Kelompok 10 persen orang terkaya di dunia bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan masif yang merugikan Bumi hingga triliunan dolar AS.
Ringkasan
- Kerusakan lingkungan akibat aktivitas bisnis dan gaya hidup kaum jetset ini diperkirakan mencapai Rp26 ribu triliun hingga Rp88 ribu triliun per tahun.
- Dari negara-negara yang diteliti, konsumen di Amerika Serikat menjadi penyumbang tagihan kerusakan lingkungan paling besar bagi planet ini.
- Para peneliti mengusulkan penerapan pajak lingkungan khusus bagi orang kaya demi menutup celah dana pemulihan iklim global.
SIAPA yang menyangka kalau gaya hidup super mewah dan gurita bisnis para miliarder dunia ternyata meninggalkan "luka" yang sangat dalam bagi Bumi?
Sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Communications Sustainability mencoba menghitung secara nilai kerugian finansial yang disebabkan oleh tingkah laku 10 persen orang paling tajir di planet ini.
Hasilnya? Angkanya benar-benar bikin geleng-geleng kepala.
Menurut para peneliti, nilai kerusakan tahunan yang harus dibayar oleh kelompok elite ini berkisar antara 1,7 hingga 5,7 triliun dolar AS (setara Rp26.000 triliun sampai Rp88.000 triliun jika dikonversi ke kurs saat ini).
Kalau dibagi rata, setiap individu di kelompok super kaya ini memikul "utang" kepada planet sebesar 2.300 hingga 7.500 dolar AS (sekitar Rp35 juta sampai Rp116 juta).
Angka fantastis ini bahkan jauh melampaui total dana bantuan iklim dan keanekaragaman hayati internasional yang ada saat ini.
Untuk mendapatkan hitungan yang akurat, para ilmuwan menggunakan panduan dari Environmental Prices Handbook.
Mereka menganalisis data tahun 2017, yang merupakan data paling lengkap saat ini, dengan berfokus pada empat aspek krusial:
- perubahan iklim,
- integritas biosfer (keanekaragaman hayati),
- siklus biogeokimia,
- dan penggunaan air bersih.
Dari analisis tersebut, terungkap bahwa dua biang kerok terbesar yang membengkakkan tagihan kerusakan adalah hilangnya keanekaragaman hayati akibat rusaknya habitat alam dan dampak pemanasan global.
Ketika membandingkan data antar-negara, konsumen di Amerika Serikat tercatat memegang rekor sebagai penyumbang kerusakan lingkungan paling parah di antara enam negara yang diteliti dalam riset ini.
Profesor Lisa Schipper, seorang ilmuwan lingkungan dari Universitas Oxford yang tidak terlibat langsung dalam penelitian ini, memberikan pandangannya.
Menurut Lisa, situasi ini sangat ironis karena segelintir orang yang merusak Bumi justru memegang kendali atas uang yang seharusnya dipakai untuk memperbaiki kerusakan itu sendiri.
"Sebagian kecil orang berkontribusi pada sebagian besar kerusakan, dan mereka juga mengendalikan pendanaan yang seharusnya digunakan untuk kompensasi perubahan iklim," ujarnya kepada BBC Science Focus.
Sebagai jalan keluar, para penulis studi mengusulkan adanya kebijakan pajak lingkungan yang agresif.
Skema ini dirancang agar kelompok 10 persen teratas ini mau tidak mau harus membayar kompensasi atas pola konsumsi dan emisi karbon mereka yang berlebihan.
Meski terdengar ideal, Profesor Lisa Schipper mengingatkan bahwa realisasinya tidak akan semudah membalikkan telapak tangan. Masalah ini punya benang kusut yang cukup rumit.
Ia menjelaskan bahwa bisnis atau aktivitas ekonomi yang digerakkan oleh kelompok 10 persen "perusak" ini sering kali menjadi mata pencaharian, sumber pangan, atau penyedia layanan bagi 90 persen populasi manusia lainnya di Bumi.
Jika langsung dipotong begitu saja, dampaknya bisa mengguncang masyarakat luas, meskipun sistem yang berjalan saat ini memang merusak masa depan yang berkelanjutan.
Di sisi lain, menagih tanggung jawab finansial langsung kepada para konglomerat dan sektor swasta dinilai bisa menjadi solusi agar anggaran negara tidak terus-menerus terkuras demi membiayai krisis iklim yang bukan disebabkan oleh rakyat kecil.
Namun, hambatan terbesarnya kembali lagi pada masalah kekuasaan. Orang-orang terkaya ini jugalah yang memiliki pengaruh politik terbesar untuk melobi atau menolak aturan pajak tersebut.
"Secara realitas, hal ini sangat sulit diterapkan justru karena kelompok 10 persen teratas itu memegang sebagian besar kekuasaan," pungkas Schipper.
"Dalam pemikiran idealis saya, harus ada pengakuan dan kesadaran akan tanggung jawab terlebih dahulu dari mereka agar pendekatan seperti ini bisa berjalan secara berkelanjutan."
Disadur dari BBC Science Focus - Here's how much the richest 10% owe the planet for the environmental damage they've caused yang diakses pada Juli 2026.

Posting Komentar