Bukan Cuek, Ini Alasan Anak Autis Sulit Menengok Saat Dipanggil

Anak dengan autisme ternyata bukan memiliki pendengaran yang buruk, melainkan memproses suara dengan cara berbeda dibanding anak lain.


Anak dengan autisme ternyata bukan memiliki pendengaran yang buruk, melainkan memproses suara dengan cara berbeda dibanding anak lain.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan

  • Anak autisme cenderung lebih peka terhadap variasi nada suara, tetapi lebih sulit memproses urutan bunyi dalam percakapan.
  • Penelitian menunjukkan otak autistik tidak “rusak”, melainkan memproses informasi sensorik dan bahasa dengan cara berbeda.
  • Temuan ini membantu menjelaskan mengapa sebagian anak autisme cepat membaca atau mengenali pola, tetapi terlambat berbicara.


PERNAHKAH kamu melihat anak dengan autisme yang tidak menengok sedikit pun saat namanya dipanggil, sampai-sampai orang tuanya mengira ia tuli? 


Uniknya, ketika dibawa ke dokter untuk tes pendengaran, hasil menunjukkan telinga si anak sehat walafiat. Bahkan, mereka sering kali sangat sensitif terhadap suara latar yang diabaikan orang lain.


Selama bertahun-tahun, banyak orang menganggap anak autisme mengalami “gangguan” dalam mendengar atau memahami suara. 


Namun penelitian terbaru dari Université de Montréal justru menunjukkan bahwa persoalannya bukan pada kemampuan mendengar, melainkan pada cara otak memprioritaskan informasi suara.


Penelitian yang dimuat dalam jurnal Autism Research itu dipimpin profesor psikiatri Laurent Mottron bersama peneliti pendidikan Luodi Yu dari Guangzhou University.


Mottron sendiri sudah lama dikenal sebagai peneliti yang melihat autisme bukan sebagai “kekurangan”, melainkan variasi cara manusia memproses dunia sosial dan sensorik. 


Ia bekerja di Hôpital en santé mentale Rivière-des-Prairies dan banyak meneliti bagaimana anak autisme belajar bahasa.


Menurut Mottron, tanda awal autisme pada anak sering kali berkaitan dengan respons terhadap suara. 


Banyak orang tua merasa khawatir karena anak tampak tidak menoleh ketika dipanggil. Tidak sedikit yang awalnya menduga anak mengalami gangguan pendengaran.


Padahal, hasil tes medis biasanya menunjukkan pendengaran mereka normal—bahkan terkadang lebih sensitif dibanding anak lain.


“Anak-anak ini sebenarnya mendengar dengan sangat baik, tetapi tampaknya kurang tertarik pada suara sosial seperti suara manusia,” jelas Mottron.


Sebaliknya, beberapa bunyi tertentu justru terasa sangat menyiksa bagi mereka. Contoh klasiknya adalah suara pengering tangan otomatis di toilet umum atau suara siraman toilet.


Penelitian sebelumnya juga menemukan bahwa kemampuan perfect pitch, yakni kemampuan mengenali nada musik tanpa alat bantu, jauh lebih umum ditemukan pada individu autisme dibanding populasi umum.


Beberapa studi bahkan menyebut kemunculannya bisa sampai 100 kali lebih sering.


Sekitar dua dekade lalu, Mottron dan koleganya, Isabelle Peretz, juga menemukan bahwa individu autisme lebih unggul dalam membedakan frekuensi suara. 


Menariknya, kemampuan ini banyak ditemukan pada mereka yang sempat mengalami keterlambatan bahasa saat kecil.


Temuan-temuan tersebut membuat Mottron menduga bahwa otak autistik memiliki prioritas berbeda dalam memproses informasi suara.


Dalam studi terbaru ini, para peneliti meneliti dua aspek utama pendengaran.


Pertama adalah spectral processing, yakni kemampuan membedakan frekuensi atau tinggi-rendah nada suara. Ini berkaitan dengan kemampuan mengenali warna suara atau pitch.


Kedua adalah temporal processing, yaitu kemampuan otak menyusun suara berdasarkan urutan waktu. Kemampuan ini sangat penting untuk memahami ritme bicara, struktur kalimat, dan sintaks bahasa.


Peneliti membandingkan anak autisme dengan kemampuan bicara minimal dan anak non-autisme dalam dua jenis tes.


Tes pertama meminta peserta mendeteksi perubahan frekuensi suara—misalnya kapan nada naik atau turun. Tes kedua meminta mereka mendeteksi jeda sangat singkat di tengah suara yang terus-menerus diputar.


Hasilnya cukup menarik.


Anak autisme ternyata jauh lebih baik dalam mendeteksi perubahan frekuensi suara. Namun mereka lebih sulit mendeteksi jeda singkat dalam rangkaian suara.


Artinya, mereka unggul dalam mengenali detail nada, tetapi kesulitan memproses urutan bunyi yang cepat seperti percakapan manusia.


Menurut Mottron, temuan seperti ini jarang ditemukan dalam riset autisme.


“Biasanya penelitian hanya menyoroti kekurangan. Tetapi di sini ada situasi unik: pada satu tugas mereka lebih unggul, sementara pada tugas lain yang masih berkaitan mereka justru lebih kesulitan,” katanya.


Penelitian ini juga membantu menjelaskan fenomena yang selama ini dianggap paradoks.


Sebagian anak autisme mampu cepat mengenali huruf, angka, atau bahkan membaca dalam bahasa lain sejak usia dini. Namun pada saat yang sama mereka mengalami keterlambatan berbicara.


Menurut Mottron, otak autistik tampaknya lebih tertarik pada informasi yang stabil dan konsisten, seperti simbol visual atau nada tetap, dibanding rangkaian suara percakapan yang berubah sangat cepat.


Karena itu, mengenali pola huruf atau angka bisa terasa lebih mudah dibanding memahami sintaks dan ritme bahasa lisan.


Hal ini juga berkaitan dengan kecenderungan individu autisme yang sangat peka terhadap pola dan keteraturan. Mereka sering lebih cepat menyadari kesamaan visual, perubahan kecil pada suara, atau perubahan rutinitas sehari-hari.


Penelitian lain dari National Autistic Society juga menyebut banyak individu autisme mengalami sensitivitas sensorik yang unik, baik terhadap cahaya, suara, sentuhan, maupun tekstur tertentu. 


Respons sensorik tersebut bukan sekadar “gangguan”, melainkan bagian dari cara otak mereka memproses lingkungan.


Pada akhirnya, Mottron menekankan bahwa otak autistik memiliki struktur dasar yang sama dengan otak non-autistik. Yang berbeda hanyalah cara kerjanya.


Ia mengibaratkannya seperti mobil yang berjalan normal, tetapi bergerak mundur alih-alih maju. “Tidak ada yang rusak. Sistemnya hanya bekerja dengan cara berbeda,” ujarnya.


Disadur dari Medical Xpress - How children with autism hear: Not better or worse, just differently




Post a Comment

أحدث أقدم