Tubuh warga di Pegunungan Andes, Argentina, mampu menangkal racun arsenik yang mematikan.
Ringkasan
- Peneliti menemukan varian gen yang membantu sebagian warga Andes memproses arsenik lebih aman.
- Paparan arsenik tinggi berlangsung selama ribuan tahun akibat kandungan alami batuan vulkanik di wilayah tersebut.
- Temuan ini menjadi salah satu bukti paling kuat bahwa manusia masih dapat beradaptasi secara genetik terhadap zat beracun di lingkungannya.
SELAMA ribuan tahun, manusia yang menetap di dataran tinggi Andes, Argentina, bergantung pada sumber air yang sebenarnya bisa membuat orang biasa sakit parah atau bahkan meninggal dunia.
Di wilayah tersebut, kandungan arsenik yang berasal dari batuan vulkanik secara alami mengikis dan mencemari air tanah setempat.
Kadarnya pun tidak main-main, jauh melampaui ambang batas normal yang bisa ditoleransi oleh tubuh manusia pada umumnya.
Namun, sebuah keajaiban evolusi tampaknya sedang terjadi di sana.
Penelitian genetika terbaru menunjukkan bahwa seleksi alam telah membekali sekelompok populasi di wilayah utara Argentina sebuah keuntungan genetik yang sangat langka.
Berdasarkan analisis DNA terhadap penduduk di sepanjang wilayah barat Amerika Selatan, populasi di Andes Argentina terbukti membawa varian gen khusus.
Hal itulah yang membantu tubuh mereka memproses dan membuang zat arsenik dengan cara yang jauh lebih aman.
"Adaptasi memang memicu perubahan genom. Meski demikian, bukti adaptasi spesifik pada manusia saat ini masih sangat terbatas."
Demikian tim peneliti yang dipimpin oleh Carina Schlebusch dan Lucie Gattepaille, dua ahli biologi evolusi dari Universitas Uppsala, Swedia, ungkapkan dalam laporan studi mereka.
Data penelitian mereka menunjukkan bahwa tekanan dari lingkungan ekstrem berupa paparan arsenik telah mendorong peningkatan frekuensi varian pelindung pada gen bernama AS3MT.
Penemuan berharga ini sekaligus menjadi bukti nyata pertama mengenai bagaimana tubuh manusia modern mampu beradaptasi terhadap paparan bahan kimia yang beracun di alam bebas.
Arsenik sendiri dikenal sebagai zat yang sangat beracun dan mematikan.
Paparan jangka panjang terhadap zat metaloid ini sering kali dikaitkan dengan berbagai penyakit mematikan seperti kanker, lesi kulit yang parah, cacat lahir pada bayi, hingga kematian dini.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sendiri telah menetapkan batas aman kandungan arsenik dalam air minum hanya sebesar 10 mikrogram per liter.
Kondisi yang kontras ditemukan di kota terpencil San Antonio de los Cobres yang terletak di dataran tinggi Puna de Atacama, Argentina.
Sebelum sistem penyaringan air modern dipasang pada tahun 2012, air minum warga setempat mengandung sekitar 200 mikrogram arsenik per liter.
Angka yang fantastis ini setara dengan 20 kali lipat dari batas aman yang direkomendasikan secara global.
Meskipun kondisi airnya tergolong ekstrem, wilayah ini nyatanya telah dihuni oleh manusia sejak 7.000 hingga 11.000 tahun yang lalu.
Kemampuan luar biasa warga setempat untuk tetap bugar di tengah kepungan racun arsenik sempat membuat para ilmuwan kebingungan selama berdekade-dekade.
Titik terang mulai muncul pada tahun 1995 ketika para peneliti menyadari adanya kemampuan unik pada wanita di Andes Argentina dalam memetabolisme arsenik.
Keunikan ini terlihat jelas dari profil sisa metabolisme yang ditemukan di dalam urine mereka. Ketika arsenik masuk ke dalam tubuh, enzim akan mengubah zat tersebut menjadi beberapa bentuk kimia baru.
Salah satu bentuk kimia perantara yang dihasilkan bernama monomethylated arsenic (MMA), senyawa yang dikenal sangat beracun.
Untungnya, tubuh manusia memiliki mekanisme lanjutan untuk mengubah MMA menjadi bentuk lain yang disebut dimethylated arsenic (DMA).
Sifat zat DMA ini jauh lebih aman dan mudah dikeluarkan oleh tubuh melalui urine.
Warga San Antonio de los Cobres secara alami memproduksi zat antara MMA yang jauh lebih sedikit, dan langsung menghasilkan zat DMA dalam jumlah melimpah.
Hal ini membuktikan bahwa organ tubuh mereka bekerja dengan tingkat efisiensi yang luar biasa tinggi dalam menetralisir dan membuang racun tersebut sebelum sempat merusak jaringan tubuh.
Didorong rasa penasaran yang besar, Schlebusch, Gattepaille, beserta rekan-rekannya memutuskan untuk memecahkan teka-teki medis ini hingga ke tingkat genetika.
Tim mengumpulkan sampel DNA dari 124 wanita setempat menggunakan usap pipi (cheek swab).
Para wanita ini adalah mereka yang sampel urinenya menunjukkan profil metabolisme arsenik efisien seperti pada studi tahun 1995 silam.
Ilmuwan kemudian memetakan jutaan penanda genetik di seluruh genom mereka. Mereka pun memastikan apakah varian gen ini benar-benar eksklusif milik warga Andes Argentina.
Caranya, peneliti membandingkan data tersebut dengan data genom publik dari penduduk Peru dan Kolombia yang diambil dari proyek internasional 1000 Genomes Project.
Fokus riset diarahkan pada enzim arsenic methyltransferase (AS3MT) yang sejak lama diduga kuat menjadi aktor utama dalam metabolisme arsenik.
Hasilnya sangat mengejutkan. Ditemukan kelompok varian genetik di dekat gen AS3MT yang secara masif memengaruhi cara tubuh mengolah racun.
Varian pelindung ini ditemukan jauh lebih padat dan dominan pada warga San Antonio de los Cobres dibandingkan dengan populasi di Peru maupun Kolombia, meskipun secara garis keturunan mereka masih berkerabat dekat.
Mutasi genetik ini membuat tubuh mereka bergerak cepat mengubah arsenik menjadi senyawa yang tidak berbahaya untuk segera dibuang saat buang air kecil.
Dengan demikian, penumpukan senyawa antara yang mematikan dapat dicegah sejak dini. Proses biologi ini berjalan selaras dengan temuan klinis pada sampel urine yang diteliti sebelumnya.
Sangat jarang ada kelompok masyarakat yang mampu bertahan hidup berdampingan dengan paparan ekstrem tersebut dalam jangka waktu hingga ribuan tahun tanpa punah.
Di San Antonio de los Cobres, waktu yang panjang tersebut telah memberi kesempatan emas bagi hukum seleksi alam untuk bekerja, menyaring, dan melestarikan sifat-sifat genetik yang melindungi manusia dari ancaman kematian akibat racun lingkungan.
Disadur dari ScienceAlert - Humans in The Andes Seem to Have Evolved a Strange Genetic Ability yang diakses Juni 2026.

إرسال تعليق