Ratusan ribu pencari kerja di Asia terjebak dalam jaringan penipuan lintas negara setelah tergiur tawaran pekerjaan bergaji tinggi yang ternyata palsu.
Ringkasan
- Peneliti menemukan pola perekrutan korban perdagangan manusia melalui iklan kerja palsu yang beredar di media sosial.
- Korban yang direkrut ke Myanmar, Laos, atau Kamboja sering dipaksa menjalankan operasi penipuan daring di kompleks yang dijaga ketat.
- Komunitas daring berbagi berbagai tanda bahaya untuk membantu masyarakat mengenali dan menghindari jebakan serupa.
MENCARI pekerjaan di luar negeri sering dianggap sebagai jalan menuju kehidupan yang lebih baik. Namun bagi banyak orang, mimpi tersebut justru berubah menjadi mimpi buruk.
Sebuah penelitian mengungkap, sindikat penipuan internasional memanfaatkan medsos untuk menjebak pencari kerja dan membawa mereka ke kompleks penipuan yang beroperasi di berbagai negara Asia Tenggara.
Dalam penelitian terbaru, tim peneliti dari lintas nefaea itu menganalisis unggahan di aplikasi media sosial China bernama RedNote.
Unggahan tersebut berasal dari korban penipuan maupun anggota keluarga mereka yang berusaha mencari bantuan.
Para peneliti mengumpulkan 158 unggahan yang relevan menggunakan tagar seperti "perdagangan manusia", "penipuan pekerjaan luar negeri", dan "pengalaman menjadi korban perdagangan manusia".
Hasilnya memberikan gambaran yang lebih jelas tentang bagaimana sindikat ini bekerja.
Temuan penelitian menunjukkan bahwa para perekrut biasanya membidik orang-orang dengan keterampilan yang berguna untuk operasi penipuan.
Misalnya, mereka yang menguasai bahasa asing atau memiliki kemampuan komunikasi yang baik.
Selain itu, kelompok yang rentan secara sosial juga menjadi sasaran empuk.
Anak-anak yang ditinggalkan orang tua bekerja di luar negeri, atau individu yang tidak memiliki jaringan dukungan sosial yang kuat, lebih mudah tergoda oleh tawaran pekerjaan yang tampak menjanjikan.
Korban biasanya dijanjikan pekerjaan bergaji tinggi dengan fasilitas menarik. Namun setelah tiba di negara tujuan seperti Myanmar, Laos, atau Kamboja, kenyataan yang mereka hadapi jauh berbeda.
Alih-alih bekerja di perusahaan resmi, mereka ditempatkan di kompleks penipuan yang dijaga ketat. Di sana mereka dipaksa bekerja berjam-jam setiap hari untuk menjalankan berbagai skema penipuan daring.
Salah satu modus yang umum dikenal adalah "pig-butchering scam", yaitu penipuan yang diawali dengan membangun hubungan emosional atau romantis dengan target melalui internet.
Setelah korban percaya, pelaku kemudian menawarkan investasi palsu yang akhirnya menguras seluruh dana korban.
Ironisnya, banyak pekerja yang awalnya merupakan korban perdagangan manusia kemudian dipaksa menjadi pelaku penipuan terhadap orang lain.
Kesaksian para korban mengungkap berbagai metode pengendalian yang digunakan sindikat.
Mereka sering menahan gaji korban sehingga korban tidak memiliki uang untuk melarikan diri. Dokumen perjalanan seperti paspor juga kerap disita.
Dalam beberapa kasus, sindikat menggunakan aplikasi pelacak lokasi seperti FindMy untuk mengawasi pergerakan pekerja.
Bahkan, laporan korban menunjukkan adanya ancaman fisik dan kekerasan terhadap mereka yang gagal memenuhi target atau mencoba kabur.
Tidak hanya itu, para pelaku juga memanfaatkan hubungan keluarga korban. Mereka meminta tebusan kepada anggota keluarga sebagai syarat pembebasan korban dari kompleks penipuan tersebut.
Penelitian ini juga menyoroti upaya komunitas pengguna RedNote dalam membantu mencegah perdagangan manusia berbasis penipuan kerja.
Para penyintas dan pengguna media sosial membagikan sejumlah "bendera merah" atau tanda bahaya yang perlu diwaspadai.
Beberapa di antaranya adalah:
- Tawaran perjalanan gratis ke luar negeri.
- Tiket pulang-pergi yang seluruh biayanya ditanggung.
- Gaji sangat tinggi untuk pekerjaan yang minim keterampilan.
- Perekrut terlalu fokus membicarakan keuntungan tanpa menunjukkan informasi perusahaan yang jelas.
- Lokasi kerja baru akan diberitahukan setelah calon pekerja tiba di negara tujuan.
Sebagai langkah pencegahan, masyarakat disarankan memeriksa legalitas perusahaan, meminta kontrak kerja lengkap, serta memastikan visa kerja yang digunakan sesuai dengan jenis pekerjaan yang ditawarkan.
Dampak sindikat ini tidak hanya dirasakan oleh para pekerja yang diperdagangkan, tetapi juga oleh masyarakat yang menjadi target penipuan mereka.
Karena itu, para peneliti turut mengembangkan cara untuk meningkatkan kesadaran publik terhadap modus penipuan.
Salah satu hasilnya adalah ROLESafe, sebuah sistem pembelajaran berbasis kecerdasan buatan yang memanfaatkan model bahasa besar atau LLM.
Sistem ini dirancang khusus untuk membantu orang lanjut usia mengenali berbagai bentuk penipuan daring.
ROLESafe menggunakan antarmuka yang menyerupai aplikasi pesan populer di China.
Pengguna dapat berperan sebagai pengamat, penolong korban, atau bahkan berinteraksi langsung dengan penipu virtual yang diperankan AI.
Dalam uji coba yang melibatkan 144 orang lanjut usia di China, peneliti menemukan bahwa peserta yang aktif berinteraksi dalam simulasi menunjukkan peningkatan pemahaman terhadap modus penipuan.
Itu bila dibandingkan mereka yang hanya mengamati percakapan.
Temuan ini menunjukkan, pendidikan berbasis simulasi dan kecerdasan buatan berpotensi menjadi alat penting untuk melindungi kelompok rentan dari ancaman penipuan digital yang terus berkembang.
Fenomena perdagangan manusia yang didorong oleh industri penipuan daring kini menjadi masalah global.
Kasus-kasus di Asia Tenggara menunjukkan bahwa kejahatan siber tidak lagi hanya terjadi di balik layar komputer, tetapi juga melibatkan eksploitasi manusia dalam skala besar.
Karena itu, kewaspadaan terhadap tawaran kerja yang terlalu bagus untuk menjadi kenyataan menjadi salah satu benteng pertahanan terpenting bagi para pencari kerja di era digital.
Ilmuwan yang terlibar dalam studi ini berasal dari Max Planck Institute for Security and Privacy, University of Edinburgh, Hong Kong University of Science and Technology, dan University of Kent.
Makalah mereka dipresentasikan pada konferensi ACM Conference on Human Factors in Computing Systems 2026 (CHI 2026).
Disadur dari Tech Xplore - Social media accounts uncover how fake jobs trap people in cross-border scam compounds.

إرسال تعليق