Analisis DNA terbaru memastikan Adipati Tuscany, Francesco I de’ Medici, meninggal karena malaria pada 1587, membantah rumor ratusan tahun bahwa ia diracun saudaranya.
Ringkasan
- Kematian mendadak Francesco I de’ Medici dan istrinya pada tahun 1587 selama ini diduga karena racun arsenik akibat perebutan takhta.
- Peneliti berhasil mengekstraksi DNA dari tulang rusuk Francesco dan adiknya, Giovanni, lalu menemukan parasit malaria mematikan, Plasmodium falciparum.
- Hasil studi ini membersihkan nama Ferdinando, sang adik yang sempat dituduh meracuni kakaknya demi menjadi penguasa baru.
PERNAH mendengar tentang keluarga Medici? Dinasti super kaya dan berpengaruh asal Florence, Italia, yang menguasai era Renaissance ini memang penuh dengan drama.
Salah satu drama terbesar yang menjadi misteri selama berabad-abad adalah kematian misterius Francesco I de’ Medici, Adipati Agung (Grand Duke) Tuscany kedua.
Pada Oktober 1587, Francesco dan istri keduanya, Bianca Cappello, meninggal dunia secara mendadak hanya dalam selisih satu hari setelah pulang berburu.
Karena kematiannya yang sangat tiba-tiba, desas-desus langsung menyebar luas. Banyak orang mencurigai adanya pembunuhan berencana.
Siapa yang paling diuntungkan? Jawabannya adalah Ferdinando, adik kandung Francesco yang punya hubungan renggang dengannya.
Sebagai pewaris takhta berikutnya, Ferdinando langsung dituduh meracuni kakak dan kakak iparnya demi kekuasaan.
Namun, seperti dilansir dari laman Smithsonian Magazine, sebuah studi yang terbit di jurnal ilmiah iScience akhirnya mematahkan teori konspirasi ala film detektif tersebut.
Lewat analisis genetika canggih, para ilmuwan membuktikan bahwa Francesco tidak mati karena arsenik, melainkan karena gigitan nyamuk alias penyakit malaria.
"Pada masa itu, keduanya (Francesco dan adiknya, Giovanni) didiagnosis memiliki gejala yang konsisten dengan malaria, seperti demam intermiten (naik turun)," ungkap sejarawan dari Universitas Pisa, Valentina Giuffra.
Penelitian genetika ini akhirnya mengonfirmasi kebenaran catatan sejarah masa lalu tersebut.
Untuk mengungkap misteri ini, tim peneliti internasional mengekstraksi DNA purba dari sampel tulang rusuk Francesco dan Giovanni yang dimakamkan di Kapel Medici, Florence.
Sayangnya, makam sang istri, Bianca, hingga kini belum ditemukan, sehingga jasadnya tidak bisa ikut diteliti.
Dari hasil laboratorium, para ahli menemukan keberadaan Plasmodium falciparum, jenis parasit malaria paling mematikan pada manusia, di dalam tulang kedua bersaudara tersebut.
Menariknya, pada tulang Francesco, ditemukan juga jenis parasit kedua yaitu Plasmodium malariae.
Serena Tucci, antropolog dari Yale University yang memimpin penelitian ini, menjelaskan bahwa metode DNA purba canggih ini sangat membantu memetakan sejarah patogen mematikan.
Timnya bahkan menemukan fakta bahwa Giovanni terinfeksi mutasi untaian (strain) baru dari Plasmodium falciparum yang belum pernah terkarakterisasi sebelumnya oleh sains modern.
Kematian akibat malaria sebenarnya bukan hal baru bagi dinasti ini.
Jauh sebelum Francesco tiada, pada tahun 1562, ibu mereka (Eleonora dari Toledo) bersama dua saudara laki-lakinya yang masih remaja, Giovanni (19 tahun) dan Garzia (15 tahun), juga meninggal secara mendadak.
Kala itu, gosip liar juga beredar. Publik berbisik-bisik bahwa Garzia telah membunuh Giovanni setelah bertengkar hebat, lalu sang ayah, Cosimo I, mengeksekusi Garzia sebagai hukuman.
Namun, studi imunologi tahun 2010 yang juga diikuti oleh Giuffra membantah gosip itu.
Mengapa keluarga kaya raya ini sering terkena malaria? Jawabannya ada pada gaya hidup mereka.
Vila-vila mewah dan kawasan berburu milik keluarga Medici sebagian besar berada di daerah pesisir atau dekat lahan basah (rawa-rawa) di Tuscany.
Wilayah rawa seperti ini merupakan habitat utama dan tempat berkembang biak yang sempurna bagi nyamuk Anopheles pembawa malaria.
Sebelum rawa-rawa tersebut dikeringkan pada abad modern, Italia Tengah memang menjadi wilayah endemik malaria yang sangat berbahaya.
Berdasarkan catatan sejarah dari abad ke-19, Francesco jatuh sakit parah setelah berburu di area rawa Tuscany.
Saat tubuh sang adipati mulai menggigil, muntah-muntah, dan mengalami kejang karena demam tinggi, tim dokter istana melakukan prosedur bloodletting (mengeluarkan darah pasien yang saat itu dianggap bisa menyembuhkan penyakit).
Namub, Francesco termasuk pasien yang keras kepala. Ia menolak berbagai pengobatan lain, seperti enema (pencahar), dan memilih mengabaikan saran dokter.
Untuk meredakan panas di tubuhnya, sang adipati justru nekat meminum dan berkumur dengan air serta anggur yang didinginkan menggunakan es salju, bahkan meminum sirup obatnya yang dicampur salju.
Setelah bertahan selama 11 hari, sang adipati akhirnya mengembuskan napas terakhir, disusul sang istri keesokan harinya.
Keberadaan Ferdinando di sisi tempat tidur kakaknya yang sedang sekarat langsung memicu desas-desus. Banyak pengamat abad itu yakin Ferdinando sengaja datang dari Roma membawa racun demi merebut takhta.
Ditambah lagi, Ferdinando terkenal sangat membenci Bianca karena dianggap terlalu mencampuri urusan istana.
Meski begitu, catatan sejarah lain menunjukkan bahwa kedua bersaudara ini sebenarnya sudah saling memaafkan dan berdamai dua minggu sebelum peristiwa tragis tersebut.
Kini, berkat sains, nama baik Ferdinando bersih dari tuduhan pembunuh berdarah dingin.
Peneliti pascadoktoral dari Yale University, Alexander Ochoa, menambahkan bahwa studi DNA purba ini tidak sekadar menyelesaikan drama sejarah keluarga Medici.
Menurut dia, studi ini juga membuka jendela bagi para ilmuwan modern untuk memahami bagaimana parasit malaria berevolusi dan beradaptasi dari abad ke abad.
Disadur dari Smithsonian Magazine - Did This Duke Poison His Brother? A New DNA Analysis May Solve the Centuries-Old Medici Mystery yang diakses Juli 2026.

Posting Komentar