Ilmuwan Mulai Khawatir, AI Itu Pintar tapi “Tak Punya Tubuh”

Kecerdasan buatan makin canggih, tetapi peneliti memperingatkan adanya “kesenjangan tubuh” yang membuat AI belum benar-benar memahami pengalaman manusia.


Kecerdasan buatan makin canggih, tetapi peneliti memperingatkan adanya “kesenjangan tubuh” yang membuat AI belum benar-benar memahami pengalaman manusia.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan

  • AI memiliki body gap, mampu meniru manusia, tetapi tidak memiliki pengalaman fisik dan internal seperti manusia.
  • Ketiadaan tubuh membuat AI kurang stabil, rentan salah, dan berpotensi berisiko dalam situasi penting.
  • Peneliti mengusulkan pendekatan baru agar AI memiliki embodiment eksternal dan internal untuk meningkatkan pemahaman dan keamanan.


PERKEMBANGAN kecerdasan buatan (AI) kerap digambarkan mendekati titik singularity, yakni momen ketika mesin bisa menyaingi atau melampaui manusia. 


Namun, di balik kemajuan itu, para peneliti dari UCLA Health mengingatkan adanya celah mendasar yang disebut “body gap” atau kesenjangan tubuh. 


Singkatnya, AI bisa menjelaskan pengalaman manusia, tetapi tidak benar-benar “merasakannya”.


Konsep ini diangkat dalam studi terbaru dari tim di David Geffen School of Medicine


Menurut mereka, kecerdasan manusia dibentuk oleh tubuh—oleh pengalaman fisik, emosi, dan kondisi biologis yang terus memengaruhi cara kita berpikir dan mengambil keputusan.


Salah satu penulis studi, Akila Kadambi, menegaskan bahwa AI saat ini memang bisa meniru bahasa manusia dengan sangat meyakinkan. 


Namun, ia mengingatkan, simulasi bukanlah pengalaman. AI tidak memiliki tubuh, sehingga tidak memiliki “akar” pengalaman yang sama seperti manusia.


Para peneliti menjelaskan bahwa ada dua jenis perwujudan (embodiment) yang penting dalam kecerdasan manusia:

  • Embodiment eksternal: kemampuan merasakan dan berinteraksi dengan dunia (melihat, menyentuh, bergerak).
  • Embodiment internal: kesadaran akan kondisi tubuh sendiri, seperti lelah, stres, ragu, atau lapar.


Manusia secara konstan menggabungkan keduanya. 


Misalnya, saat kita diminta mengambil garam di meja, tindakan sederhana itu melibatkan banyak hal: persepsi jarak, pengalaman menyentuh benda, hingga konteks sosial. 


Semua itu membentuk respons yang tampak “alami”.


Sebaliknya, AI hanya memproses input dan menghasilkan output, tanpa benar-benar memahami konteks fisik maupun kondisi internal. Ia tidak pernah merasa lelah, tidak pernah ragu, dan tidak punya naluri bertahan hidup.


Kadambi menjelaskan bahwa model AI modern bisa menghasilkan kalimat yang terdengar sangat manusiawi. Bahkan, dalam banyak kasus, AI tampak seperti benar-benar memahami situasi.


Namun, itu hanyalah ilusi linguistik. AI tidak memiliki pengalaman hidup yang mendasari kata-kata tersebut. 


Ia tidak pernah “merasakan” panas, takut, atau canggung. Ini yang membuat para peneliti menyebut adanya kesenjangan antara simulasi dan realitas.


Dalam studi tersebut, peneliti menggunakan eksperimen point-light display, visualisasi sederhana berupa titik-titik cahaya yang mewakili gerakan manusia.


Manusia bisa dengan mudah mengenali pola ini sebagai gerakan tubuh. Namun, beberapa sistem AI justru gagal mengidentifikasinya. Mereka menganggapnya sebagai bentuk acak atau bahkan fenomena astronomi.


Ketika pola tersebut sedikit diubah, performa AI semakin menurun. Ini menunjukkan, pemahaman AI terhadap dunia masih rapuh dan tidak stabil, berbeda dengan manusia yang mengandalkan pengalaman tubuh untuk menafsirkan informasi.


Menurut penulis senior Marco Iacoboni, keterbatasan ini bukan sekadar isu teoretis. Ini juga menyangkut keamanan.


AI saat ini tidak memiliki “biaya internal” atau mekanisme pengendali diri. Artinya, tidak ada dorongan alami untuk:

  • Menghindari kesalahan berlebihan
  • Menahan diri saat tidak yakin
  • Menolak manipulasi


Manusia, sebaliknya, punya sistem biologis yang otomatis memberi sinyal, yakni rasa ragu, takut, atau lelah. Semua itu berfungsi sebagai “rem alami”.


AI tidak punya rem semacam itu.


Untuk mengatasi masalah ini, para peneliti mengusulkan kerangka dual-embodiment. Ide dasarnya adalah:

  • Menghubungkan AI lebih erat dengan dunia nyata (melalui sensor, robotika, dll.)
  • Menambahkan semacam “proses internal” yang meniru refleksi diri atau kesadaran kondisi


Selain itu, mereka juga menyarankan cara baru untuk mengevaluasi AI. Bukan hanya melihat apakah AI bisa menyelesaikan tugas, tetapi juga apakah ia:

  • Stabil dalam kondisi tidak pasti
  • Mampu mengatur dirinya sendiri
  • Tidak mudah “tertipu” oleh input yang aneh


Gagasan bahwa pikiran bergantung pada tubuh sebenarnya bukan hal baru. Dalam bidang Cognitive Science, teori embodied cognition sudah lama menyatakan bahwa pikiran manusia tidak bisa dipisahkan dari tubuhnya.


Bahkan, penelitian dalam Neuroscience menunjukkan bahwa emosi dan sinyal tubuh (seperti detak jantung atau hormon stres) berperan besar dalam pengambilan keputusan.


Dengan kata lain, untuk benar-benar “berpikir seperti manusia”, mungkin AI tidak cukup hanya diberi data, ia juga butuh sesuatu yang menyerupai tubuh.


Disadur dari The Debrief The Body Gap: Researchers Warn AI Lacks the Physical Grounding That Shapes Human Thought




Post a Comment

أحدث أقدم