 kilometer ke dalam pedalaman Afrika.
- Analisis lapisan gigi menunjukkan tanda-tanda migrasi paksa pada anak-anak usia 7 hingga 9 tahun, menegaskan kejamnya perdagangan manusia masa lalu.
PADA pertengahan abad ke-19, Pulau St. Helena yang terpencil di Samudra Atlantik menjadi pelabuhan harapan.
Setelah Inggris melarang perdagangan budak pada 1807, angkatan laut mereka rajin mencegat kapal-kapal penyelundup.
Antara tahun 1840 hingga 1872, ribuan orang Afrika yang diselamatkan dibawa ke pulau ini untuk memulihkan diri.
Nahas, akibat kelaparan dan penyakit yang parah selama di kapal, ribuan orang meninggal tak lama setelah mendarat. Jasad mereka dimakamkan di Lembah Rupert.
Pada 2007, proyek pembangunan bandara pertama di pulau itu tidak sengaja menyingkap puluhan makam mereka. Kini, sebuah studi terbaru yang terbit di jurnal Science berhasil membuka lembaran sejarah yang sempat terkubur.
Bagaimana cara melacak asal-usul orang yang hidup ratusan tahun lalu? Jawabannya ada pada gigi mereka.
Tim peneliti yang dipimpin oleh Hannes Schroeder, ahli genetika dari University of Copenhagen, menganalisis DNA dan isotop strontium pada gigi dari 152 kerangka di Lembah Rupert.
Isotop strontium dari air dan makanan yang dikonsumsi saat kecil akan mengendap secara permanen pada enamel gigi.
"Meskipun mereka dipindahkan paksa, sidik jari tempat mereka tumbuh dewasa terkunci di dalam gigi untuk selamanya," jelas Vicky Oelze, ahli geokimia dari University of California, Santa Cruz.
Sebelumnya, tim riset telah memetakan tanda isotop di seluruh Afrika sub-Sahara menggunakan ribuan sampel tanah dan tanaman. Ketika data gigi para korban dicocokkan, hasilnya mengejutkan.
Sebagian besar memang berasal dari pesisir barat Afrika seperti Gabon dan Angola. Namun, ada pula yang tumbuh besar jauh di bagian timur pedalaman benua, menunjukkan bahwa mereka dipaksa berjalan kaki sejauh lebih dari 1.000 kilometer setelah ditangkap.
Teknologi laser modern memungkinkan ilmuwan mengikis lapisan tipis enamel gigi untuk membaca riwayat pergerakan korban dari tahun ke tahun semasa kecil.
Temuan ini menyisakan fakta memilukan. Beberapa korban terdeteksi melakukan perjalanan jauh saat masih berusia 7 hingga 9 tahun.
Fakta ini membuktikan bahwa anak-anak pun tidak luput dari kekejaman perbudakan. Mereka direnggut secara paksa dari pelukan keluarga dan tanah kelahiran mereka demi komoditas perdagangan.
Sebagai tambahan informasi, perdagangan budak transatlantik diperkirakan telah memindahkan lebih dari 12 juta orang Afrika secara paksa antara abad ke-16 hingga ke-19.
Studi multidisiplin seperti ini membantu mengembalikan identitas kemanusiaan yang sempat dirampas oleh sejarah kolonial).
Hasil penelitian ini juga menjawab kebimbangan warga lokal St. Helena, yang sebagian merupakan keturunan budak yang selamat, mengenai apa yang harus dilakukan terhadap kerangka-kerangka tersebut.
Mengingat asal-usul mereka yang sangat beragam dan batas negara Afrika yang telah berubah total, memulangkan jenazah ke negara asal mustahil dilakukan.
Akhirnya, komunitas lokal memutuskan untuk memakamkan kembali jasad-jasad tersebut secara layak di St. Helena menggunakan peti mati kayu yang dibuat oleh anak-anak sekolah setempat pada tahun 2022.
Setiap 23 Agustus, bertepatan dengan Hari Internasional untuk Mengenang Perdagangan Budak dan Penghapusannya, masyarakat St. Helena kembali berkumpul di lokasi tersebut untuk mengenang para korban.
Kini, makam-makam tersebut dihiasi ratusan batu pantai berlukiskan cetakan telapak tangan anak-anak.
Itu adalah simbol bahwa mereka kini telah pulang dan selamanya diakui sebagai bagian dari sejarah dan identitas pulau tersebut.
Disadur dari Science - DNA from African graves provides surprising window into slave trade yang diakses pada Juli 2026.

Posting Komentar