Klaim spektakuler bahwa alam semesta kita memiliki struktur berserat raksasa terancam gugur akibat kesalahan fatal dalam mencampuradukkan metode pengukuran jarak kosmik.
Ringkasan
- Dua kosmolog mengeklaim galaksi-galaksi di alam semesta saling terhubung membentuk serat raksasa yang melanggar hukum dasar kosmologi standar.
- Kritik terbaru mengungkapkan adanya kekeliruan fatal di mana peneliti membandingkan dua metode pengukuran jarak yang berbeda.
- Setelah kesalahan hitung tersebut diperbaiki dan diselaraskan, keanehan struktur semesta langsung hilang dan kembali cocok dengan model fisika standar.
DUNIA kosmologi sempat dibuat geger. Sebuah penelitian mengeklaim bahwa struktur alam semesta kita jauh lebih "berserabut" atau berserat daripada yang selama ini diyakini dalam teori fisika modern.
Namun, seperti banyak hal di sains, klaim luar biasa ini tampaknya harus runtuh dengan cepat.
Sebuah analisis terbaru menunjukkan bahwa temuan sensasional tersebut kemungkinan besar hanyalah sebuah ilusi optik matematis akibat salah rumus.
Semua ini bermula ketika Francesco Sylos Labini dari Enrico Fermi Center dan Marco Galoppo dari University of Canterbury menganalisis data dari Dark Energy Spectroscopic Instrument (DESI).
Menggunakan teleskop raksasa berdiameter 4 meter di Arizona, Amerika Serikat, DESI bertugas memetakan puluhan juta galaksi guna memahami misteri energi gelap (dark energy).
Ketika menganalisis data tersebut, Sylos Labini dan tim menemukan adanya pola garis imajiner yang menghubungkan pasangan galaksi pada skala fantastis, mencapai satu gigaparsec (setara dengan sekitar 3,26 miliar tahun cahaya).
Jarak ini sepuluh kali lipat lebih besar dari batas di mana alam semesta seharusnya sudah terlihat mulus dan merata.
Temuan ini jelas menantang asas fundamental kosmologi yang disebut Prinsip Kosmologi.
Prinsip ini menyatakan bahwa pada skala yang sangat besar, alam semesta bersifat homogen (sama di mana-mana) dan isotropik (sama ke segala arah).
Model standar yang menjelaskan perkembangan semesta pasca-Big Bang, dikenal sebagai model Lambda Cold Dark Matter (ΛCDM).
Model ini memprediksi bahwa meskipun pada skala kecil ada galaksi dan gugusan bintang yang membentuk jaring-jaring rumit, pada skala raksasa semuanya akan membaur menjadi rata seperti sup yang diaduk sempurna.
Klaim mengejutkan tersebut langsung mendapat sorotan tajam. Till Sawala, seorang kosmolog dari Universitas Helsinki, menerbitkan sebuah makalah tandingan di peladen pracetak arXiv.
Menurut Sawala, persoalannya bukan pada data DESI, melainkan pada cara data tersebut diterjemahkan menjadi peta tiga dimensi alam semesta.
Dalam astronomi terdapat beberapa cara mengukur jarak galaksi.
Salah satunya adalah luminosity distance atau jarak luminositas, yang dihitung berdasarkan seberapa redup cahaya galaksi ketika mencapai Bumi.
Metode lainnya adalah comoving distance, yaitu jarak yang memperhitungkan pemuaian alam semesta.
Nilai ini dihitung menggunakan pergeseran merah (redshift) cahaya galaksi sehingga menggambarkan posisi galaksi saat ini dalam ruang kosmik.
Menurut Sawala, kedua ukuran tersebut tidak bisa dipakai secara bergantian.
Ia menilai penelitian sebelumnya membuat peta galaksi menggunakan luminosity distance, tetapi membandingkannya dengan simulasi komputer ΛCDM yang menggunakan comoving distance.
"Perbandingannya seperti membandingkan apel dengan jeruk," kata Sawala.
Dalam analisis ulangnya, Sawala memecah distribusi galaksi menjadi pola-pola gelombang dengan berbagai panjang menggunakan teknik matematika yang lazim dipakai dalam kosmologi.
Hasilnya cukup mencolok. Saat menggunakan luminosity distance, memang terlihat adanya struktur berskala sangat besar yang tampak lebih kuat daripada prediksi model standar.
Namun ketika ia mengganti perhitungan menjadi comoving distance, perbedaan tersebut hampir sepenuhnya hilang.
Bahkan setelah menambahkan koreksi kecil terhadap pengaruh gerak lokal galaksi, yang dapat memengaruhi nilai redshift, hasil pengamatan DESI menjadi hampir sepenuhnya sesuai dengan prediksi model ΛCDM.
Artinya, sinyal yang sebelumnya dianggap sebagai bukti adanya struktur kosmik raksasa kemungkinan hanyalah efek samping dari pemilihan sistem koordinat yang kurang tepat.
Francesco Sylos Labini mengakui bahwa timnya memang menggunakan luminosity distance saat mengolah data.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa analisis Sawala tidak sepenuhnya sama dengan metode statistik yang digunakan dalam penelitiannya.
Menurutnya, metode timnya lebih sensitif terhadap anisotropi, yaitu perbedaan struktur berdasarkan arah pengamatan, bukan sekadar ketidakseragaman distribusi materi.
Karena itu, ia belum menutup kemungkinan bahwa sinyal tersebut tetap ada setelah analisis diperbaiki. "Kami sedang mengulang analisisnya. Kalau nantinya hasilnya berbeda, ya memang begitulah sains bekerja," ujarnya.
Kasus ini menjadi ilustrasi menarik mengenai bagaimana ilmu pengetahuan berkembang.
Sebuah temuan yang tampak revolusioner tidak langsung diterima begitu saja, tetapi diuji kembali oleh peneliti lain menggunakan metode berbeda.
Dalam kosmologi modern, proses verifikasi seperti ini sangat penting karena kesimpulan sering bergantung pada analisis statistik yang sangat kompleks dan melibatkan jutaan objek astronomi.
Apabila setelah pemeriksaan ulang sinyal tersebut benar-benar menghilang, maka model kosmologi standar ΛCDM tetap menjadi penjelasan terbaik mengenai evolusi alam semesta sejak Big Bang.
Sebaliknya, jika sinyal itu bertahan setelah semua koreksi dilakukan, para ilmuwan mungkin harus mulai mempertimbangkan revisi terhadap salah satu asumsi paling mendasar tentang struktur alam semesta.
Untuk sementara, perdebatan masih berlangsung, dan komunitas astronomi menunggu hasil analisis ulang dari tim peneliti awal.
Disadur dari Science.org - Surprising claim of superstringy universe may be based on a mistake yang diakses Juli 2026.

Posting Komentar