Membangun koloni manusia di Mars mungkin tidak hanya bergantung pada roket dari Bumi, tetapi juga pada asteroid yang ditambang di luar angkasa.
Ringkasan
- Ilmuwan menemukan skenario realistis untuk mengirim logam dari asteroid ke koloni manusia di Mars.
- Asteroid kaya logam dan es air bisa menjadi “tambang sekaligus SPBU” di luar angkasa.
- Teknologi saat ini dinilai sudah cukup dekat untuk memulai misi awal penambangan asteroid.
SELAMA ini, gagasan menambang asteroid sering terdengar seperti cerita film fiksi ilmiah.
Banyak orang mungkin langsung teringat film Armageddon, ketika Bruce Willis dan tim pengebor minyak diterbangkan ke luar angkasa demi menghancurkan asteroid raksasa.
Namun di balik dramatisasi Hollywood itu, para ilmuwan justru mulai serius memikirkan hal yang lebih praktis: bagaimana asteroid bisa membantu manusia bertahan hidup di Mars.
Para ilmuwan di École Polytechnique Fédérale de Lausanne (EPFL), Swiss, mencoba menghitung secara realistis apakah asteroid dapat menjadi sumber logam dan bahan bakar untuk koloni Mars di masa depan.
Masalah utama membangun koloni di Mars ternyata bukan cuma soal teknologi roket atau kemampuan hidup manusia di planet merah. Tantangan terbesarnya justru logistik.
Koloni permanen membutuhkan banyak sekali material. Bukan hanya makanan dan oksigen, tetapi juga besi, aluminium, baja, dan berbagai logam lain untuk membangun habitat, kendaraan, alat berat, hingga suku cadang.
Semua peralatan itu pasti akan rusak dan perlu diganti.
Masalahnya, mengirim barang dari Bumi ke Mars sangat mahal dan lambat. Sekali peluncuran roket bisa menghabiskan biaya puluhan juta pound sterling untuk setiap ton muatan.
Belum lagi perjalanan menuju Mars dapat memakan waktu enam hingga sembilan bulan, tergantung posisi orbit kedua planet.
Dengan rantai pasokan seperti itu, mustahil membangun koloni besar yang mandiri dalam jangka panjang. Di sinilah asteroid mulai menarik perhatian.
Tata Surya dipenuhi jutaan asteroid. Beberapa di antaranya termasuk asteroid tipe-M atau metallic asteroids, yang kaya kandungan besi, nikel, dan logam berharga lainnya.
Pada dasarnya, benda-benda ini adalah “gunung logam” yang melayang di angkasa.
Tim EPFL mencoba menjawab pertanyaan penting, apakah menambang asteroid dan mengirim hasilnya ke Mars bisa dilakukan secara efisien?
Untuk menjawabnya, mereka menggunakan simulasi komputer yang menguji ribuan kombinasi jalur distribusi.
Sistem itu menghitung kebutuhan energi perjalanan, jumlah logam yang mungkin diekstraksi, hingga bahan bakar yang diperlukan untuk pulang-pergi antariksa.
Bagian paling menarik dari penelitian ini adalah ide memanfaatkan asteroid tertentu sebagai sumber bahan bakar.
Tidak semua asteroid hanya berisi logam. Sebagian asteroid karbonan mengandung air es dan karbon dalam jumlah besar.
Jika material itu diproses dengan benar, airnya dapat dipecah menjadi hidrogen dan oksigen—dua komponen utama bahan bakar roket.
Artinya, wahana penambang tidak harus membawa seluruh bahan bakar dari Bumi. Mereka bisa “mengisi bensin” langsung di asteroid.
Konsep ini sangat penting karena bahan bakar selalu menjadi salah satu beban terbesar dalam misi luar angkasa. Semakin sedikit bahan bakar yang harus dibawa dari Bumi, semakin murah dan realistis sebuah misi.
Hasil penelitian menunjukkan ada beberapa asteroid yang cukup dekat dan bisa dijangkau menggunakan teknologi pesawat antariksa saat ini. Namun, pemilihan target menjadi faktor penentu.
Jika salah memilih asteroid, energi dan bahan bakar yang dihabiskan untuk perjalanan bisa lebih besar dibanding nilai logam yang berhasil dibawa ke Mars. Dengan kata lain, operasi itu malah menjadi rugi besar.
Penelitian ini memang belum berarti manusia siap membuka tambang luar angkasa besok pagi.
Masih ada banyak tantangan besar, mulai dari teknologi pengeboran di gravitasi rendah, otomatisasi robot, hingga perlindungan kru dari radiasi kosmik.
Namun yang membuat studi ini penting adalah kesimpulannya: secara matematis dan logistik, konsep tersebut ternyata memungkinkan.
Gagasan memanfaatkan sumber daya luar angkasa sebenarnya sudah lama dibahas oleh badan antariksa seperti NASA dan sejumlah perusahaan swasta seperti SpaceX.
NASA bahkan pernah menjalankan misi OSIRIS-REx yang berhasil mengambil sampel asteroid Bennu dan membawanya kembali ke Bumi pada 2023.
Misi itu memberi gambaran bahwa manusia mulai memiliki kemampuan teknis untuk berinteraksi langsung dengan asteroid.
Selain untuk Mars, penambangan asteroid juga dipandang penting bagi ekonomi luar angkasa masa depan. Beberapa asteroid diketahui mengandung logam langka bernilai tinggi seperti platinum dan kobalt.
Menurut studi lama dari Planetary Resources, satu asteroid kaya logam bahkan bisa bernilai miliaran dolar.
Meski begitu, banyak ahli mengingatkan bahwa tantangan ekonominya tetap sangat besar. Teknologi antariksa masih mahal, dan belum ada sistem industri luar angkasa yang benar-benar aktif hingga saat ini.
Tetapi jika manusia benar-benar ingin hidup di lebih dari satu planet, logistik harus berubah. Mars tidak bisa selamanya bergantung pada “kiriman paket” dari Bumi.
Dan mungkin, suatu hari nanti, batu-batu gelap yang melayang sunyi di antara planet justru akan menjadi fondasi peradaban manusia berikutnya.
Disadur dari Scitech Daily - Researchers Found a Surprisingly Realistic Way To Mine Asteroids for Mars.

إرسال تعليق