Kehidupan di Kedalaman 9 Kilometer: Puluhan Spesies Baru di Dasar Pasifik Ditemukan

Ilmuwan Tiongkok berhasil menemukan ekosistem tersembunyi berisi 32 spesies makhluk hidup di kedalaman ekstrem Samudra Pasifik menggunakan kapal selam laut dalam.


Ilmuwan Tiongkok berhasil menemukan ekosistem tersembunyi berisi 32 spesies makhluk hidup di kedalaman ekstrem Samudra Pasifik menggunakan kapal selam laut dalam.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan

  • Peneliti China menemukan 32 spesies yang hidup di kedalaman hingga hampir 11 kilometer di bawah permukaan laut.
  • Banyak organisme yang ditemukan merupakan spesies baru yang belum pernah dikenal sains sebelumnya.
  • Temuan ini mengubah pemahaman lama bahwa palung laut terdalam merupakan lingkungan yang hampir tidak dapat dihuni.


SELAMA ini, bagian terdalam dari samudra raya dianggap sebagai wilayah yang mati, gersang, dan mustahil untuk ditinggali. 


Di zona yang disebut "Zona Hadal", diambil dari nama Hades, dewa dunia bawah dalam mitologi Yunani, kondisinya memang luar biasa ekstrem. 


Tekanan air yang menghancurkan, kegelapan abadi, dan suhu yang mendekati titik beku menjadi alasan mengapa para ahli mengira tidak ada makhluk yang mampu bertahan hidup di sana.


Namun, dogma lama tersebut kini resmi runtuh. 


Lewat sebuah ekspedisi mutakhir yang menembus kedalaman antara 6.000 hingga 10.890 meter di bawah permukaan laut, tim ilmuwan dari China berhasil menyingkap keberadaan sebuah ekosistem mikro yang kaya dan dinamis. 


Keberhasilan ini menjadi lompatan besar dalam memahami batas-batas kehidupan di Bumi.


Penemuan spektakuler ini dipimpin oleh para peneliti dari Institute of Deep-Sea Science and Engineering (IDSSE) di bawah naungan Chinese Academy of Sciences (CAS). 


Proyek besar ini berjalan sebagai bagian dari Global Hadal Exploration Program (GHEP).


Untuk mencapai wilayah yang belum terjamah manusia itu, tim peneliti mengandalkan Fendouzhe (atau Striver).


Kapal selam berawak canggih itu dirancang khusus untuk menampung tiga kru dan mampu menyelam hingga kedalaman lebih dari 10.000 meter. 


Sepanjang tahun 2020 hingga 2024, kapal selam ini sukses melakukan 98 penyelaman di tujuh wilayah parit terdalam dunia, termasuk Parit Mariana dan Parit Kermadec.


Saat lampu-lampu kapal selam menerangi dinding-dinding batu parit yang beku, para ilmuwan terperangah. Mereka melihat koloni makhluk hidup berukuran milimeter melekat erat di permukaan batu. 


Di wilayah faunal ini, tim mencatat ada 32 spesies dari enam filum yang berbeda, di mana sebagian besar di antaranya merupakan spesies yang benar-benar baru bagi dunia sains.


"Komponen yang paling tidak terduga adalah penemuan empat spesies baru berukuran sangat kecil (skala milimeter)," kata Dr. Peng Xiaotong, profesor dari IDSSE.


Spesies tersebut hidup dengan kepadatan sangat tinggi dan mendominasi kumpulan batuan keras di Parit Kermadec, Peng menjelaskan.


Di antara temuan tersebut, ilmuwan mengidentifikasi famili baru dari foraminifera berbilik tunggal (Plumettidae) dan famili baru dari lumut hewan atau bryozoa (Pierrellidae). 


Namun, penguasa utama di ekosistem ekstrem ini adalah sejenis foraminifera teraglutinasi, yang bentuk koloninya sekilas menyerupai hamparan bulu-bulu halus di atas batu.


Bentuk kehidupan mikro ini sangat bervariasi; ada yang tampak seperti benang, berbentuk tabung, hingga menyerupai kubah kecil. 


Mereka hidup dalam koloni yang sangat padat. Saking padatnya, dalam area batu berukuran sekepalan tangan saja (sekitar satu desimeter persegi), terdapat hingga 4.300 organisme yang hidup berdesakan.


Karena ukurannya yang super kecil dan strukturnya yang sangat sederhana, para ilmuwan sempat kesulitan mengklasifikasikan makhluk-makhluk ini selama bertahun-tahun. 


Identitas biologis mereka baru bisa dipastikan dengan akurat setelah tim peneliti melakukan analisis genetik dan metagenomik di laboratorium.


Selain menemukan spesies baru, ekspedisi ini juga mematahkan teori lama tentang cara makhluk laut dalam bertahan hidup. 


Sebelumnya, para ilmuwan menduga fauna di parit samudra bergantung pada kemosintesis.


Kemosintesis adalah proses pembuatan energi memanfaatkan bahan kimia berbahaya yang keluar dari lubang hidrotermal di dasar laut, mirip dengan cara hidup bakteri di sekitar gunung berapi bawah laut.


Namun, saat meneliti organ tubuh makhluk-makhluk mikro ini, ilmuwan menemukan butiran serbuk sari pinus yang telah tercerna sebagian. 


Temuan ini menjadi bukti kuat bahwa mereka adalah makhluk heterotrof alias "pemakan debu" organik yang jatuh dari permukaan laut, bukan pengolah zat kimia.


Topografi parit samudra yang berbentuk huruf V ternyata ikut membantu keberlangsungan ekosistem ini. 


Dinding parit yang curam berfungsi layaknya corong raksasa yang mengalirkan sisa-sisa materi organik dari atas ke bawah. 


Sementara itu, arus bawah laut yang kuat akan menyapu permukaan batu, membersihkannya dari tumpukan sedimen tebal.


Organisme mirip bulu batu ini dengan cerdik memilih tinggal di dinding batu yang vertikal. 


Posisi ini membuat mereka aman dari risiko tertimbun lumpur sedimen, sekaligus memudahkan mereka menangkap partikel nutrisi yang terbawa oleh arus air yang bergerak ke atas.


Menariknya, komunitas serupa juga terpantau di parit-parit laut dalam lain di seluruh dunia, seperti Parit Aleutian, Kuril-Kamchatka, Atacama, Puysegur, dan Mussau. 


Hal ini menandakan bahwa ekosistem unik tersebut kemungkinan besar tersebar luas di seluruh parit terdalam planet kita.


Secara ekologis, peran makhluk mikroskopis ini ternyata sangat vital. 


Foraminifera yang menetap di batu ini diperkirakan menyumbang antara 2 hingga 11 persen dari total karbon biomassa eukariota di zona hadal. 


Artinya, parit laut dalam bertindak sebagai penyerap karbon (carbon pool) penting yang membantu menstabilkan iklim Bumi.


Ekspedisi luar biasa ini juga berhasil memecahkan rekor dunia untuk penemuan makhluk hidup terdalam. 


Ilmuwan mencatat penemuan spesies bryozoa terdalam pada posisi 9.981 meter, serta polip ubur-ubur (scyphozoan polyps) pada kedalaman 9.982 meter di bawah permukaan laut.


Disadur dari Interesting Engineering - Chinese scientists discover 32 species living 5.6 miles beneath Pacific Ocean.




Post a Comment

أحدث أقدم